Blog

  • Dari Lingkungan Lansia, Gerakan Pilah Sampah Tumbuh di Kelurahan Sungai Besar

    Dari Lingkungan Lansia, Gerakan Pilah Sampah Tumbuh di Kelurahan Sungai Besar

    BANJARBARUEMAS.COM — Semangat mengelola sampah justru tumbuh dari lingkungan yang mayoritas dihuni warga lanjut usia di RT 08 Kelurahan Sungai Besar, Kecamatan Banjarbaru Selatan. Berawal dari kunjungan lurah Sungai Besar, warga kini bergerak memilah sampah dari rumah hingga membangun sistem swadaya berbasis komposter dan bank sampah.

    Program bertajuk “Berkah” (Bersedekah Sampah) ini mendorong warga untuk memulai dari langkah sederhana, yakni memilah sampah sejak dari rumah. Sampah organik dikumpulkan untuk diolah dalam tong komposter, sementara sampah anorganik disalurkan ke bank sampah untuk kemudian dimanfaatkan, bahkan disedekahkan.

    Lurah Sungai Besar, Anindya Destriana, mengatakan, gerakan ini berangkat dari semangat Program Kilau Emas Banjarbaru yang mendorong partisipasi aktif masyarakat.

    “Program ini berawal dari semangat Kilau Emas (Kelola dan Pilah Sampah Untuk Banjarbaru Emas). Warga sangat antusias untuk turut berperan aktif, tidak hanya secara materi, tetapi juga dengan menjadikan sampah sebagai jalan sedekah,” ujar Anindya.

    Ia menjelaskan, pelaksanaan program mulai berjalan pekan ini dengan skema swadaya warga. Tong komposter mulai disiapkan, sementara sampah anorganik sudah mulai disetorkan ke bank sampah.

    “Swadaya pembelian tong komposter mulai dilakukan. Warga juga mulai menyetorkan sampah anorganik ke bank sampah, dan hasilnya langsung disedekahkan kepada pengelola sampah di lingkungan,” katanya.

    Menurut Anindya, tujuan utama dari gerakan ini adalah menciptakan lingkungan yang bersih sekaligus memberi manfaat sosial.

    “Kami ingin menciptakan lingkungan yang bersih, sampah yang terpilah, sekaligus membawa berkah bagi para pengelola sampah di lingkungan,” ujarnya.

    Respons warga, lanjut dia, terbilang cepat dan melampaui ekspektasi. Sejak pertama kali diperkenalkan, warga langsung bergerak dan bahkan rela mengeluarkan biaya pribadi untuk mendukung program.

    “Respon warga sangat luar biasa. Mereka langsung bergerak dan berhasil mengumpulkan banyak sampah. Bahkan warga secara swadaya membeli perlengkapan untuk mendukung kegiatan ini,” kata Anindya.

    Di tingkat lingkungan, Ketua RT 08 Kelurahan Sungai Besar, H. Murdiono, menyebut program ini dijalankan secara bertahap dengan melibatkan seluruh elemen warga.

    “Warga kami mayoritas sudah pensiunan, mulai dari mantan perwira, tenaga kesehatan, hingga dosen. Tapi justru mereka yang paling aktif dan kompak menjalankan program ini,” ujar Murdiono.

    Ia menambahkan, sistem pengumpulan sampah plastik dilakukan secara rutin setiap pekan.

    “Saat ini warga sudah mulai memilah sampah plastik dari rumah. Setiap Sabtu pagi, pemuda dan petugas kami mengambil sampah tersebut untuk dikumpulkan,” katanya.

    Selain itu, pengolahan sampah organik juga tengah dipersiapkan dengan penempatan komposter di beberapa titik lingkungan.

    “Semua ini murni swadaya warga, mulai dari penyediaan ember organik hingga rencana penempatan komposter di beberapa titik lingkungan,” ujarnya.

    Menariknya, mayoritas warga di lingkungan tersebut merupakan kalangan pensiunan dan profesional, termasuk mantan aparat, tenaga kesehatan, hingga akademisi. Meski telah memasuki usia lanjut, tingkat partisipasi mereka justru tinggi.

    Di tengah usia yang tak lagi muda, para warga menunjukkan bahwa kepedulian terhadap lingkungan tidak mengenal kata pensiun.

    Anindya berharap, gerakan ini dapat menjadi contoh bagi wilayah lain, terutama dalam membangun kesadaran kolektif masyarakat.

    “Ini bisa menjadi contoh. Meskipun mayoritas warga adalah lansia, semangat mereka tidak surut. Justru ini bisa menginspirasi lingkungan lain, terutama generasi muda, untuk memiliki pola pikir yang baik dalam mengelola sampah,” ujarnya.(be)

  • Dinsos Dorong Lembaga Masyarakat Miliki Kelengkapan Badan Hukum dan Bersinergi dengan Pemerintah

    Dinsos Dorong Lembaga Masyarakat Miliki Kelengkapan Badan Hukum dan Bersinergi dengan Pemerintah

    BANJARBARUEMAS.COM – Pemerintah Kota Banjarbaru melalui Dinas Sosial memastikan setiap kelembagaan masyarakat yang ada di Banjarbaru berjalan sesuai aturan baik regulasi maupun secara hukum, untuk itu Bidang Pemberdayaan Sosial turut menjalankan program pemberdayaan kelembagaan masyarakat, baik yang berbadan hukum maupun tidak.

    Kabid Pemberdayaan Sosial, Dinsos Banjarbaru Zaprany mengatakan berbagai lembaga sosial yang fokus pada pemberdayaan masyarakat terus didorong untuk berperan aktif, termasuk Lembaga Kesejahteraan Sosial (LKS) seperti Panti Asuhan dan lembaga yang fokus pada Anak Yatim.

    “Saat ini tercatat ada 17 LKS yang beroperasi, salah satunya Rumah Yatim di Jalan A Yani. Selain itu, organisasi seperti Karang Taruna, Taruna Siaga Bencana (Tagana), serta PSM yang berada di bawah naungan Ikatan Pekerja Sosial Masyarakat (IPSM) juga turut berkontribusi aktif dan tersebar di seluruh kecamatan,” terangnya.

    Sebagai mitra strategis Dinas Sosial, menurutnya semua lembaga tersebut memiliki kegiatan yang berbeda dalam menangani persoalan masyarakat.

    “Sebut saja PSM menangani pengaduan dan laporan permasalahan sosial di masyarakat. Salah satu contoh nyata adalah penanganan kasus orang terlantar yang tidak memiliki keluarga atau pihak yang mengurus,”ucapnya.

    Kemudian untuk Lembaga seperti Rumah Anak Yatim atau Pantia asuhan pihaknya selalu mendorong untuk memiliki badan hukum.

    “Kami selalu memberikan pendampingan secara administrasi agar lembaga tersebut berbadan hukum, mengingat mereka mengelola dana umat,” jelasnya.

    Disis lain, untuk urusan kebencanaan Dinsos juga bersinergi dengan Tagana serta Karang Taruna yang juga turut aktif setiap kegiatan Dinas Sosial.

    “Semua lembaga masyarakat selalu memberikan support yang aktif untuk mensukseskan program-program pemerintah.Semua ini berkat kedekatan dan komunikasi kami yang selalu terjaga dan mempunyai tujuan yang sama untuk Banjarbaru,” pungkasnya.(be)

  • Satu Anak, Satu Masa Depan yang Diselamatkan

    Satu Anak, Satu Masa Depan yang Diselamatkan

    BANJARBARUEMAS.COM – Di Kelurahan Guntung Paikat, kerja sosial tumbuh dari kepekaan, dari kemampuan membaca satu persoalan kecil, lalu memilih untuk tidak membiarkannya lewat begitu saja.

    Nama anak itu Riski.

    Kisahnya datang dari sebuah pesan singkat yang diterima Lurah Reza.
    Tentang seorang anak yang berhenti sekolah, membantu orang tuanya berjualan kerupuk keliling. Sebuah cerita yang, di banyak tempat, mungkin akan berlalu sebagai kabar biasa. Namun di Guntung Paikat, kabar itu ditindaklanjuti.

    Tim kelurahan bergerak mencari alamatnya.
    Tidak berhenti sampai menemukan, Riski dan orang tuanya kemudian dihadirkan ke kantor kelurahan. Pertemuan itu berlangsung tanpa tekanan, tanpa bahasa yang menggurui. Hanya percakapan pelan tentang masa depan, tentang pilihan yang sempat terhenti.

    Di ruang sederhana itu, Lurah Guntung Paikat, Reza Pahlevi, tidak berdiri sebagai pejabat. Ia duduk sebagai penghubung, menyatukan realitas ekonomi keluarga dengan hak seorang anak untuk tetap belajar.

    “Pemimpin yang bijak tidak selalu benar, tetapi selalu mau belajar. Pemimpin sejati hadir bukan untuk dilayani, tetapi untuk memberdayakan dan menguatkan dalam melayani.”

    Apa yang ia ucapkan, terlihat dalam apa yang ia kerjakan.

    Melalui LUMRAH (Lurah Menyapa Dengan Ramah), pendekatan dilakukan tanpa jarak. Bukan sekadar mendata, tetapi mendatangi. Bukan sekadar mencatat, tetapi memahami.
    Bersama kader PKK, Bhabinkamtibmas, ketua RT, dan perangkat kelurahan, mereka datang ke rumah Riski, melihat langsung, mendengar langsung, memastikan tidak ada yang terlewat.

    Di sana, kenyataan menjadi lebih jelas.
    Riski berhenti sekolah sejak kelas 4 SD. Ia masih bisa membaca, tetapi mulai kehilangan kemampuan menulis. Di usianya, ia sudah ikut menanggung beban keluarga.

    Namun yang lebih sunyi dari itu adalah satu hal lain: keluarganya belum tercatat dalam sistem.

    Mereka belum masuk dalam Data Tunggal Sosial dan Ekonomi Nasional (DTSEN), pintu masuk bagi berbagai bantuan sosial. Keluarga ini merupakan pendatang dari Banjarmasin, yang sempat tidak menyelesaikan proses administrasi saat berpindah.

    Bagi banyak orang, itu mungkin alasan untuk menunda.

    Di Guntung Paikat, itu menjadi alasan untuk bergerak lebih cepat.

    Data langsung dikumpulkan. Diverifikasi. Diusulkan. Tidak ada jeda yang dibiarkan terlalu lama.

    Di saat yang sama, kebutuhan paling dasar pun tidak diabaikan. Riski tidak memiliki sepatu. Tidak memiliki pakaian sekolah. Hal-hal kecil yang sering kali justru menjadi penghalang terbesar. Semua itu dipenuhi, sebagian dari lurah, sebagian dari gerakan PKK.

    Lalu pendampingan berlanjut.

    Riski tidak hanya diminta kembali sekolah. Ia diantar. Didaftarkan. Dipastikan siap. Bahkan ketika pilihan sekolah harus disesuaikan dengan keinginan keluarga yang menginginkan lokasi dekat rumah, kelurahan tetap mencari jalan.

    Pilihan akhirnya jatuh pada Sanggar Kegiatan Belajar (SKB) di sekitar Guntung Paikat. Di sana, Riski akan melanjutkan pendidikan setara kelas 6 SD.

    Jika tidak ada perubahan, Juni ini ia kembali belajar.

    Sederhana. Tetapi tidak ringan.

    Karena yang dihadapi bukan hanya soal sekolah, melainkan soal keadaan, kemiskinan, keterbatasan, dan sistem yang sempat tidak menjangkau.

    Di titik itu, kerja sosial menemukan maknanya.
    Bukan pada seberapa banyak program dijalankan, tetapi pada seberapa jauh satu persoalan diikuti sampai tuntas.

    Dari satu pesan singkat, menjadi satu gerakan.

    Dari satu anak yang sempat berhenti, menjadi satu masa depan yang diselamatkan.

    Dan di antara semua itu, kepemimpinan tidak berdiri di depan untuk terlihat.

    Ia berjalan di tengah, menyapa, mendengar, dan memastikan tidak ada yang tertinggal.(be)

  • Dari Sampah Jadi Berkah: MARKISSA Hidupkan Solidaritas, Bantu Lansia hingga Anak Pejuang Kanker

    Dari Sampah Jadi Berkah: MARKISSA Hidupkan Solidaritas, Bantu Lansia hingga Anak Pejuang Kanker

    BANJARBARUEMAS.COM — Program Jumat Berkah Mari Kita Sedekah Sampah (MARKISSA) di Kelurahan Syamsudin Noor, Kecamatan Landasan Ulin, pada Jumat, 1 Mei 2026, kembali menunjukkan peran nyata dalam membantu warga kurang mampu. Bantuan berupa beras hasil pengelolaan sedekah sampah bulan April disalurkan kepada delapan penerima manfaat, termasuk lansia, pelaku usaha kecil, penyandang disabilitas, hingga anak penderita kanker tulang.

    Kegiatan yang berlangsung di wilayah RW 07 ini dihadiri langsung oleh Camat Landasan Ulin Dinny Wahyuny, Lurah Syamsudin Noor Fitria Khairani, Ketua LPM Suprianto, Ketua RW 07 Suyono, serta para Ketua RT, yakni Dedy Iskandar (RT 32), Yoni Setiawan (RT 33), dan Hasanudin. Penyaluran dilakukan secara langsung dari rumah ke rumah, menciptakan suasana hangat penuh empati dan kebersamaan.

    Camat Landasan Ulin, Dinny Wahyuny, menegaskan bahwa program MARKISSA telah menjadi contoh nyata gerakan berbasis masyarakat yang berkelanjutan.

    “Hari ini kami bersama lurah, ketua RW, ketua RT, dan LPM membagikan hasil sedekah sampah kepada warga yang membutuhkan di RW VII. Program MARKISSA ini sudah berjalan selama 11 bulan dan terbukti sangat bermanfaat. Berdasarkan informasi dari ketua RW, sekitar 25 sampai 30 kepala keluarga telah terbantu. Harapan kami, program ini tidak hanya berlanjut, tetapi juga bisa direplikasi di seluruh RT dan RW,” ujarnya.

    Ia menambahkan, keberhasilan program ini tidak hanya terletak pada bantuan yang disalurkan, tetapi juga pada perubahan perilaku masyarakat dalam mengelola sampah. Warga kini mulai terbiasa memilah sampah rumah tangga seperti botol plastik dan kardus yang memiliki nilai ekonomi.

    Sementara itu Lurah Syamsudin Noor turut memberikan apresiasi tinggi terhadap inovasi sosial yang lahir dari tingkat RT tersebut. Menurutnya, MARKISSA menjadi contoh konkret bahwa kepedulian sosial bisa dibangun dari hal sederhana.

    “Kegiatan ini merupakan inisiatif Ketua RT 33, Bapak Yoni Setiawan, yang mengajak warga bersedekah melalui pemilahan sampah. Hasil penjualannya kemudian disalurkan kepada lansia, disabilitas, dan warga kurang mampu. Hari ini kami juga menyerahkan bantuan kepada Dinda, anak berusia 12 tahun yang sedang berjuang melawan kanker tulang,” katanya.

    Ia menjelaskan, Dinda merupakan anak yatim yang saat ini duduk di kelas VI SDN 02 Syamsudin Noor. Selama delapan bulan terakhir, Dinda menjalani perjuangan melawan kanker tulang dan telah melalui lima kali kemoterapi.

    “Meski dalam kondisi sakit, semangat belajar Dinda luar biasa. Saat kami datang, ia sedang belajar untuk persiapan ulangan hari Senin. Ini menjadi pengingat bagi kita semua tentang arti keteguhan dan harapan,” ujarnya.

    Ketua LPM Kelurahan Syamsudin Noor, Suprianto, menilai keberadaan program MARKISSA telah memberi dampak signifikan bagi warga.

    “Pada prinsipnya kami sangat senang karena kegiatan ini benar-benar membantu masyarakat yang tidak mampu. Hari ini bantuan disalurkan kepada beberapa kepala keluarga yang membutuhkan, termasuk anak yang menderita kanker. Harapan warga, program ini terus berjalan lancar karena sangat dirasakan manfaatnya,” ujarnya.

    Ketua RT 33 sekaligus penggagas program, Yoni Setiawan, mengungkapkan rasa haru atas kebersamaan yang terbangun dalam kegiatan tersebut. Ia menilai kehadiran pemerintah dalam kegiatan ini menjadi bentuk dukungan moral yang sangat berarti.

    “Kami sangat bersyukur dan terharu. Kehadiran pemerintah memberi semangat bagi kami untuk terus bergerak. Tujuan kami sederhana, ingin melihat warga tersenyum. Air mata yang hadir hari ini bukan karena kesulitan, tetapi karena rasa haru atas kepedulian bersama,” ucapnya.

    Ia menjelaskan, mekanisme MARKISSA dimulai dari kebiasaan warga memilah sampah rumah tangga yang memiliki nilai jual. Sampah seperti botol plastik dan kardus dikumpulkan, kemudian dijual secara kolektif.
    Hasilnya dikelola untuk membeli kebutuhan pokok seperti beras yang kemudian dibagikan kepada warga yang membutuhkan setiap bulan.

    Adapun delapan penerima bantuan pada kegiatan kali ini meliputi Tri Wahyu Ningsih (penyandang disabilitas), Sajem (janda pedagang pecel), Syarif (penjual pastel), Sarmi (janda petani), Selamet, Kateni, Dinda (penderita kanker tulang), serta satu wali murid SD dengan kondisi ekonomi terbatas.

    Selain sebagai bentuk bantuan sosial,
    MARKISSA juga membawa dampak positif terhadap lingkungan. Kesadaran warga dalam memilah sampah meningkat, lingkungan menjadi lebih bersih, dan nilai ekonomi dari sampah dapat dimanfaatkan secara langsung untuk kepentingan sosial.

    Kegiatan ini menjadi bukti bahwa kolaborasi antara warga dan pemerintah mampu melahirkan gerakan sosial yang tidak hanya menyentuh aspek ekonomi, tetapi juga memperkuat nilai kemanusiaan. Melalui langkah kecil seperti memilah sampah, solidaritas sosial tumbuh, dan harapan bagi mereka yang membutuhkan terus terjaga.(be)

  • Menjaga Amanah Wali Kota, Kelurahan Cempaka Konsisten Jalankan Gerakan Rambai Emas

    Menjaga Amanah Wali Kota, Kelurahan Cempaka Konsisten Jalankan Gerakan Rambai Emas

    BANJARBARUEMAS.COM — Kelurahan Cempaka terus menunjukkan konsistensinya dalam menjalankan amanah Wali Kota Banjarbaru, Hj. Erna Lisa Halaby, melalui Gerakan Rambai Emas (Gerakan Masyarakat Babarasih Baimbai Banjarbaru Emas).
    Kegiatan ini kembali digelar di lingkungan Pondok Pesantren Al-Bidayah, RT 18 RW 06, Kelurahan Cempaka, dengan melibatkan berbagai unsur masyarakat, Jumat 1 Mei 2036.

    Kegiatan tersebut dipimpin langsung oleh Camat Cempaka Hendrawan Maulana bersama Lurah Cempaka Suprianto. Turut hadir dalam kegiatan itu unsur Babinkamtibmas, Babinsa, LPM, para ketua RT dan RW, PKK, Posyandu, relawan BPK, Karang Taruna, Masyarakat Peduli Bencana, tokoh masyarakat, tokoh agama, hingga warga dari RT 16, 17, dan 18.

    Gerakan Rambai Emas merupakan program inisiatif Wali Kota Banjarbaru yang diluncurkan pada Juli 2025 sebagai upaya nyata menjaga kebersihan lingkungan secara berkelanjutan.
    Program ini mendorong partisipasi aktif masyarakat melalui kegiatan gotong royong rutin yang berfokus pada pembersihan lingkungan, pencegahan penyakit seperti demam berdarah, serta perbaikan drainase guna mengurangi risiko banjir.

    Lurah Cempaka, Suprianto, menegaskan bahwa Gerakan Rambai Emas bukan sekadar kegiatan bersih-bersih, melainkan upaya membangun kesadaran kolektif masyarakat akan pentingnya lingkungan sehat.

    “Gerakan Rambai Emas ini adalah program unggulan Ibu Wali Kota. Kita ingin menanamkan kembali nilai kebersihan dan kegotongroyongan yang merupakan warisan leluhur, namun dikemas menjadi budaya modern. Kalau dulu sampah dianggap tidak berdampak, sekarang kita sadari bahwa jika dibiarkan akan berpengaruh buruk bagi kehidupan anak cucu kita ke depan,” ujarnya.

    Ia juga menekankan pentingnya memulai budaya peduli lingkungan dari lingkup terkecil.

    “Budaya gotong royong harus kita gerakkan mulai dari diri sendiri, dari lingkungan kantor, tempat tinggal, hingga ke masyarakat luas sebagai bentuk kepedulian terhadap lingkungan,” tambahnya.

    Sementara itu, Camat Cempaka Hendrawan Maulana dalam amanatnya saat apel sebelum kegiatan berlangsung menegaskan bahwa Gerakan Rambai Emas harus menjadi agenda rutin di seluruh kelurahan di wilayah Kecamatan Cempaka.

    “Kegiatan Rambai Emas harus berjalan setiap bulan di setiap kelurahan. Kunci keberhasilannya ada pada keterlibatan seluruh lapisan masyarakat. Kita juga perlu melibatkan sekolah dan lembaga pendidikan agar budaya bersih ini tertanam sejak dini,” tegasnya.

    Selain menekankan pentingnya kebersihan lingkungan, Hendrawan juga mengingatkan warga untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi kebakaran di lingkungan rumah tangga.

    “Saya juga mengimbau masyarakat untuk berhati-hati dan memperhatikan penggunaan colokan listrik di rumah masing-masing guna menghindari bahaya kebakaran,” ujarnya.

    Melalui Gerakan Rambai Emas, Kelurahan Cempaka tidak hanya memperkuat budaya gotong royong, tetapi juga membangun kesadaran kolektif masyarakat dalam menjaga lingkungan sebagai bagian dari upaya menciptakan Banjarbaru yang elok, bersih, sehat, dan berkelanjutan.(be)

  • Kuatkan Layanan Transportasi Daerah Wali Kota Banjarbaru Tandatangani MoU dengan Pemerintah Pusat

    Kuatkan Layanan Transportasi Daerah Wali Kota Banjarbaru Tandatangani MoU dengan Pemerintah Pusat

    BANJARBARUEMAS.COM –Pemerintah Banjarbaru bersama dengan Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Perhubungan (BPSDMP) Kementerian Perhubungan Republik Indonesia resmi menjalin kerja sama strategis sektor transportasi berbasis sumber daya manusia unggul.

    Terobosan tersebut merupakan komitmen yang ditandai dengan penandatanganan Kesepakatan Bersama (MoU) yang berlangsung di Balai Pendidikan dan Pelatihan Transportasi Laut (BP2TL), Jakarta Selatan, Kamis (30/04/2026).

    Wali Kota Banjarbaru yang hadir langsung menandatangni kerjasama tersebut, bahkan tidak hanya sekadar seremonial, kerja sama ini langsung ditindaklanjuti dengan dua Perjanjian Kerja Sama (PKS) strategis.

    Kerjasam pertama, antara Politeknik Transportasi Darat Indonesia STTD dengan Pemko Banjarbaru dalam pemenuhan SDM transportasi darat. Kedua, antara Politeknik Keselamatan Transportasi Jalan dengan Pemko Banjarbaru yang fokus pada penguatan SDM di bidang keselamatan dan perhubungan darat.

    Langkah ini menjadi sinyal kuat bahwa pembangunan transportasi di Banjarbaru tak lagi sekadar pembangunan fisik, tetapi juga menitikberatkan pada kualitas manusia sebagai penggerak utama sistem.

    Kepala BPSDMP Kemenhub RI, Suharto, menegaskan bahwa kualitas layanan transportasi tidak bisa dilepaskan dari kapasitas SDM yang mengelolanya.

    “Sinergi ini diharapkan menjadi motor penggerak dalam mewujudkan sistem transportasi yang lebih modern, aman, dan efisien,” ujarnya.

    Selaras dengan pernyataan di atas, Wali Kota Banjarbaru, Hj Erna Lisa Halaby, menyebut kerja sama ini sebagai langkah krusial di tengah pesatnya perkembangan kota.

    “Sebagai ibu kota Provinsi Kalimantan Selatan, Banjarbaru dihadapkan pada tantangan mobilitas yang semakin kompleks dan dinamis,” ucapnya.

    Wali Kota menambahkan, kerja sama itu tidak hanya menjadi tonggak baru bagi Banjarbaru, tetapi juga model sinergi pusat dan daerah dalam membangun sistem transportasi nasional yang berdaya saing tinggi dimulai dari investasi pada manusianya.

    Kesepakatan tersebut dirancang untuk mengoptimalkan penyelenggaraan transportasi di Kota Banjarbaru melalui tiga fokus utama, Pengembangan kompetensi SDM, yakni peningkatan kompetensi aparatur pemerintah dan masyarakat di bidang transportasi,” ucapnya’

    Selain itu adalah sinkronisasi kajian teknis antara pusat dan daerah, yakni guna mendukung konektivitas wilayah secara menyeluruh dan pemanfaatan fasilitas pendidikan dan pelatihan milik Kemenhub.

    Rangkaian kegiatan kemudian ditutup dengan peninjauan langsung ke berbagai fasilitas pendidikan dan pelatihan di lingkungan BP2TL Jakarta, peninjauan ini menjadi bukti kesiapan infrastruktur pelatihan dalam mencetak SDM transportasi yang adaptif terhadap perkembangan teknologi dan kebutuhan zaman.(be)

  • PSM Banjarbaru Berperan Penting Realisasikan Program Pemerintah Bidang Sosial

    PSM Banjarbaru Berperan Penting Realisasikan Program Pemerintah Bidang Sosial

    BANJARBARUEMAS.COM —Wali Kota Banjarbaru, Hj Erna Lisa Halaby terus ditingkatkan pelayanann masyarakat dari berbagai sektor untum memaksimalkan pelayanan, salah satunya melalui peran Pekerja Sosial Masyarakat (PSM).

    Keberandan PSM yang birsinergi dengan Dinas Sosial dinilai sangat membantu dalam merealisasikan berbagai program pemerintah, khususnya di bidang sosial dan para anggota PSM siap standby 24 jam.

    Bahkan menurut Kabid Perberdayaan Sosial, Dinsos Banjarbaru, Zaprany mengatakan keberadaan PSM menjadi ujung tombak dalam mendukung kelancaran program Dinas Sosial di tengah masyarakat.

    “Saat ini, terdapat sekitar 90 anggota PSM aktif yang tersebar di seluruh kelurahan. Mereka tidak hanya berperan sebagai mitra pemerintah, tetapi juga menjadi garda terdepan dalam menangani berbagai persoalan sosial di lingkungan masing-masing,” ucapnya, Rabu (29/04/2026).

    Untuk meningkatkan profesionalisme, menurut beliau para anggota PSM secara rutin mendapatkan peningkatan kapasitas, baik di tingkat kota maupun provinsi.

    “Bahkan, sebagian telah mengikuti sertifikasi yang difasilitasi oleh pemerintah pusat. Hingga kini, delapan orang anggota PSM telah tersertifikasi,”ujarnya.

    Yayap sapaan akrabnya, menambahkan proses menuju sertifikasi dilakukan melalui mekanisme verifikasi dan validasi berdasarkan surat tugas resmi dari dinas, serta terbuka bagi siapa saja yang memenuhi syarat.

    “Dinsos hanya memberikan surat tugas setelah secara administrasi terverifikasi,” jelasnya.

    Selain itu, PSM juga aktif melakukan sosialisasi kepada masyarakat terkait berbagai isu sosial, kehadiran mereka semakin dikenal dan dirasakan manfaatnya.

    “itu terbukti dari meningkatnya kepercayaan masyarakat yang kerap menghubungi PSM ketika menghadapi persoalan sosial di wilayahnya,” pungkasnya.(be)

  • Banjarbaru Utara Jadi Rujukan, Kecamatan Pulau Laut Pelajari Inovasi Pelayanan dan Siaga Bencana

    Banjarbaru Utara Jadi Rujukan, Kecamatan Pulau Laut Pelajari Inovasi Pelayanan dan Siaga Bencana

    BANJARBARUEMAS.COM — Kecamatan Banjarbaru Utara, Kota Banjarbaru, kembali menjadi rujukan praktik baik pelayanan publik. Pada Kamis (30/4/2026), kecamatan ini menerima kunjungan kerja Kecamatan Pulau Laut, Kabupaten Kotabaru, yang dipimpin langsung oleh Camat Pulau Laut, Frida Yusiana.

    Kunjungan tersebut bertujuan melakukan studi tiru terhadap berbagai capaian Banjarbaru Utara, terutama dalam bidang pelayanan publik, penguatan Kecamatan Siaga Bencana, serta peningkatan kinerja kelurahan.
    Rombongan disambut Camat Banjarbaru Utara, Taufiq Purwanto, bersama jajaran.

    Dalam pertemuan itu, Frida Yusiana mengungkapkan apresiasinya terhadap inovasi yang dikembangkan. Ia menilai, berbagai terobosan di Banjarbaru Utara mampu memberikan kemudahan nyata bagi masyarakat dalam mengakses layanan.

    “Kunjungan kerja kami ke Kecamatan Banjarbaru Utara ini benar-benar berkesan. Banyak inovasi dalam pelayanan yang memudahkan masyarakat. Semoga terus berkembang dan menjadi inspirasi bagi daerah lain,” ujar Frida.

    Ia juga menekankan pentingnya keberlanjutan kerja sama antardaerah dalam meningkatkan kualitas layanan publik.

    “Terima kasih atas sambutan yang hangat. Semoga silaturahmi dan sinergi ini terus terjalin untuk pelayanan yang lebih baik bagi masyarakat,” tambahnya.

    Sementara itu, Camat Banjarbaru Utara, Taufiq Purwanto, menjelaskan bahwa berbagai inovasi yang diterapkan merupakan bagian dari kebijakan strategis Pemerintah Kota Banjarbaru. Kebijakan tersebut mendorong setiap satuan kerja perangkat daerah menghadirkan inovasi pelayanan yang berdampak langsung bagi masyarakat.

    Menurut Taufiq, penguatan pelayanan dilakukan melalui pelimpahan sebagian kewenangan kepada camat dan lurah agar proses layanan menjadi lebih cepat dan efisien. Selain itu, seluruh pelayanan administrasi ditegaskan harus berjalan sesuai standar operasional prosedur serta tidak dipungut biaya.

    Pendampingan dari Ombudsman RI juga menjadi bagian penting dalam memastikan layanan bebas dari maladministrasi. Di sisi lain, pengembangan Kecamatan Siaga Bencana dilakukan dengan melibatkan masyarakat secara aktif, sehingga kesiapsiagaan menghadapi potensi bencana dapat ditingkatkan.

    Tak hanya menekankan inovasi, Taufiq juga memastikan bahwa budaya pelayanan yang terbuka terhadap kritik terus dijaga. Masukan dari masyarakat dinilai sebagai bagian penting dalam mendorong perbaikan berkelanjutan.

    Kunjungan ini diharapkan tidak hanya menjadi ajang berbagi pengalaman, tetapi juga memperkuat sinergi antarwilayah dalam menghadirkan pelayanan publik yang semakin responsif, transparan, dan berkualitas.

    “Pada prinsipnya, kami di Kecamatan Banjarbaru Utara terus berkomitmen memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat. Seluruh layanan kami pastikan gratis dan sesuai standar, serta kami terbuka terhadap kritik dan saran yang konstruktif agar pelayanan semakin prima dan benar-benar dirasakan manfaatnya oleh masyarakat,” ujar Taufiq.(be)

  • Wali Kota Lisa Membangun dengan Hati, Jalan Banjarbaru Tetap Jadi Prioritas di Tengah Efisiensi

    Wali Kota Lisa Membangun dengan Hati, Jalan Banjarbaru Tetap Jadi Prioritas di Tengah Efisiensi

    Prioritas Tepat Sasaran di Era Kepemimpinan Wali Kota Hj. Erna Lisa Halaby

    BANJARBARUEMAS.COM — Di saat banyak pemerintah daerah melakukan penyesuaian akibat keterbatasan fiskal, Pemerintah Kota Banjarbaru justru memilih jalur yang tidak mudah: tetap menjaga ritme pembangunan infrastruktur, khususnya jalan, sebagai kebutuhan dasar masyarakat. Di bawah kepemimpinan Wali Kota Hj. Erna Lisa Halaby, strategi efisiensi tidak diterjemahkan sebagai pengurangan layanan, melainkan penajaman prioritas.

    Data Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Banjarbaru memperlihatkan tren perbaikan yang konsisten. Jika pada awal 2024 kondisi jalan rusak (gabungan rusak ringan dan rusak berat) masih berada di angka 32,4 persen, maka hasil survei akhir 2025 menunjukkan penurunan menjadi 31,62 persen pada awal 2026. Sebaliknya, kondisi jalan mantap (baik dan sedang) meningkat menjadi 68,38 persen.

    Kepala Bidang Bina Marga Dinas PUPR Banjarbaru, Adi Maulana, menegaskan bahwa capaian tersebut merupakan hasil intervensi kebijakan yang terarah.

    “Perbaikan ini bukan hanya dari pembangunan baru, tetapi dari kombinasi peningkatan jalan dan pemeliharaan berkelanjutan. Ruas jalan yang sudah baik dijaga agar tidak turun kelas,” ujarnya.

    Peningkatan paling terasa terjadi pada kategori jalan baik. Panjang jalan berkategori baik bertambah dari 741,391 kilometer pada awal 2025 menjadi 758,206 kilometer di awal 2026.
    Artinya, ada kenaikan sepanjang 16,815 kilometer atau sekitar 1,3 persen dalam satu tahun. Di saat yang sama, jalan rusak ringan berhasil ditekan cukup signifikan, menandakan efektivitas penanganan dini sebelum kerusakan menjadi lebih berat.

    Namun, di balik capaian itu, tantangan masih membayangi. Data menunjukkan peningkatan pada kategori rusak berat, yang menuntut intervensi lebih besar dan biaya lebih tinggi. Kondisi ini menjadi pengingat bahwa pekerjaan infrastruktur jalan adalah proses berkelanjutan yang tidak bisa diselesaikan dalam satu siklus anggaran.

    Di tengah kondisi tersebut, Pemerintah Kota Banjarbaru tetap mengalokasikan anggaran yang substansial. Pada 2026, total anggaran penanganan infrastruktur jalan mencapai Rp48,49 miliar. Rinciannya menunjukkan keseimbangan antara kebutuhan jangka pendek dan jangka panjang: pemeliharaan rutin sebesar Rp4,95 miliar, peningkatan jalan Rp20,90 miliar, perbaikan jalan rusak Rp15,76 miliar, serta pembangunan jalan dan jembatan Rp6,87 miliar.

    Angka ini mencerminkan satu hal: efisiensi tidak menghilangkan komitmen terhadap pelayanan publik. Justru sebaliknya, anggaran diarahkan lebih selektif. Program yang diprioritaskan adalah yang memiliki dampak langsung terhadap mobilitas warga dan pertumbuhan ekonomi lokal.

    “Strateginya adalah memfokuskan pada program prioritas daerah dan usulan masyarakat melalui Musrenbang. Jadi yang ditangani benar-benar yang dibutuhkan warga,” kata Adi.

    Kebijakan ini sejalan dengan visi Banjarbaru EMAS (Elok, Maju, Adil, dan Sejahtera) yang menempatkan prinsip keadilan sebagai dasar pembangunan. Artinya, perbaikan jalan tidak hanya terkonsentrasi di pusat kota, tetapi juga menyasar wilayah-wilayah lain secara proporsional sesuai kebutuhan dan kemampuan anggaran.

    Meski demikian, persoalan klasik masih ditemui, terutama pada jalan lingkungan di kawasan perumahan. Banyak ruas jalan yang dikeluhkan warga belum bisa ditangani karena statusnya belum “clean and clear” sebagai aset pemerintah kota. Jalan tersebut masih menjadi tanggung jawab pengembang atau belum tercatat dalam Surat Keputusan Jalan Kota.

    “Ini sering menjadi kendala di lapangan. Selain keterbatasan anggaran, status jalan juga menentukan apakah bisa langsung ditangani atau tidak,” ujar Adi.

    Ke depan, Pemerintah Kota Banjarbaru memasang target realistis namun menantang: pada akhir 2029, kondisi jalan kategori baik diharapkan mendominasi, melampaui 70 persen dari total panjang jalan kota yang mencapai 1.301 kilometer. Target ini merupakan indikator kualitas layanan publik yang lebih merata.

    Upaya tersebut juga membutuhkan peran aktif masyarakat. Selain menggunakan jalan sesuai fungsi dan kelasnya, warga diharapkan turut mendukung pengembangan infrastruktur, baik melalui partisipasi dalam perencanaan maupun mendorong pengembang memenuhi kewajiban penyediaan fasilitas jalan yang layak.

    Dalam konteks yang lebih luas, Banjarbaru sedang menunjukkan satu pendekatan yang relevan di tengah tekanan fiskal: bahwa pembangunan tidak harus berhenti saat anggaran terbatas. Dengan perencanaan yang tajam, keberpihakan pada kebutuhan dasar, dan konsistensi kebijakan, infrastruktur tetap bisa bergerak maju.

    Di tangan kepemimpinan yang menempatkan prioritas secara tepat, efisiensi bukanlah hambatan, melainkan cara untuk memastikan setiap rupiah benar-benar kembali kepada kepentingan masyarakat. (be)

  • H. Riandy Hidayat: Peringatan Hari Posyandu Momentum Perkuat Transformasi Layanan di Banjarbaru

    H. Riandy Hidayat: Peringatan Hari Posyandu Momentum Perkuat Transformasi Layanan di Banjarbaru

    BANJARBARUEMAS.COM — Peringatan Hari Posyandu Nasional 2026 dimaknai sebagai titik tolak penguatan layanan dasar berbasis masyarakat di Kota Banjarbaru. Transformasi Posyandu yang kini mengusung enam Standar Pelayanan Minimal (SPM) diarahkan tidak hanya pada layanan kesehatan, tetapi juga menjangkau pendidikan, sosial, hingga ketenteraman masyarakat.

    Ketua Posyandu Kota Banjarbaru, H. Riandy Hidayat, menegaskan bahwa perubahan peran Posyandu harus diikuti dengan penguatan di tingkat lapangan agar benar-benar dirasakan masyarakat.

    “Posyandu hari ini tidak lagi hanya identik dengan imunisasi atau penimbangan balita, tetapi telah bertransformasi menjadi pusat layanan terintegrasi yang mencakup berbagai aspek kehidupan masyarakat,” ujarnya.

    Sebagai langkah konkret, pihaknya pada tahun 2025 telah menggulirkan Gerakan Aktifkan Posyandu. Gerakan ini mendorong seluruh Posyandu di Banjarbaru untuk kembali aktif secara rutin dan melayani seluruh kelompok usia.

    “Melalui Gerakan Aktifkan Posyandu ini, kita ingin menghidupkan kembali semangat gotong royong, kepedulian, dan partisipasi aktif semua pihak. Kami berharap Posyandu dapat buka setiap bulan dan melayani seluruh siklus hidup, mulai dari ibu hamil, menyusui, bayi, balita, anak sekolah, remaja, usia produktif hingga lansia, dengan minimal lima kader aktif,” kata Riandy.

    Menurut dia, penguatan Posyandu menjadi kunci dalam mendekatkan layanan sekaligus meningkatkan kualitas hidup masyarakat. Posyandu juga berperan penting dalam pemantauan tumbuh kembang anak dan percepatan penurunan stunting melalui deteksi dini dan intervensi yang lebih cepat.

    Namun, transformasi tersebut tidak lepas dari tantangan, terutama dalam menjaga konsistensi keaktifan Posyandu dan meningkatkan kapasitas kader.

    “Perubahan ini membutuhkan komitmen bersama. Kader Posyandu bukan hanya pelaksana, tetapi agen perubahan yang mengedukasi dan menggerakkan masyarakat,” ujarnya.

    Ia mengajak seluruh elemen, mulai dari pemerintah daerah, kecamatan, kelurahan, hingga RT/RW dan masyarakat, untuk bersinergi memperkuat Posyandu sebagai garda terdepan pelayanan dasar.

    “Posyandu tidak bisa berjalan sendiri. Kolaborasi semua pihak menjadi kunci agar pelayanan yang merata dan inklusif benar-benar terwujud,” kata Riandy.

    Momentum Hari Posyandu Nasional, lanjutnya, juga menjadi bentuk apresiasi bagi kader yang selama ini bekerja di garis depan pelayanan masyarakat.

    “Kami optimistis, dengan semangat gotong royong dan transformasi yang terus berjalan, Posyandu di Banjarbaru akan semakin kuat dalam meningkatkan kualitas hidup masyarakat,” tutupnya.(be)