BANJARBARUEMAS.COM – Semangat pelaksanaan ECO Qurban terus menyebar hingga ke lingkungan permukiman warga di Kota Banjarbaru. Di RT 33 RW 07 Kelurahan Syamsudin Noor, Kecamatan Landasan Ulin, panitia kurban dan warga sepakat meninggalkan penggunaan kantong plastik sekali pakai dalam pembagian daging kurban pada Iduladha 1447 Hijriah, Rabu (27/5/2026).
Sebagai gantinya, panitia menggunakan pembungkus berbahan ramah lingkungan berupa daun dan bungkus nasi kertas untuk mendistribusikan daging kurban kepada masyarakat. Sementara warga yang menerima daging kurban juga telah diimbau membawa wadah masing-masing dari rumah, seperti ember, baskom plastik, maupun tempat penyimpanan lainnya yang dapat digunakan berulang kali.
Langkah tersebut merupakan bentuk dukungan masyarakat terhadap imbauan Pemerintah Kota Banjarbaru melalui gerakan ECO Qurban, yang mengajak masyarakat mengurangi penggunaan kantong plastik sekali pakai saat pelaksanaan Iduladha.
Sejak pagi, suasana gotong royong tampak mewarnai pelaksanaan kurban di lingkungan RT 33 RW 07. Warga bersama panitia bahu membahu membantu proses penyembelihan, pemotongan, penimbangan hingga pembagian daging kepada masyarakat.
Ketua RT 33 RW 07 Kelurahan Syamsudin Noor, Yoni Setiawan, mengatakan panitia sejak awal telah berkomitmen menjalankan pelaksanaan kurban yang lebih ramah lingkungan tanpa mengurangi nilai ibadah maupun semangat berbagi kepada masyarakat.
Menurutnya, penggunaan daun dan bungkus kertas menjadi alternatif yang sederhana namun efektif dalam mengurangi timbulan sampah plastik pasca pelaksanaan kurban.
“Alhamdulillah, pembagian daging kurban kali ini menggunakan bungkus nasi dan daun, tidak menggunakan kantong plastik. Ini merupakan bentuk dukungan kami terhadap himbauan Ibu Wali Kota Banjarbaru terkait pelaksanaan ECO Qurban,” ujar Yoni.
Ia menjelaskan, kesadaran masyarakat untuk mendukung gerakan tersebut cukup tinggi. Hal itu terlihat dari kesiapan warga yang datang membawa wadah sendiri saat mengambil daging kurban.
“Warga membawa alat seperti ember dan baskom plastik dari rumah masing-masing, dan mereka siap melaksanakannya. Jadi tidak ada kendala dalam pelaksanaan pembagian daging tanpa kantong plastik,” katanya.
Di lingkungan RT 33 RW 07 sendiri, pelaksanaan kurban tahun ini dilakukan oleh keluarga besar Mbah Welas yang menyembelih dua ekor sapi. Daging kurban kemudian dibagikan kepada warga di lingkungan RW 07 dengan jumlah sekitar 300 paket.
Selain itu, terdapat pula pelaksanaan kurban tingkat warga RW 07 yang melibatkan partisipasi masyarakat dan dukungan bantuan hewan kurban dari Wali Kota Banjarbaru. Pada kegiatan tersebut disembelih satu ekor sapi bantuan Wali Kota Banjarbaru dan tiga ekor kambing, dengan jumlah distribusi mencapai sekitar 400 paket kepada masyarakat.
Menurut Yoni, pelaksanaan ECO Qurban membuktikan bahwa upaya menjaga lingkungan dapat dilakukan tanpa mengurangi kekhusyukan maupun nilai ibadah kurban itu sendiri.
Ia menilai penggunaan kantong plastik sekali pakai selama ini hanya menambah volume sampah yang harus ditangani setelah kegiatan selesai. Karena itu, penggunaan wadah alternatif menjadi solusi yang lebih bijak dan berkelanjutan.
“Kami sebagai panitia yang melaksanakan kegiatan ini tentunya sangat mendukung himbauan ECO Qurban. Karena himbauan ini sama sekali tidak mengurangi nilai ibadah kurban, justru memberikan manfaat tambahan bagi lingkungan. Selain itu, kami juga tidak membebani tempat pembuangan sampah dengan tumpukan kantong plastik sekali pakai,” ujarnya.
Gerakan ECO Qurban yang diterapkan warga RT 33 RW 07 menjadi bukti bahwa perubahan besar dapat dimulai dari lingkungan terkecil. Dengan memanfaatkan daun, kertas pembungkus, dan wadah yang dibawa sendiri oleh warga, ratusan paket daging kurban berhasil dibagikan tanpa menghasilkan tumpukan sampah plastik seperti tahun-tahun sebelumnya.
Yoni berharap langkah tersebut dapat menjadi inspirasi bagi lingkungan lain untuk mulai menerapkan pola pembagian daging kurban yang lebih ramah lingkungan pada tahun-tahun mendatang.
“Harapan kami, ECO Qurban tidak hanya menjadi kegiatan sesaat saat Iduladha, tetapi menjadi budaya baru masyarakat. Ketika warga mulai terbiasa mengurangi penggunaan plastik, membawa wadah sendiri, dan lebih peduli terhadap lingkungan, maka manfaatnya akan dirasakan oleh banyak orang. Kurban tetap berjalan khidmat, masyarakat menerima manfaatnya, dan lingkungan tetap terjaga. Itulah semangat yang ingin terus kami bangun di RT 33 RW 07,” pungkas Yoni.(be)
310
Tidak ada komentar