BANJARBARUEMAS.COM – Di tengah meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap persoalan sampah plastik, warga RT 24 RW 06 Kelurahan Sungai Ulin menunjukkan langkah nyata melalui pelaksanaan ECO Qurban pada Iduladha 1447 Hijriah. Tidak hanya berfokus pada ibadah dan semangat berbagi, panitia kurban juga mengedepankan kepedulian terhadap lingkungan dengan menggunakan daun pisang sebagai pembungkus daging kurban yang dibagikan kepada warga.
Pemandangan tersebut terlihat di Masjid Riyadlul Jannah, Jalan Sirkuit RT 24 RW 06 Kelurahan Sungai Ulin, Rabu (27/5/2026). Sejak pagi, warga bergotong royong mengikuti rangkaian penyembelihan hewan kurban. Di lokasi itu, panitia menyembelih dua ekor sapi dan mendistribusikan daging kurban kepada masyarakat tanpa menggunakan kantong plastik sekali pakai.
Sebagai gantinya, panitia menyiapkan daun pisang yang digunakan untuk membungkus daging sebelum dibagikan kepada warga. Cara tradisional yang dulu lazim digunakan masyarakat tersebut kini kembali dihidupkan sebagai solusi sederhana untuk mengurangi timbulan sampah plastik saat Iduladha.
Di tengah aktivitas pemotongan dan pembagian daging, tumpukan daun pisang terlihat menggantikan peran kantong kresek yang selama bertahun-tahun menjadi pilihan utama dalam distribusi daging kurban. Selain lebih ramah lingkungan, penggunaan daun pisang juga menghadirkan nilai budaya dan kearifan lokal yang mulai jarang ditemukan dalam kehidupan masyarakat modern.
Ketua Lembaga Pemberdayaan Masyarakat (LPM) Kelurahan Sungai Ulin, Hasan, mengatakan penggunaan daun pisang dalam pembagian daging kurban merupakan bentuk dukungan masyarakat terhadap gerakan ECO Qurban yang terus didorong Pemerintah Kota Banjarbaru melalui Surat Edaran Wali Kota tentang pelaksanaan Iduladha tanpa kantong plastik sekali pakai.
Menurutnya, pelaksanaan kurban seharusnya tidak hanya menghadirkan manfaat sosial dan spiritual, tetapi juga memberi dampak positif bagi lingkungan.
“Di Masjid Riyadlul Jannah Jalan Sirkuit RT 24 RW 06, pembagian daging kurban menggunakan daun pisang. Tujuannya untuk mengurangi volume sampah plastik yang biasanya meningkat saat pelaksanaan Iduladha. Kami ingin ibadah kurban tidak hanya membawa keberkahan bagi masyarakat, tetapi juga keberkahan bagi lingkungan,” ujar Hasan.
Ia menjelaskan, kesadaran masyarakat untuk mengurangi penggunaan plastik sekali pakai terus meningkat. Hal itu terlihat dari dukungan warga yang menyambut positif penggunaan daun pisang sebagai pengganti kantong plastik.
Menurut Hasan, penggunaan daun pisang juga menjadi cara sederhana untuk mengedukasi masyarakat bahwa menjaga lingkungan dapat dimulai dari langkah kecil di lingkungan sekitar.
“Banyak warga yang senang karena ini mengingatkan kembali pada kebiasaan orang tua dulu yang menggunakan bahan alami untuk membungkus makanan. Selain lebih ramah lingkungan, daun pisang juga mudah didapat dan tidak menjadi sampah yang mencemari lingkungan,” katanya.
Pelaksanaan kurban di RT 24 RW 06 sendiri berlangsung cukup semarak. Tahun ini, tercatat sebanyak 12 ekor sapi dikurbankan di lingkungan RT tersebut yang tersebar di beberapa titik pelaksanaan.
Salah satu hewan kurban merupakan bantuan dari Wali Kota Banjarbaru Hj. Erna Lisa Halaby yang disalurkan kepada masyarakat Sungai Ulin. Bantuan tersebut disembelih pada pelaksanaan kurban di kawasan Jalan Sinar Baru RT 24 RW 06 Kelurahan Sungai Ulin.
Menariknya, panitia di lokasi tersebut juga menerapkan konsep yang sama dengan menggunakan daun pisang sebagai pembungkus daging kurban kepada masyarakat.
Dengan demikian, semangat ECO Qurban tidak hanya diterapkan di satu lokasi, tetapi menjadi gerakan bersama warga RT 24 RW 06 dalam mendukung pengurangan sampah plastik saat Iduladha.
Hasan menilai langkah tersebut membuktikan bahwa masyarakat semakin memahami pentingnya menjaga lingkungan melalui kegiatan keagamaan. Menurutnya, Iduladha menjadi momentum yang tepat untuk membangun kebiasaan baru yang lebih ramah lingkungan di tengah masyarakat.
Ia berharap penggunaan daun pisang dan bahan alami lainnya dapat menjadi alternatif yang terus digunakan pada tahun-tahun mendatang, sehingga volume sampah plastik saat pelaksanaan kurban dapat terus ditekan.
Selain mengurangi sampah, penggunaan bahan alami juga dinilai mampu menghidupkan kembali nilai-nilai kearifan lokal yang selama ini menjadi bagian dari budaya masyarakat Banjar.
“Yang terpenting dari gerakan ini bukan sekadar mengganti plastik dengan daun pisang. Kami ingin menanamkan kesadaran bahwa menjaga lingkungan adalah tanggung jawab bersama. Jika setiap RT, masjid, dan panitia kurban mulai mengurangi penggunaan plastik sekali pakai, maka dampaknya akan sangat besar bagi kebersihan kota. Semoga ECO Qurban menjadi budaya baru masyarakat Banjarbaru, sehingga semangat berbagi dalam Iduladha berjalan seiring dengan semangat menjaga lingkungan untuk generasi yang akan datang,” tutup Hasan.(be)
374
Tidak ada komentar