BANJARBARUEMAS.COM – Upaya membangun budaya peduli lingkungan di Kota Banjarbaru terus diperkuat melalui kolaborasi antara pemerintah, dunia pendidikan, dan perguruan tinggi. Salah satunya diwujudkan melalui kegiatan edukasi pengelolaan sampah yang dilaksanakan Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Tematik Lingkungan Hidup Universitas Lambung Mangkurat (ULM) di SDN 2 Guntung Paikat, Kecamatan Banjarbaru Selatan.
Kegiatan yang menggandeng Kelurahan Guntung Paikat tersebut tidak hanya memberikan pemahaman mengenai pentingnya memilah sampah, tetapi juga memperkenalkan Lodong Sisa Dapur (LOSIDA) sebagai teknologi sederhana untuk mengolah sampah organik menjadi penyubur tanah. Melalui pendekatan praktik langsung, para siswa diajak memahami bahwa pengelolaan sampah dapat dimulai dari kebiasaan sederhana di rumah maupun di lingkungan sekolah.
Sejak kegiatan dimulai, suasana belajar tampak berbeda dari biasanya. Mahasiswa KKN menghadirkan berbagai media pembelajaran, alat peraga, hingga perangkat praktik yang dirancang sendiri untuk memudahkan siswa memahami proses pengelolaan sampah. Anak-anak diajak mengenali jenis sampah, membedakan sampah organik dan anorganik, serta mempraktikkan cara mengolah sisa makanan menggunakan LOSIDA dan ember tumpuk.
Tidak sedikit siswa yang aktif mengajukan pertanyaan mengenai proses penguraian sampah, manfaat kompos bagi tanaman, hingga fungsi setiap komponen yang digunakan dalam media pengolahan tersebut. Antusiasme itu menunjukkan tingginya ketertarikan peserta didik terhadap isu lingkungan ketika disampaikan melalui metode yang interaktif.
Lurah Guntung Paikat Reza Pahlevi mengatakan kegiatan tersebut merupakan bagian dari upaya membangun kesadaran masyarakat sejak usia dini bahwa pengelolaan sampah harus dimulai dari sumbernya.
Menurutnya, persoalan sampah tidak dapat diselesaikan hanya melalui pengangkutan ke Tempat Pemrosesan Akhir (TPA), tetapi membutuhkan perubahan perilaku masyarakat dalam memilah dan mengolah sampah sejak di lingkungan rumah tangga maupun sekolah.
“Kegiatan ini bertujuan untuk menanamkan budaya peduli lingkungan sejak dini melalui edukasi mengenai pentingnya memilah sampah organik dan anorganik, serta memperkenalkan Lodong Sisa Dapur atau LOSIDA sebagai salah satu solusi sederhana dalam mengolah sampah organik menjadi penyubur tanah,” ujar Reza Pahlevi.
Ia menjelaskan, kegiatan tersebut sekaligus menjadi media pembelajaran yang efektif karena mahasiswa KKN tidak hanya memberikan materi, tetapi juga menghadirkan inovasi yang memudahkan siswa memahami proses pengolahan sampah.
“Media dan alat peraga yang digunakan dalam sosialisasi merupakan hasil karya dan inovasi mahasiswa sehingga penyampaian materi menjadi lebih menarik, interaktif, dan mudah dipahami oleh para siswa,” katanya.
Menurut Reza, kolaborasi antara pemerintah kelurahan, perguruan tinggi, dan sekolah merupakan bentuk sinergi yang sangat penting dalam membangun budaya peduli lingkungan secara berkelanjutan. Pemerintah, kata dia, membutuhkan dukungan dunia pendidikan agar pesan mengenai pengelolaan sampah dapat ditanamkan sejak anak-anak.
Ia berharap pengetahuan yang diperoleh siswa tidak berhenti di lingkungan sekolah, tetapi dibawa pulang ke rumah sehingga mampu mengajak keluarga untuk mulai memilah dan mengolah sampah secara mandiri.
“Kami berharap melalui kolaborasi antara pemerintah kelurahan, dunia pendidikan, dan mahasiswa KKN, kesadaran masyarakat untuk mengelola sampah secara bijak semakin meningkat. Langkah kecil yang dimulai dari rumah dan sekolah akan menjadi kontribusi besar dalam mewujudkan Banjarbaru yang bersih, sehat, dan berkelanjutan,” ujarnya.
Sebagai bagian dari implementasi Tri Dharma Perguruan Tinggi, mahasiswa KKN Tematik Lingkungan Hidup Universitas Lambung Mangkurat tidak hanya menyampaikan teori, tetapi juga mengajak siswa melakukan praktik secara langsung. Pendekatan ini dipilih agar peserta didik memperoleh pengalaman nyata mengenai proses pengelolaan sampah organik.
Selama praktik berlangsung, siswa diperlihatkan cara kerja LOSIDA sebagai media pengurai sampah organik. Mereka belajar bahwa sisa nasi, kulit buah, daun kering, maupun sisa sayuran yang selama ini dianggap limbah ternyata dapat diolah menjadi bahan organik yang bermanfaat bagi kesuburan tanah.
Selain LOSIDA, mahasiswa juga memperkenalkan penggunaan ember tumpuk sebagai alternatif sederhana dalam mengolah sampah organik di lingkungan rumah tangga. Kedua metode tersebut dinilai mudah diterapkan karena menggunakan peralatan sederhana dengan biaya yang relatif murah.
Pendamping kegiatan, Meygaharnetha K., mengatakan semangat belajar para siswa menjadi salah satu keberhasilan pelaksanaan edukasi tersebut.
“Adik-adiknya sangat bersemangat saat praktik. Mereka juga ramah. Beberapa bahkan bertanya secara detail tentang kegunaan setiap komponen yang dimasukkan ke dalam LOSIDA dan ember tumpuk. Keren adik-adiknya karena benar-benar ingin berkontribusi dalam praktik pengelolaan sampah ini,” katanya.
Menurutnya, tingginya rasa ingin tahu siswa menunjukkan bahwa metode pembelajaran berbasis praktik lebih efektif dalam membangun kesadaran lingkungan dibandingkan penyampaian materi secara satu arah.
Apresiasi juga datang dari pihak sekolah. Guru SDN 2 Guntung Paikat, Hidayati, menilai kegiatan tersebut memberikan wawasan baru bagi sekolah dalam mengelola sampah organik.
“Kegiatan ini sangat seru. Kakak-kakaknya juga ramah dan informatif. Ini merupakan terobosan baru bagi kami dalam mengelola sampah sisa makanan di lingkungan sekolah. Ibu-ibu wali murid juga ikut semangat dalam menyiapkan sampah organik ini. Harapannya kita bisa terus berbagi ilmu dan informasi,” ujarnya.
Hidayati mengatakan keterlibatan orang tua menjadi salah satu kekuatan dalam kegiatan tersebut. Sejumlah wali murid turut menyiapkan sampah organik dari rumah sebagai bahan praktik sehingga proses edukasi tidak hanya berlangsung di sekolah, tetapi juga melibatkan keluarga sebagai lingkungan belajar pertama bagi anak.
Partisipasi orang tua tersebut dinilai penting karena perubahan perilaku dalam pengelolaan sampah hanya akan berhasil apabila diterapkan secara konsisten, baik di sekolah maupun di rumah.
Kegiatan edukasi ini juga menjadi implementasi nyata dari Instruksi Wali Kota Banjarbaru Nomor 001 Tahun 2026 tentang Percepatan Pengelolaan Sampah Melalui Gerakan Pilah Sampah dari Sumbernya. Dalam instruksi tersebut, Pemerintah Kota Banjarbaru menegaskan bahwa pengelolaan sampah harus dimulai dari sumbernya melalui pemilahan sampah organik dan anorganik, penguatan konsep Reduce, Reuse, Recycle (3R), serta pembentukan bank sampah di berbagai sektor.
Secara khusus, Dinas Pendidikan Kota Banjarbaru mendapat tugas melakukan pembinaan pengelolaan sampah di sekolah melalui Gerakan Peduli Berbudaya Lingkungan Hidup di Sekolah (GPBLHS), membentuk bank sampah sekolah, mewajibkan peserta didik memilah dan menyetorkan sampah ke bank sampah sekolah, serta menyediakan sarana pendukung pengelolaan sampah berbasis 3R. Di sisi lain, camat dan lurah diinstruksikan melakukan pembinaan kepada masyarakat agar mengolah sampah organik menggunakan berbagai metode, seperti LOSIDA, tong komposter, takakura, eco-enzyme, maupun budidaya maggot sehingga hanya sampah residu yang dibuang ke Tempat Pemrosesan Akhir (TPA).
Melalui kegiatan ini, mahasiswa KKN Tematik Lingkungan Hidup ULM tidak hanya menjalankan program pengabdian kepada masyarakat, tetapi juga menjadi mitra pemerintah dalam memperkuat gerakan pengelolaan sampah berbasis sumber. Edukasi yang dimulai dari ruang kelas di SDN 2 Guntung Paikat diharapkan mampu melahirkan generasi yang memiliki kepedulian terhadap lingkungan sekaligus menjadi agen perubahan di tengah masyarakat.
Bagi Kelurahan Guntung Paikat, kolaborasi seperti ini menjadi investasi jangka panjang. Ketika anak-anak terbiasa memilah sampah, memahami manfaat pengolahan sampah organik, dan mengajak keluarganya menerapkan kebiasaan tersebut di rumah, maka upaya mengurangi timbulan sampah tidak lagi menjadi tanggung jawab pemerintah semata, melainkan tumbuh menjadi gerakan bersama menuju Banjarbaru yang elok, bersih, sehat dan berkelanjutan.(be)
236
Tidak ada komentar