Usai Rakornas, Wali Kota Banjarbaru Hj Erna Lisa Halaby Temui Menteri Lingkungan Hidup, Tegaskan Komitmen Tangani Persoalan Sampah

waktu baca 3 menit
Selasa, 3 Feb 2026 14:50 419 Banjarbaru Emas 2

BANJARBARUEMAS.COM — Komitmen Pemerintah Kota Banjarbaru dalam menangani persoalan lingkungan, khususnya pengelolaan sampah, kembali ditegaskan Wali Kota Banjarbaru Hj. Erna Lisa Halaby. Sehari setelah mengikuti pengarahan Presiden Prabowo Subianto pada Rapat Koordinasi Nasional Pemerintah Pusat dan Daerah Tahun 2026 di Kabupaten Bogor pada Senin (2/2/2026), Erna Lisa tidak langsung kembali ke Banjarbaru.

Ia memanfaatkan momentum tersebut dengan melakukan kunjungan kerja ke Kementerian Lingkungan Hidup Republik Indonesia di Jakarta Selasa (3/2/2026) . Bersama jajaran pejabat Dinas Lingkungan Hidup Kota Banjarbaru, Wali Kota Erna Lisa bertemu Menteri Lingkungan Hidup Hanif Faisol Nurofiq untuk menyampaikan secara langsung kondisi, tantangan, serta arah kebijakan pengelolaan sampah di Kota Banjarbaru.

Dalam pertemuan tersebut, Wali Kota Lisa menekankan bahwa persoalan sampah telah menjadi isu strategis yang membutuhkan pendekatan menyeluruh dan dukungan lintas level pemerintahan. Banjarbaru, sebagai kota penyangga utama Ibu Kota Nusantara (IKN), menghadapi tekanan urbanisasi yang berdampak linier terhadap peningkatan volume timbulan sampah harian.

“Pertumbuhan kota membawa konsekuensi lingkungan yang harus dikelola dengan kebijakan yang tepat dan berkelanjutan,” ujar Erna Lisa.

Ia menjelaskan bahwa keterbatasan kapasitas infrastruktur eksisting, termasuk Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Gunung Kupang, menuntut Pemerintah Kota Banjarbaru untuk melakukan transformasi sistem pengelolaan sampah, dari pola konvensional menuju sistem yang terintegrasi, berbasis data, dan melibatkan partisipasi masyarakat.

Dalam kesempatan itu, Erna Lisa memaparkan berbagai langkah konkret yang telah dan sedang dilakukan Pemkot Banjarbaru. Hingga kini, sekitar 80 unit bank sampah telah aktif di tingkat kelurahan dan lingkungan. Sistem tersebut diperkuat dengan lima bank sampah induk yang telah diresmikan dan ditempatkan di tiap kecamatan sebagai pusat pengelolaan dan koordinasi.

Saat peresmian bank sampah induk pada tahun sebelumnya, Wali Kota Lisa menegaskan bahwa pengelolaan sampah merupakan isu penting yang menjadi perhatian serius pemerintah daerah. Bank sampah induk, menurutnya, tidak hanya berfungsi sebagai tempat pengumpulan, tetapi juga sebagai pusat pembinaan, standarisasi, dan integrasi sistem.

“Bank sampah induk ini akan berfungsi sebagai pusat koordinasi, pembinaan, dan pengelolaan. Keberadaannya di tiap kecamatan diharapkan mampu mengarahkan bank sampah unit di tingkat kelurahan dan lingkungan agar lebih terintegrasi,” ujarnya.

Wali Kota Banjarbaru juga menyampaikan kebutuhan dukungan sarana dan prasarana pengelolaan sampah terintegrasi kepada Kementerian Lingkungan Hidup. Dukungan tersebut mencakup penguatan bank sampah induk melalui penyediaan peralatan operasional, seperti mesin pencacah, mesin press hidraulik, serta armada angkut untuk menjamin efisiensi logistik.

Erna Lisa juga memaparkan rencana pengembangan Banjarbaru Waste Intelligence Hub, sebuah pusat pengelolaan data dan pengambilan keputusan yang mengadaptasi konsep Waste Crisis Center. Melalui sistem ini, data dari bank sampah unit, termasuk di sekolah dan kampung—akan dihimpun dan diolah secara digital untuk memetakan aliran material dari hulu ke hilir.

Pendekatan Material Flow Analysis dinilai penting untuk mengidentifikasi titik-titik timbulan sampah yang memerlukan intervensi tambahan, baik berupa alat angkut maupun penguatan pengolahan. Bank Sampah Induk diposisikan sebagai simpul utama konsolidasi material, dengan fungsi standarisasi, pemrosesan awal, dan manajemen logistik skala kota.

Selain penguatan di hilir, Wali Kota Banjarbaru juga menekankan pentingnya pemberdayaan masyarakat melalui pengembangan Kampung Sirkular. Fokus utama program ini adalah pemilahan sampah di sumber serta pengolahan sampah organik, yang selama ini menjadi kontributor terbesar timbulan sampah perkotaan. Untuk lima kampung sirkular percontohan, peralatan yang diajukan dirancang sederhana, mudah dioperasikan, dan memberikan dampak ekonomi langsung bagi warga.

Melalui integrasi manajemen data, penguatan bank sampah induk, pemberdayaan kampung sirkular, serta pembentukan karakter lingkungan di sekolah, Erna Lisa menegaskan kesiapan Banjarbaru untuk berkontribusi dalam pencapaian target nasional Indonesia Zero Waste 2040.

“Kami ingin memastikan pengelolaan sampah dimulai dari sumbernya, melibatkan warga sebagai pelaku utama perubahan. Ketika data dikelola dengan baik, bank sampah diperkuat, kampung sirkular diberdayakan, dan kesadaran lingkungan ditanamkan sejak sekolah, maka pengelolaan sampah di Banjarbaru tidak lagi menjadi beban, melainkan fondasi pembangunan kota yang berkelanjutan,” ujar Erna Lisa.(be)

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

LAINNYA