Mahasiswa KKN ULM Sulap Tutup Botol Bekas Jadi Lukisan, Inovasi Ketua RT Banjarbaru Ubah Sampah Bernilai Seni

waktu baca 5 menit
Minggu, 26 Jul 2026 12:45 289 Banjarbaru Emas 2

Dari Rumah Pilah Sampah di Syamsudin Noor, Mahasiswa Diajak Melihat Bahwa Limbah Plastik Tak Selalu Berakhir di Tempat Sampah, tetapi Bisa Menjadi Karya Seni Bernilai Tinggi

BANJARBARUEMAS.COM – Puluhan mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Tematik Lingkungan Universitas Lambung Mangkurat (ULM) tampak serius mengelilingi meja kerja di Rumah Pilah Sampah RT 33 RW 07 Kelurahan Syamsudin Noor, Kecamatan Landasan Ulin, Kota Banjarbaru, Minggu (26/7/2026). Di hadapan mereka bukan cat minyak ataupun kanvas, melainkan ratusan tutup botol plastik bekas yang telah dipilah berdasarkan warna.

Perlahan, benda yang selama ini dianggap tidak bernilai itu berubah menjadi sebuah lukisan. Para mahasiswa ikut mencuci, mengeringkan, memilah warna, melelehkan plastik, hingga menyusunnya menjadi karya seni. Pengalaman tersebut menjadi pembelajaran langsung bahwa persoalan sampah dapat diselesaikan melalui kreativitas.

Kegiatan edukasi itu dipandu oleh Yoni Setiawan, Ketua RT 33 RW 07 Kelurahan Syamsudin Noor, yang selama ini dikenal aktif mengembangkan berbagai inovasi pengelolaan sampah berbasis masyarakat.
Melalui kegiatan tersebut, Yoni ingin menunjukkan bahwa tutup botol plastik berbahan high-density polyethylene (HDPE) tidak harus berakhir sebagai limbah, tetapi dapat diolah menjadi produk kreatif yang memiliki nilai estetika sekaligus nilai ekonomi.

“Hari ini kita mencoba membuat perubahan dan inovasi baru dari tutup botol yang sebelumnya dipandang tidak bermanfaat.
Harapan kami, suatu saat nanti tutup botol justru menjadi rebutan karena selalu dibutuhkan oleh para seniman. Kalau itu terjadi, berarti masyarakat sudah melihat sampah sebagai sumber daya, bukan lagi barang buangan,” ujar Yoni.

Belajar dari Yogyakarta, Berkarya di Banjarbaru

Inovasi tersebut berawal dari pengalaman Yoni mengikuti program Corporate Social Responsibility (CSR) salah satu Badan Usaha Milik Negara (BUMN) ke Yogyakarta.

Dalam kunjungan itu, ia melihat secara langsung bagaimana limbah tutup botol HDPE dimanfaatkan menjadi berbagai produk bernilai, seperti plakat, meja, aksesori, hingga karya seni.

Pengalaman tersebut membuka cara pandangnya terhadap pengelolaan sampah. Ia kemudian mempelajari karakteristik plastik HDPE dan mulai melakukan berbagai percobaan setelah kembali ke Banjarbaru.

Berbekal peralatan sederhana, Yoni akhirnya berhasil menemukan teknik mengolah tutup botol menjadi lukisan yang dapat dipraktikkan oleh masyarakat tanpa membutuhkan mesin industri.

“Saya berpikir, kalau di tempat lain tutup botol bisa menjadi produk bernilai, mengapa di Banjarbaru tidak? Saya ingin masyarakat melihat bahwa kreativitas bisa dimulai dari barang yang paling sederhana sekalipun,” katanya.

Menurut Yoni, hingga kini masih sedikit orang yang memanfaatkan tutup botol bekas sebagai media seni. Karena itu, ia berharap inovasi tersebut dapat menjadi inspirasi bagi masyarakat, komunitas, maupun sekolah untuk mengembangkan kegiatan serupa.

Dari Pemilahan hingga Menjadi Lukisan

Di balik sebuah lukisan yang tampak indah, terdapat proses panjang yang membutuhkan kesabaran dan ketelitian.

Yoni menjelaskan, seluruh bahan berasal dari tutup botol plastik yang sebelumnya dipilah oleh warga melalui Rumah Pilah Sampah RT 33.

Setelah terkumpul, tutup botol dimasukkan ke dalam karung, kemudian dicuci menggunakan air sabun untuk menghilangkan sisa minuman, debu, maupun kotoran yang menempel.

Selanjutnya, tutup botol dibilas menggunakan air bersih dan ditiriskan hingga benar-benar kering.

Tahap berikutnya adalah mengelompokkan tutup botol berdasarkan warna. Proses ini menjadi kunci utama karena setiap warna akan membentuk pola gambar layaknya sapuan kuas pada sebuah lukisan.

Setelah seluruh bahan siap, kompor dan wajan anti lengket digunakan untuk melelehkan plastik HDPE.

Material yang telah meleleh kemudian ditempatkan di atas media tripleks sesuai pola gambar yang telah dirancang sebelumnya.

Usai seluruh bidang gambar selesai, permukaan karya diamplas menggunakan gerinda amplas agar menghasilkan tekstur yang halus.

Tahap terakhir adalah proses finishing dengan memasang bingkai pigura sehingga lukisan siap dipajang.

“Prosesnya memang panjang. Mulai dari memilah, mencuci, mengeringkan, mengelompokkan warna, melelehkan, membentuk gambar sampai finishing. Tetapi justru proses itulah yang membuat karya ini memiliki nilai,” jelas Yoni.

Pengalaman Baru bagi Mahasiswa

Bagi mahasiswa KKN Tematik ULM, kegiatan tersebut menjadi pengalaman yang berbeda dari aktivitas perkuliahan.

Mereka tidak hanya mempelajari teori pengelolaan sampah, tetapi juga merasakan secara langsung bagaimana sebuah limbah dapat berubah menjadi karya seni.

Salah seorang mahasiswa, Aiman, mengaku awalnya mengira proses membuat lukisan dari tutup botol sangat sederhana.

Namun setelah ikut mempraktikkan setiap tahapan, ia menyadari bahwa pekerjaan tersebut membutuhkan konsentrasi, ketelitian, dan kesabaran.

“Ini pengalaman baru bagi kami. Awalnya kami mengira mudah karena hanya melihat hasil akhirnya. Ternyata setelah mencoba sendiri, setiap tahap membutuhkan ketelitian, mulai dari memilah warna sampai menyusun pola. Kami jadi memahami bahwa sampah ternyata bisa dimanfaatkan menjadi sesuatu yang jauh lebih bermanfaat,” ujar Aiman.

Ia menambahkan, teman-teman mahasiswa lainnya juga menunjukkan antusiasme tinggi selama mengikuti kegiatan tersebut.

Menurutnya, inovasi yang diperkenalkan Yoni memberikan perspektif baru bahwa pengelolaan sampah tidak hanya berkaitan dengan kebersihan lingkungan, tetapi juga dapat menjadi bagian dari ekonomi kreatif.

Berhasil Menyelesaikan Lukisan Pertama

Semangat para mahasiswa terlihat sepanjang kegiatan berlangsung.

Dengan arahan Yoni, mereka bekerja sama menyusun warna demi warna hingga membentuk sebuah gambar utuh.

Di akhir kegiatan, mahasiswa KKN Tematik ULM berhasil menyelesaikan satu lukisan berbahan dasar tutup botol plastik bekas.

Meski masih merupakan karya perdana, hasil tersebut menjadi simbol bahwa limbah plastik dapat memiliki kehidupan baru ketika diolah dengan kreativitas.

Membangun Kesadaran Lingkungan dari Tingkat RT

Bagi Yoni, karya seni bukanlah tujuan akhir.

Yang jauh lebih penting adalah membangun budaya memilah sampah sejak dari rumah.

Ia berharap semakin banyak warga yang tidak lagi membuang tutup botol bersama sampah lainnya, melainkan mengumpulkannya sebagai bahan baku karya kreatif.

Menurutnya, ketika masyarakat mulai menyadari bahwa sampah memiliki nilai ekonomi, kebiasaan membuang limbah sembarangan akan perlahan berubah menjadi budaya mengelola dan memanfaatkannya.(be)

 

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

LAINNYA