Menuju Kota Kreatif Nasional dan Dunia, Wali Kota Banjarbaru Hj. Erna Lisa Halaby Tekankan Peran Camat dan Lurah dalam Gerakan Ekraf
waktu baca 4 menit
Jumat, 23 Jan 2026 03:03 287 Banjarbaru Emas 2
Foto : Wali Kota Banjarbaru Hj. Erna Lisa Halaby menyampaikan sambutannya pada pelantikan pengurus Komite Ekonomi Kreatif (KEK) Kota Banjarbaru periode 2025–2030, Kamis (22/1/2026)
BANJARBARUEMAS.COM – Sebelum memulai sambutannya pada pelantikan pengurus Komite Ekonomi Kreatif (KEK) Kota Banjarbaru periode 2025–2030, Wali Kota Banjarbaru Hj. Erna Lisa Halaby terlebih dahulu mengajukan satu pertanyaan yang menarik perhatian. Dari podium Aula Gawi Sabarataan, Kamis (22/1/2026), ia memastikan apakah seluruh camat dan lurah hadir lengkap dalam acara tersebut.
Pertanyaan singkat itu bukan tanpa makna. Bagi Wali Kota Lisa, kehadiran Camat dan Lurah menjadi penegasan bahwa ekonomi kreatif tidak boleh berhenti di tataran konsep, melainkan harus bergerak hingga ke tingkat paling bawah, kelurahan, bahkan komunitas warga.
“Ekonomi kreatif harus dirasakan manfaatnya oleh masyarakat secara langsung. Karena itu, lurah dan camat harus menjadi bagian dari gerakan ini,” ujar Wali Kota Lisa di hadapan pengurus KEK yang baru dilantik.
Penegasan itu sekaligus menjadi pesan utama kepada jajaran Komite Ekonomi Kreatif Banjarbaru di bawah kepemimpinan Ketua Umum H. Riandy Hidayat. KEK diminta tidak hanya menjadi lembaga koordinatif di tingkat kota, tetapi berfungsi sebagai motor penggerak yang mampu menjangkau pelaku kreatif di akar rumput.
Dalam sambutannya, Wali Kota Lisa menyampaikan ucapan selamat kepada seluruh pengurus KEK yang dilantik. Atas nama Pemerintah dan masyarakat Kota Banjarbaru, ia menyatakan keyakinannya bahwa KEK mampu menjadi mesin penggerak inovasi ekonomi kreatif daerah.
“Kami percaya saudara-saudara mampu menjadi penggerak bagi inovasi ekonomi kreatif Kota Banjarbaru,” ujarnya.
Wali Kota Lisa menegaskan sejumlah tugas utama yang perlu segera dijalankan KEK. Salah satunya adalah berperan sebagai akselerator—menjadi jembatan antara pemerintah, pelaku usaha, akademisi, dan komunitas kreatif. Selain itu, KEK juga diharapkan memfasilitasi pelaku kreatif lokal agar naik kelas, mulai dari peningkatan kualitas produk, pengemasan, hingga akses permodalan.
“Ekonomi kreatif harus tumbuh dari potensi lokal, tetapi mampu bersaing secara lebih luas,” kata Wali Kota.
Ia juga mendorong pengembangan potensi lokal yang unik sebagai identitas daerah, baik di sektor kuliner, kriya, fesyen, maupun digital. Identitas lokal tersebut, menurutnya, menjadi kekuatan Banjarbaru dalam peta ekonomi kreatif nasional.
Sejalan dengan itu, Wali Kota Lisa meminta agar kelurahan-kelurahan yang dicanangkan sebagai kelurahan kreatif dapat saling bekerja sama dengan berbagai pihak. Potensi lokal yang memiliki nilai ekonomi didorong untuk dikembangkan secara serius guna mendukung pertumbuhan ekonomi kreatif nasional.
Pada kesempatan tersebut, Pemerintah Kota Banjarbaru juga mencatat sejarah baru. Untuk pertama kalinya di Kalimantan Selatan, ditetapkan kelurahan kreatif sebagai bagian dari strategi menjadikan Banjarbaru sebagai kota kreatif nasional pada 2027 dan kota kreatif dunia pada 2029.
Lima kelurahan yang ditetapkan sebagai kelurahan kreatif adalah Kelurahan Sungai Tiung, Kelurahan Landasan Ulin Utara, Kelurahan Syamsudin Noor, Kelurahan Kemuning, dan Kelurahan Komet (Mentaos). Penetapan ini bukan tujuan akhir. Pemerintah Kota menargetkan seluruh kelurahan di Banjarbaru ke depan akan menjadi kelurahan kreatif sesuai dengan potensi masing-masing wilayah.
Komite Ekonomi Kreatif Banjarbaru sendiri telah memetakan kekuatan besar pada potensi budaya, sumber daya manusia muda, serta ruang-ruang kreatif yang tumbuh secara organik. Seluruh potensi tersebut dinilai perlu diintegrasikan dalam satu ekosistem ekonomi kreatif yang utuh.
Strategi kampung tematik dipilih sebagai pendekatan pembangunan berbasis lokal yang terhubung dengan agenda nasional. Melalui konsep “satu kota, banyak pengalaman”, setiap kecamatan diharapkan memiliki tema unggulan yang saling terhubung melalui sirkulasi wisata, ekonomi, dan budaya.
Beragam rencana pengembangan telah disiapkan, mulai dari kampung tematik seperti Kampung Asing, Kampung AI, Kampung Kuliner, Kampung Mbaroh, Kampung Creative, hingga Kampung Living Museum. Di sektor wisata kreatif, direncanakan pengembangan glamping, wisata alam buatan, sentra kuliner, pemancingan, hingga Banjarbaru Berlari Hub.
Selain itu, akan dikembangkan pula berbagai pusat aktivitas kreatif seperti BJB Hub Hutan Pinus–Hutan Mycelia, Banjarbaru Creative Hub, sharing center, pusat anime, e-sport center, dan otomotif. Agenda kompetisi kreatif juga menjadi bagian dari ekosistem, meliputi kompetisi kuliner dan gastronomi, e-sport, racing, anime competition, hingga creative competition.
Secara spesifik, masing-masing kelurahan kreatif memiliki konsep pengembangan yang berbeda. Kelurahan Sungai Tiung di Kecamatan Cempaka dikembangkan sebagai Living Museum dengan aktivitas budaya interaktif pendulangan intan, melibatkan pelaku lokal dan lingkungan otentik. Kelurahan Landasan Ulin Utara di Kecamatan Liang Anggang mengusung Kampung Mbaroh berbasis budaya dan agrowisata. Kelurahan Syamsudin Noor di Kecamatan Landasan Ulin diarahkan menjadi Kampung Event dan Kreatif dengan pasar UMKM dan festival budaya. Kelurahan Kemuning di Kecamatan Banjarbaru Selatan dikembangkan sebagai Kampung Wadai yang menguatkan tradisi kuliner lokal. Sementara Kelurahan Komet di Kecamatan Banjarbaru Utara diarahkan menjadi Kampung Artificial Intelligence dengan pengembangan jasa digital dan inkubasi AI.(be)
Tidak ada komentar