Catatan Perjalanan KEK Banjarbaru Menata Jalan Menuju Kota Kreatif Nasional (1)

waktu baca 4 menit
Senin, 9 Feb 2026 03:18 252 Banjarbaru Emas 2

BANJARBARUEMAS.COM – Pagi Jakarta belum sepenuhnya meninggalkan hiruk-pikuknya ketika rombongan Komite Ekonomi Kreatif (KEK) Kota Banjarbaru Emas melangkah masuk ke Gedung Sarinah, Jalan M.H. Thamrin, Menteng. Gedung ini bukan sekadar ruang pertemuan, melainkan penanda sejarah, dibangun atas gagasan Presiden Soekarno sebagai etalase kebanggaan bangsa, tempat produk, karya, dan martabat Indonesia diperlihatkan kepada dunia. Sarinah sejak awal dirancang sebagai simpul peradaban: pertemuan antara ekonomi, budaya, dan identitas nasional. Di ruang yang sarat jejak sejarah itulah Banjarbaru menitipkan harapan besar, menata masa depan sebagai kota kreatif nasional pada 2027, sebuah ikhtiar yang berpijak pada semangat lama tentang kemandirian, kreativitas, dan keberanian merancang masa depan.

Dipimpin Ketua Umum KEK Banjarbaru, H. Riandy Hidayat, rombongan yang didampingi Ketua Harian KEK Banjarbaru Emas sekaligus Koordinator Daerah ICCN Kalimantan Selatan, Narwanto, datang dengan membawa peta jalan, kegelisahan, sekaligus keyakinan bahwa potensi kreatif Banjarbaru harus dikelola dengan cara baru, lebih kolaboratif, lebih terukur, dan berpijak pada kekuatan warganya sendiri.

Pertemuan dengan Ketua Umum Indonesia Creative Cities Network (ICCN), Tb. Fiki C. Satari, dan jajaran 5 Februari 2026 di Kantor InJourney Sarinah menjadi ruang belajar yang penting. Riandy berharap seluruh pengurus yang hadir menyerap cara berpikir, kerangka kerja, dan nilai-nilai yang selama ini membentuk jejaring kota kreatif di Indonesia.

ICCN, bagi Banjarbaru, bukan hanya jejaring. Ia adalah kompas. Selama satu dekade terakhir, jejaring ini menjadi simpul pertemuan kota-kota yang percaya bahwa pembangunan harus dimulai dari ide, karya, dan manusia.

Riandy menyebut ICCN sebagai mitra strategis yang relevan bagi Banjarbaru. Kota yang relatif muda ini menyimpan modal sosial yang kuat: komunitas kreatif yang hidup, generasi muda yang adaptif, serta kekayaan budaya Banjar yang belum sepenuhnya diterjemahkan menjadi nilai ekonomi.

Paparan KEK Banjarbaru Emas menggarisbawahi visi besar yang tengah dibangun. Bukan sekadar mengejar label kota kreatif, melainkan menyiapkan ekosistemnya. Keterlibatan komunitas, penguatan UMKM kreatif, hingga peran generasi muda ditempatkan sebagai poros utama. Ekonomi kreatif tidak dilihat sebagai sektor tambahan, tetapi sebagai cara baru membaca pembangunan kota.

Dalam diskusi itulah, sepuluh prinsip kota kreatif yang lahir dari Konferensi Kota Kreatif di Bandung pada 27 April 2015 kembali menemukan relevansinya. Kota kreatif, sebagaimana dipahami bersama dalam jejaring ICCN, adalah kota yang welas asih dan inklusif; kota yang memuliakan keberagaman, melindungi hak asasi manusia, dan memberi ruang tumbuh bagi kreativitas warganya. Ia tumbuh selaras dengan lingkungan, merawat sejarah sembari menatap masa depan, dikelola secara transparan, dan berorientasi pada kesejahteraan serta kualitas hidup masyarakat. Bahkan hingga cara kota memandang energi, fasilitas publik, dan kelompok rentan, semua menjadi bagian dari ukuran kreativitas.

Dari prinsip-prinsip itulah lahir Catha Ekadasa “11 jurus menuju kota kreatif” yang menjadi rujukan penting bagi KEK Banjarbaru dalam menyusun langkah ke depan. Mulai dari Forum Lintas Komunitas sebagai ruang temu ide dan aspirasi warga, hingga pembentukan Komite Ekonomi Kreatif yang bekerja lintas OPD dan masyarakat. Semua dirancang agar kebijakan tidak lahir di ruang hampa, melainkan dari praktik dan kebutuhan nyata.

Pendekatan ekosistem ekonomi kreatif berbasis Iterasatari—iterasi yang berkelanjutan, menjadi landasan kerja. SDM, karya, pasar, dan litbang dipandang sebagai satu kesatuan yang saling menguatkan. Program tidak berhenti pada perencanaan, tetapi diuji, dievaluasi, dan direplikasi sesuai konteks lokal Banjarbaru.

Navigasi pembangunan kreatif pun disusun dengan menempatkan sejarah, arsitektur, dan kuliner sebagai fondasi identitas kota. Di titik ini, Banjarbaru tidak diposisikan sebagai kota yang meniru, melainkan kota yang menemukan keunikan dirinya sendiri. Musrenbang interaktif dengan pendekatan design action dirancang untuk memastikan partisipasi warga tidak bersifat simbolik, tetapi produktif.

Semua itu kelak diukur melalui Indeks Kota Kreatif, sebuah dashboard data yang membantu kepala daerah membaca capaian dan kekurangan secara objektif. Creative center dirancang sebagai ruang temu fisik dan ekosistemik, sementara strategi komunikasi dan city branding disiapkan agar cerita Banjarbaru sampai dengan utuh ke publik. Festival komunitas dan peran agregator ekonomi kreatif menjadi ujung tombak perputaran ekonomi dan akses pasar.

Pertemuan di Sarinah itu akhirnya menjadi cermin bagi Banjarbaru untuk menakar sejauh mana kesiapan kota ini menjemput 2027. Di tengah arus pembangunan yang kerap seragam, Banjarbaru memilih jalur yang lebih pelan namun berjangka panjang: membangun kota dari kreativitas warganya. Pilihan ini menemukan relevansinya di Sarinah, ruang yang sejak awal dirancang untuk menunjukkan arah.

Sarinah lahir dari gagasan Presiden Soekarno tentang kemandirian ekonomi dan martabat bangsa. Dibangun pada awal 1960-an sebagai pusat perbelanjaan modern pertama di Indonesia, gedung ini dimaksudkan menjadi etalase produk dalam negeri, ruang bagi usaha rakyat, serta simbol keberpihakan pada mereka yang kerap berada di pinggir arus modernisasi. Di sini, modernitas tidak dipisahkan dari keberpihakan; kemajuan tidak dilepaskan dari manusia.

Ketika rombongan KEK Banjarbaru Emas meninggalkan Sarinah, Jakarta tetap bising seperti biasa. Namun langkah yang kembali ke Banjarbaru membawa kesadaran baru: kota kreatif bukanlah tujuan yang bisa dituntaskan dengan satu festival atau satu pengakuan. Ia adalah proses panjang,merawat ide, menumbuhkan kolaborasi, dan memastikan pembangunan tetap berpijak pada warga. Seperti Sarinah dalam imajinasi awalnya, Banjarbaru sedang belajar bahwa masa depan kota dibangun bukan hanya dengan gagasan besar, tetapi dengan keberanian untuk setia pada makna.(be)

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

LAINNYA