BANJARBARUEMAS.COM – Setiap kali bulan Muharram tiba, suasana Kecamatan Cempaka selalu berbeda. Jalan-jalan dipenuhi lantunan shalawat, anak-anak mengenakan busana muslim terbaiknya, remaja masjid sibuk menyiapkan atribut pawai, sementara para orang tua bergotong royong menyukseskan kegiatan yang telah menjadi bagian dari identitas masyarakat setempat selama puluhan tahun.
Tradisi itu kembali hadir melalui Festival Muharram 1448 Hijriah, sebuah perayaan tahun baru Islam yang tidak hanya menjadi agenda keagamaan, tetapi juga ruang pelestarian budaya, penguatan persaudaraan, serta sarana menjaga warisan masyarakat Cempaka agar tetap hidup di tengah perubahan zaman.
Festival yang digelar masyarakat Kecamatan Cempaka, Kota Banjarbaru, ini menghadirkan rangkaian kegiatan mulai dari Pawai Akbar 1 Muharram, lomba-lomba keagamaan, santunan anak yatim dan fakir miskin, pertunjukan seni religi, hingga tradisi memasak Bubur Asyura pada 10 Muharram.
Bagi masyarakat Cempaka, Muharram bukan sekadar pergantian tahun dalam kalender Islam. Muharram adalah momentum untuk berkumpul, mempererat silaturahmi, menghidupkan nilai gotong royong, dan menjaga tradisi yang diwariskan oleh generasi terdahulu.
“Festival ini bukan kegiatan baru. Tradisi Muharram di Cempaka sudah berlangsung sejak tahun 1990-an. Awalnya sederhana, hanya melibatkan madrasah dan lingkungan sekitar. Seiring waktu berkembang semakin besar hingga melibatkan masyarakat umum dari berbagai kalangan. Kalau dihitung sekarang, usianya sudah lebih dari 30 tahun,” ujar Mahmuddin, warga Cempaka yang juga menjadi panitia Festival Muharram 1448 H.
Menurut Mahmuddin, konsistensi masyarakat menjaga tradisi tersebut menjadi bukti bahwa budaya lokal masih memiliki tempat yang kuat di tengah kehidupan modern.
“Masyarakat Cempaka selalu berusaha menjaga tradisinya. Dari generasi ke generasi kegiatan ini terus diwariskan. Anak-anak yang dulu menjadi peserta pawai sekarang sudah menjadi panitia, bahkan ada yang menjadi tokoh masyarakat. Inilah yang membuat tradisi Muharram tetap hidup sampai sekarang,” katanya.
Merawat Warisan Budaya
Pelaksanaan Festival Muharram 1448 H dilatarbelakangi keinginan masyarakat untuk memperingati datangnya Tahun Baru Islam sekaligus melestarikan tradisi keagamaan yang telah mengakar kuat di Kecamatan Cempaka.
Festival ini juga menjadi sarana dakwah yang lebih dekat dengan masyarakat. Nilai-nilai Islam disampaikan melalui kegiatan yang menyenangkan, edukatif, dan dapat diikuti seluruh lapisan masyarakat.
Ribuan peserta dijadwalkan mengikuti Pawai Akbar 1 Muharram yang menjadi ikon utama festival. Peserta berasal dari berbagai unsur, mulai dari TPA, santri, remaja langgar, majelis taklim, sekolah, hingga masyarakat umum.
Mereka akan berjalan bersama membawa atribut Islami, miniatur masjid, kaligrafi, hingga berbagai kreasi bernuansa keislaman sambil melantunkan shalawat.
Selain pawai, panitia juga menyiapkan lomba tartil Al-Qur’an, cerdas cermat agama, puisi religi, kaligrafi, lomba busana muslim, santunan sosial, serta pertunjukan seni hadrah dan rebana yang menjadi bagian tak terpisahkan dari tradisi masyarakat Banjar.
Kegiatan tersebut dirancang agar nilai-nilai keagamaan dapat diterima oleh semua kelompok usia, terutama generasi muda.
“Melalui festival ini kami ingin mengajak masyarakat memaknai tahun baru Islam sebagai awal perubahan menuju kehidupan yang lebih baik. Hijrah tidak hanya berpindah tempat, tetapi juga memperbaiki akhlak, memperkuat kepedulian sosial, dan mempererat persaudaraan,” ujar Mahmudin.
Bubur Asyura dan Filosofi Kebersamaan
Salah satu tradisi yang tetap dipertahankan masyarakat Cempaka adalah memasak Bubur Asyura pada 10 Muharram.
Tradisi tersebut dilakukan secara gotong royong dengan melibatkan warga dari berbagai usia. Puluhan bahan makanan dicampur menjadi satu hingga menghasilkan bubur yang kemudian dibagikan kepada masyarakat.
Di balik kesederhanaannya, Bubur Asyura memiliki makna mendalam.
“Masyarakat kami memaknai Bubur Asyura sebagai simbol keberagaman yang menyatu dalam kebersamaan. Banyak bahan berbeda tetapi menghasilkan satu rasa yang baik. Filosofinya sama dengan kehidupan masyarakat yang beragam tetapi tetap bersatu,” kata Mahmudin.
Nilai tersebut selaras dengan semangat kehidupan masyarakat Cempaka yang selama ini dikenal menjunjung tinggi gotong royong, toleransi, dan kekeluargaan.
Bagian dari Cempaka Living Museum
Lebih dari sekadar festival keagamaan, Festival Muharram 1448 H juga menjadi bagian penting dari upaya penguatan identitas Cempaka Living Museum, sebuah konsep pengembangan kawasan budaya yang menjadikan Kecamatan Cempaka sebagai “museum hidup”, tempat sejarah, tradisi, budaya, dan aktivitas masyarakat tidak hanya dipamerkan, tetapi terus dijalankan dalam kehidupan sehari-hari.
Gagasan tersebut diinisiasi oleh Wali Kota Banjarbaru, Erna Lisa Halaby, yang mendorong pengembangan Kecamatan Cempaka sebagai kawasan Living Museum berbasis sejarah, tradisi, dan kearifan lokal masyarakat. Upaya itu mendapat dukungan dari Fadli Zon setelah pertemuan yang berlangsung di Jakarta pada 2 Februari 2026.
Dalam pertemuan tersebut, Pemerintah Kota Banjarbaru mengusung satu agenda utama, yakni meminta dukungan pemerintah pusat untuk menetapkan Kecamatan Cempaka sebagai Living Museum, sebuah kawasan budaya hidup yang menjadikan warisan sejarah dan tradisi masyarakat sebagai bagian dari kehidupan yang terus berkembang dan memberi manfaat bagi generasi masa kini.
Wali Kota Lisa menegaskan pengembangan Cempaka sebagai Living Museum bukan sekadar upaya melestarikan sejarah atau menjaga warisan budaya masa lalu. Lebih dari itu, konsep tersebut dirancang sebagai strategi pembangunan berkelanjutan yang mengintegrasikan kebudayaan, pendidikan, pariwisata, dan ekonomi kreatif dalam satu ekosistem yang saling menguatkan.
Selama ini Cempaka dikenal luas melalui kawasan Pendulangan Intan Pumpung di Kelurahan Sungai Tiung, salah satu lokasi pendulangan intan tradisional yang legendaris dan menjadi daya tarik wisata budaya Banjarbaru.
Namun kekayaan Cempaka tidak hanya berada pada tradisi pendulangan intan. Berbagai tradisi keagamaan, seni budaya, kerajinan, cerita rakyat, hingga pola kehidupan masyarakat juga menjadi bagian penting dari warisan budaya yang ingin dilestarikan melalui konsep Living Museum.
Dalam konteks itulah Festival Muharram memiliki peran strategis.
Festival ini menjadi bukti bahwa budaya tidak hanya disimpan dalam arsip atau dokumentasi, tetapi tetap hidup dan diwariskan secara langsung kepada generasi berikutnya.
“Kalau pendulangan intan adalah warisan budaya yang bisa dilihat wisatawan, maka Festival Muharram adalah warisan sosial dan keagamaan yang terus hidup di tengah masyarakat. Keduanya sama-sama bagian dari identitas Cempaka,” ujar Mahmudin.
Menurut dia, keberadaan festival tersebut memperlihatkan bagaimana masyarakat menjadi pelaku utama dalam menjaga budaya lokal.
Anak-anak belajar nilai agama melalui lomba dan pawai. Remaja terlibat sebagai panitia dan penggerak kegiatan. Orang tua menjaga kesinambungan tradisi. Sementara pelaku UMKM memperoleh manfaat ekonomi dari meningkatnya aktivitas masyarakat selama festival berlangsung.
Menggerakkan Ekonomi dan Pariwisata Budaya
Selain memperkuat nilai spiritual dan sosial, Festival Muharram juga memberikan dampak ekonomi bagi masyarakat.
Kegiatan yang menghadirkan ribuan peserta dan pengunjung tersebut membuka peluang bagi pelaku usaha lokal untuk memasarkan berbagai produk makanan, minuman, kerajinan, hingga produk kreatif khas Cempaka.
Bagi Pemerintah Kota Banjarbaru, kondisi ini sejalan dengan visi pengembangan ekonomi kreatif berbasis budaya yang menjadi salah satu fokus pembangunan kawasan Cempaka.
Festival Muharram sekaligus menjadi etalase yang menunjukkan bahwa pelestarian budaya dapat berjalan beriringan dengan pengembangan ekonomi masyarakat.
“Harapan kami ke depan Festival Muharram semakin tertata dan berkualitas, tetapi tetap mempertahankan nilai kesederhanaan, kekeluargaan, dan gotong royong yang selama ini menjadi ruh kegiatan. Tradisi ini harus terus hidup karena merupakan bagian dari jati diri masyarakat Cempaka,” kata Mahmudin.
Di tengah arus modernisasi yang terus bergerak cepat, masyarakat Cempaka memilih untuk tetap menjaga jejak sejarahnya. Melalui Festival Muharram 1448 H, mereka menunjukkan bahwa tradisi bukanlah kenangan masa lalu, melainkan warisan hidup yang terus dirawat, dipelajari, dan diwariskan kepada generasi mendatang.
Sebagaimana semangat Cempaka Living Museum, budaya tidak hanya dikenang, tetapi dijalankan. Tidak hanya dipamerkan, tetapi dihidupkan. Dan Festival Muharram menjadi salah satu bukti nyata bahwa denyut tradisi itu masih berdetak kuat di jantung masyarakat Cempaka.(be)
189
Tidak ada komentar