UMB Dorong Ekonomi Sirkular di Banjarbaru, Limbah Kayu Galam Disulap Jadi Insektisida Nabati dan Lilin Aromaterapi

waktu baca 5 menit
Sabtu, 11 Jul 2026 09:43 254 Banjarbaru Emas 2

BANJARBARUEMAS.COM – Universitas Muhammadiyah Banjarmasin (UMB) mendorong penerapan ekonomi sirkular berbasis potensi lokal melalui pengolahan limbah kulit kayu galam menjadi insektisida nabati dan lilin aromaterapi. Inovasi tersebut diperkenalkan kepada masyarakat Kelurahan Landasan Ulin Selatan, Kota Banjarbaru, sebagai upaya meningkatkan nilai tambah komoditas lokal sekaligus membuka peluang ekonomi baru berbasis hasil riset.

Upaya tersebut diwujudkan Tim Dosen Universitas Muhammadiyah Banjarmasin (UMB) yang diketuai M. Awaludin Fajri melalui Program Pengabdian Pemberdayaan Kemitraan Masyarakat (PKM) bertajuk Pemberdayaan Masyarakat Kelurahan Landasan Ulin Selatan Melalui Inovasi Insektisida dan Lilin Aromaterapi dari Limbah Kayu Galam. Kegiatan digelar di Posko MPB RT 02, Kelurahan Landasan Ulin Selatan, Kecamatan Liang Anggang, Kota Banjarbaru, Sabtu (11/7/2026).

Kegiatan tersebut dihadiri Lurah Landasan Ulin Selatan, Kelompok Wanita Tani (KWT) Pucuk Galam, Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL), Ketua RT 02, para ketua RT, Babinpotdirga TNI AU, mahasiswa, serta tim dosen Universitas Muhammadiyah Banjarmasin. Selain menjadi ajang transfer pengetahuan, kegiatan ini juga bertujuan membangun kesadaran masyarakat bahwa potensi lokal dapat menjadi sumber pertumbuhan ekonomi baru apabila dikelola melalui riset, inovasi, dan kolaborasi.

Bagi masyarakat Landasan Ulin Selatan, kayu galam bukanlah tanaman asing. Kawasan Pengayuan di wilayah ini telah lama dikenal sebagai salah satu sentra perdagangan dan pengolahan kayu galam terbesar di Kalimantan Selatan. Batang-batang galam dari berbagai kawasan rawa setiap hari dipasok ke wilayah tersebut untuk dikupas sebelum dipasarkan sebagai cerucuk, tiang pancang, perancah bangunan, hingga material konstruksi di lahan rawa dan gambut.

Di balik tingginya aktivitas ekonomi tersebut, tersimpan persoalan yang selama ini belum banyak mendapat perhatian. Kulit kayu hasil pengupasan umumnya hanya dimanfaatkan sebagai kayu bakar atau bahkan menjadi limbah yang menumpuk di sekitar galangan.

Melihat kondisi itu, Universitas Muhammadiyah Banjarmasin menghadirkan solusi berbasis riset melalui pemanfaatan limbah kulit kayu galam menjadi insektisida nabati dan lilin aromaterapi. Inovasi tersebut diharapkan mampu menjawab dua persoalan sekaligus, yakni mengurangi limbah dan menciptakan produk baru yang memiliki nilai ekonomi.

Berdasarkan berbagai kajian, kulit kayu galam mengandung senyawa metabolit sekunder seperti fenolik, flavonoid, tanin, dan terpenoid yang berpotensi dimanfaatkan sebagai bahan baku insektisida nabati ramah lingkungan.
Potensi tersebut menjadi dasar pengembangan inovasi yang diperkenalkan kepada masyarakat sebagai alternatif pemanfaatan limbah kayu galam yang lebih produktif dan bernilai tambah.

Dalam pelatihan tersebut, peserta diperkenalkan pada tahapan sortasi bahan baku, proses pengeringan, teknik maserasi sederhana, hingga pengolahan ekstrak kulit kayu galam yang selanjutnya berpotensi dikembangkan sebagai bahan aktif insektisida nabati setelah melalui tahapan uji keamanan dan efektivitas. Selain menghasilkan insektisida nabati, limbah kulit kayu galam juga diolah menjadi lilin aromaterapi sebagai salah satu produk turunan yang memiliki nilai ekonomi sekaligus mendukung penerapan konsep ekonomi sirkular.

Selain mendorong lahirnya produk inovatif, kegiatan ini juga memberikan edukasi mengenai pentingnya menjaga kesehatan lingkungan.

Fajri menjelaskan, lalat merupakan salah satu vektor penyakit yang dapat membawa berbagai mikroorganisme penyebab diare, disentri, demam tifoid, kolera, keracunan makanan, hingga infeksi cacing usus.

“Kami ingin mengubah cara pandang masyarakat bahwa pengendalian lalat tidak selalu bergantung pada bahan kimia. Kulit kayu galam memiliki potensi menjadi insektisida nabati yang lebih ramah lingkungan, tetapi keberhasilannya tetap harus didukung perilaku hidup bersih melalui gerakan 5M agar rantai penularan penyakit dapat diputus,” ungkap Fajri.

Ia menjelaskan, melalui inovasi insektisida nabati berbahan kulit kayu galam, masyarakat diperkenalkan pada alternatif pengendalian lalat yang lebih ramah lingkungan dibandingkan penggunaan bahan kimia sintetis. Edukasi tersebut juga dipadukan dengan penerapan gerakan 5M, yakni menutup makanan, menutup tempat sampah, membersihkan lingkungan, menguras saluran air, serta membuang sampah pada tempatnya sebagai langkah sederhana mencegah berkembangnya lalat dan penyakit yang ditularkannya.

Program pengabdian ini juga menjadi bagian dari upaya mendorong hilirisasi potensi kayu galam di Banjarbaru. Selama ini, kayu galam lebih dikenal sebagai material konstruksi dengan nilai ekonomi yang relatif terbatas.
Padahal, melalui pendekatan riset, inovasi, dan ekonomi kreatif, kayu beserta limbahnya dapat dikembangkan menjadi berbagai produk bernilai tambah.

Tidak hanya insektisida nabati dan lilin aromaterapi, kayu galam juga berpeluang dikembangkan menjadi furnitur, elemen interior, kerajinan, hingga berbagai produk ekonomi kreatif lainnya yang memiliki daya saing lebih tinggi.

Sementara itu, Lurah Landasan Ulin Selatan, Yadi, mengapresiasi pelaksanaan program pengabdian tersebut karena dinilai mampu menjawab persoalan lingkungan sekaligus membuka peluang peningkatan ekonomi masyarakat.

“Kami menyambut baik kegiatan ini karena selain membantu mengatasi permasalahan limbah kulit kayu galam yang selama ini belum termanfaatkan secara optimal, juga diharapkan mampu meningkatkan pendapatan masyarakat, khususnya anggota KWT Pucuk Galam,” ujarnya.

Menurut Yadi, kegiatan tersebut menjadi bukti bahwa hasil penelitian perguruan tinggi dapat diterapkan langsung untuk memberikan manfaat nyata kepada masyarakat.

“Kami berharap kerja sama serupa juga dapat terjalin dengan berbagai instansi pendidikan maupun perguruan tinggi yang memiliki ketertarikan terhadap potensi-potensi yang belum tergali, khususnya di wilayah Kelurahan Landasan Ulin Selatan. Kami optimistis melalui penelitian, inovasi, dan pendampingan, potensi lokal dapat berkembang menjadi produk unggulan yang memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat,” katanya.

Yadi menilai potensi kayu galam di Banjarbaru masih sangat besar untuk dikembangkan.

“Selama ini kayu galam dikenal memiliki nilai ekonomi yang relatif rendah apabila hanya dijual sebagai bahan baku. Namun melalui inovasi desain dan pengolahan kreatif, seperti furnitur, elemen interior, produk kesehatan, maupun kerajinan, kayu galam memiliki peluang menghasilkan nilai tambah yang jauh lebih tinggi. Inilah yang perlu terus kita dorong bersama,” tambahnya.

Program pengabdian Universitas Muhammadiyah Banjarmasin ini menjadi contoh nyata penerapan ekonomi sirkular di tingkat masyarakat. Melalui konsep tersebut, limbah kulit kayu galam yang sebelumnya tidak memiliki nilai ekonomi diolah kembali menjadi produk yang bermanfaat, bernilai jual, dan ramah lingkungan.

Pendekatan ini tidak hanya mengurangi timbulan limbah, tetapi juga menciptakan rantai nilai baru yang mampu membuka peluang usaha, meningkatkan pendapatan masyarakat, sekaligus memperkuat pemanfaatan sumber daya lokal secara berkelanjutan.

Melalui kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah kelurahan, kelompok tani, dan masyarakat, Landasan Ulin Selatan diharapkan tidak hanya dikenal sebagai sentra perdagangan kayu galam di Kalimantan Selatan, tetapi juga berkembang sebagai pusat inovasi ekonomi sirkular berbasis kayu galam. Dari kawasan inilah diharapkan lahir berbagai produk unggulan hasil hilirisasi sumber daya lokal yang memiliki nilai ekonomi tinggi, memperkuat kesejahteraan masyarakat, serta mendukung pelestarian lingkungan secara berkelanjutan. (be)

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

LAINNYA