Jejak Serumpun di Kampung Purun

waktu baca 6 menit
Minggu, 26 Jul 2026 00:38 385 Banjarbaru Emas 2

Dari Rawa Gambut Banjarbaru ke Selangor, Ketika Anyaman Purun Menjadi Jembatan Budaya dan Membuka Jalan ke Pasar Malaysia

 

BANJARBARUEMAS.COM – Pagi di Kampung Purun selalu dimulai dengan irama yang sama. Jemari para perempuan terampil menganyam helaian purun di teras rumah, sementara hamparan rawa gambut yang mengelilingi kampung menjadi pengingat bahwa seluruh karya itu berawal dari tanaman liar yang tumbuh alami.

Namun, Sabtu (25/7/2026), suasana di Kampung Purun, Kelurahan Palam, Kecamatan Cempaka, Kota Banjarbaru, terasa sedikit berbeda.

Sejumlah kendaraan memasuki kawasan kampung wisata yang telah menjadi ikon ekonomi kreatif Banjarbaru itu. Dari dalam kendaraan turun 16 orang tamu dari Sungai Besar, Negeri Selangor, Malaysia. Mereka dipimpin Ayu, Kepala Kampung Sungai Besar.

Mereka datang bukan sekadar berwisata.

Mereka ingin melihat langsung bagaimana masyarakat Banjarbaru mengubah tanaman purun menjadi produk bernilai tinggi, mempelajari sistem pemberdayaan UMKM, sekaligus menjajaki peluang kerja sama agar kerajinan purun dapat dipasarkan ke Malaysia.

Kunjungan tersebut menjadi salah satu momentum penting bagi Kampung Purun.
Untuk pertama kalinya dalam beberapa waktu terakhir, rombongan dari luar negeri datang dengan misi yang bukan hanya mengenal budaya, tetapi juga membuka peluang ekonomi bagi masyarakat.

Menyusuri Kampung yang Hidup Bersama Anyaman

Perjalanan rombongan dimulai dengan menyusuri gang-gang kecil Kampung Purun.

Rumah-rumah sederhana berdiri berdampingan dengan galeri kerajinan. Hampir di setiap sudut kampung, wisatawan dapat menyaksikan aktivitas masyarakat yang menganyam purun sambil berbincang dengan tetangga atau menyambut tamu yang datang.

Tidak ada batas tegas antara rumah dan tempat produksi.

Seluruh kampung seolah menjadi satu galeri besar yang hidup.

Salah satu lokasi yang dikunjungi rombongan adalah Galeri Purun Al-Firdaus, salah satu UMKM yang telah menjadi ikon kerajinan purun di Banjarbaru.

Galeri tersebut berakar kuat di kawasan yang kini dikenal luas sebagai Kampung Purun, tepatnya di Jalan Purnawirawan, RT 005/RW 002, Kelurahan Palam, Kecamatan Cempaka, Kota Banjarbaru.

Di tempat inilah para tamu dari Selangor disambut hamparan ratusan produk anyaman yang tertata rapi.

Tas fesyen, dompet, topi, kotak tisu, baki, tempat pot, keranjang hingga berbagai produk dekorasi rumah memenuhi ruang galeri.

Sulit membayangkan bahwa seluruh produk tersebut berasal dari rumput rawa yang dahulu hanya dimanfaatkan sebagai tikar sederhana.

Dari Rumput Rawa Menjadi Produk Berkelas

Rombongan tidak hanya melihat hasil akhirnya.

Mereka diajak mengikuti perjalanan sebatang purun sejak tumbuh di rawa gambut hingga berubah menjadi karya seni.

Para pengrajin menjelaskan bagaimana purun dipanen dari lahan rawa, dijemur hingga kering, dipukul agar batangnya pipih, diberi warna, kemudian dianyam satu per satu menjadi berbagai produk.

Beberapa anggota rombongan bahkan mencoba menganyam langsung.

Suasana menjadi cair ketika hasil anyaman mereka belum serapi karya para ibu pengrajin.

Namun justru pengalaman sederhana itu menjadi daya tarik utama Kampung Purun.

Wisatawan tidak hanya membeli produk.

Mereka ikut merasakan cerita di balik setiap anyaman.

Membuka Jalan ke Pasar Malaysia

Di sela kunjungan, Kepala Kampung Sungai Besar, Ayu, berdialog cukup lama dengan para pelaku UMKM.

Ia menanyakan kapasitas produksi, proses pengerjaan, hingga kemungkinan pengembangan desain yang sesuai dengan selera konsumen Malaysia.

Menurutnya, produk-produk Kampung Purun memiliki kualitas yang sangat baik dan memiliki peluang untuk diterima pasar Malaysia.

“Kami datang bukan hanya untuk melihat. Kami juga ingin membuka peluang agar produk-produk purun dari Banjarbaru ini semakin dikenal di Malaysia. Kualitasnya bagus, memiliki identitas budaya yang kuat, dan menurut kami berpotensi memasuki pasar Malaysia,” ujarnya.

Pernyataan tersebut disambut antusias para pengrajin.

Selama ini mereka terus berinovasi menghasilkan produk yang tidak hanya mempertahankan motif tradisional, tetapi juga mengikuti tren fesyen dan kebutuhan pasar modern.

Lebih dari Sekadar Kunjungan

Bagi Lurah Palam Zulhulaifah, kedatangan rombongan dari Selangor memiliki arti yang jauh lebih besar dibanding sekadar kunjungan wisata.

Menurutnya, kehadiran tamu dari luar negeri membuktikan bahwa Kampung Purun terus dikenal sebagai destinasi wisata edukasi sekaligus sentra ekonomi kreatif yang memiliki daya tarik internasional.

“Alhamdulillah, kunjungan ini memberikan dampak yang sangat positif. Selain dapat membantu pemasaran produk purun, juga memperkuat citra Kampung Purun sebagai destinasi wisata edukasi. Semakin banyak kunjungan, termasuk dari luar negeri, semakin memperkuat posisi Kampung Purun sebagai tujuan wisata budaya dan kerajinan yang memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat Palam,” kata Zulhulaifah.

Menurutnya, kerja sama semacam ini diharapkan mampu meningkatkan kesejahteraan para pelaku UMKM sekaligus memperluas jaringan pemasaran produk lokal.

Kampung yang Mengajarkan Banyak Hal

Daya tarik Kampung Purun sesungguhnya bukan hanya terletak pada produk yang dijual.

Kampung ini menawarkan pengalaman utuh.

Wisatawan dapat belajar tentang budaya Banjar, memahami ekosistem rawa gambut, melihat proses produksi secara langsung, hingga menikmati hasil karya masyarakat.

Konsep Community Based Tourism atau pariwisata berbasis masyarakat menjadi kekuatan utama kawasan ini.

Masyarakat bukan sekadar menjadi objek wisata, tetapi pelaku utama yang memperoleh manfaat ekonomi dari setiap kunjungan.

Rumah-rumah warga berubah menjadi galeri terbuka.

Teras rumah menjadi ruang belajar.

Sementara aktivitas menganyam menjadi atraksi wisata yang berlangsung secara alami.

Kampung Purun juga merupakan bagian dari Geopark Meratus, sehingga memiliki nilai lebih sebagai destinasi geowisata. Hamparan rawa gambut yang menjadi habitat tanaman purun menghadirkan lanskap khas Kalimantan Selatan yang tidak banyak ditemukan di daerah lain.

Ketika Dua Kampung Serumpun Bertemu

Ada alasan mengapa suasana kunjungan itu terasa begitu akrab.

Sungai Besar di Daerah Sabak Bernam, Selangor, merupakan salah satu kawasan yang dihuni banyak keturunan Banjar.

Pada akhir abad ke-19, masyarakat Banjar bermigrasi ke Semenanjung Malaya untuk membuka lahan pertanian.

Mereka membawa bahasa, tradisi, kuliner, hingga budaya hidup di lahan basah.

Di Sungai Besar, keterampilan menganyam tanaman rawa seperti mengkuang, pandan, maupun bemban masih dijumpai hingga sekarang.

Kesamaan budaya itulah yang membuat para tamu dari Selangor merasa tidak asing ketika melihat masyarakat Kampung Purun menganyam purun.

Mereka seperti sedang menyaksikan kembali warisan leluhur yang masih hidup di tanah asalnya.

Mereka juga berbagi cerita tentang budaya Banjar, kehidupan masyarakat rawa, hingga tradisi gotong royong yang masih lestari di kedua wilayah.

Melanjutkan Jalan yang Telah Dirintis

Kunjungan ini juga sejalan dengan langkah Pemerintah Kota Banjarbaru dalam membuka akses pasar internasional bagi pelaku UMKM.

Sebelumnya, pada Oktober 2025, Wali Kota Banjarbaru Hj. Erna Lisa Halaby mengundang Minister Counsellor/Ekonomi KBRI Kuala Lumpur untuk berdiskusi bersama pelaku UMKM dan ekonomi kreatif Banjarbaru.

Pertemuan tersebut menjadi bagian dari strategi memperluas jejaring ekspor produk lokal ke Malaysia.

Berbagai produk unggulan Banjarbaru dipamerkan sebagai bukti bahwa kualitas UMKM daerah mampu bersaing di pasar internasional.

Kunjungan delegasi Sungai Besar kali ini menjadi kelanjutan nyata dari upaya tersebut.

Apa yang sebelumnya dibangun melalui diplomasi ekonomi pemerintah, kini mulai diterjemahkan dalam bentuk kunjungan langsung calon mitra dan komunitas dari Malaysia ke sentra-sentra produksi.

Sebatang Purun, Sebuah Harapan

Di Kampung Purun, sebatang rumput rawa ternyata mampu menghubungkan banyak hal.

Ia menghubungkan alam dengan kreativitas.

Menghubungkan tradisi dengan inovasi.

Menghubungkan masyarakat Banjarbaru dengan saudara serumpun di Malaysia.

Dan kini, purun juga mulai menghubungkan para pengrajin lokal dengan peluang pasar internasional.

Sabtu itu, rombongan dari Selangor memang datang sebagai tamu.

Namun ketika mereka meninggalkan Kampung Purun, yang mereka bawa bukan hanya tas anyaman atau cendera mata.

Mereka membawa cerita tentang sebuah kampung kecil di tepian rawa gambut yang berhasil membuktikan bahwa warisan budaya dapat menjadi kekuatan ekonomi, sekaligus menjadi jembatan persahabatan antarbangsa.
Jika peluang kerja sama pemasaran yang mulai dirintis ini dapat diwujudkan, maka kunjungan tersebut akan dikenang bukan hanya sebagai agenda wisata, melainkan sebagai awal perjalanan anyaman purun Banjarbaru menembus pasar Malaysia, berangkat dari sebuah kampung sederhana yang tetap setia menjaga akar budayanya.(be)

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

LAINNYA