Komite Ekonomi Kreatif Banjarbaru Siapkan Kecamatan Cempaka sebagai Living Museum

waktu baca 5 menit
Rabu, 14 Jan 2026 12:06 503 Banjarbaru Emas 2

BANJARBARUEMAS.COM — Rencana Komite Ekonomi Kreatif (KEK) Kota Banjarbaru untuk melakukan audiensi dengan sejumlah kementerian menjadi titik awal lahirnya gagasan pengembangan Kecamatan Cempaka sebagai Living Museum.

Ketua Umum KEK Kota Banjarbaru H. Riandy Hidayat, SE, MM menilai, sebelum membawa Banjarbaru ke level kebijakan nasional, potensi yang hidup di masyarakat harus digali dan dipetakan secara serius.

Riandy menyebut, KEK Banjarbaru telah membangun komunikasi kelembagaan dengan empat kementerian (Kementerian Pariwisata, Kementerian Kebudayaan, Kementerian Ekonomi Kreatif, dan Kementerian Lingkungan Hidup) dalam rangka audiensi terkait pengembangan ekonomi kreatif di Kota Banjarbaru.

Sebagai bahan utama audiensi tersebut, Riandy meminta jajaran KEK untuk turun langsung menggali potensi di tingkat kecamatan.

“Sebagai bahan audiensi dengan empat Kementerian, kami ingin menunjukkan bahwa Banjarbaru memiliki ekosistem kreatif yang hidup” ujar Riandy.

Riandy juga menegaskan, pengembangan Living Museum Cempaka tidak berdiri sendiri, melainkan menjadi bagian dari peta jalan besar ekonomi kreatif Banjarbaru.

“Audiensi KEK Banjarbaru ke kementerian harus ditopang data yang kuat dari bawah. Karena itu kami minta potensi di setiap kecamatan digali sedalam mungkin—bukan hanya data, tetapi praktik, cerita, dan manusia yang menjaganya,” katanya.

Atas arahan tersebut, pengurus KEK Kota Banjarbaru kemudian memulai proses penggalian potensi di Kecamatan Cempaka, yang dipandang memiliki kekuatan historis dan kultural paling menonjol. Proses ini diwujudkan melalui Focus Group Discussion (FGD) yang digelar di Aula Kelurahan Sungai Tiung, Kecamatan Cempaka, Rabu (14/1/2026).

FGD tersebut difasilitasi Pemerintah Kecamatan Cempaka dan melibatkan seluruh lurah se-Kecamatan Cempaka, tokoh masyarakat, penggerak komunitas, kelompok sadar wisata (Pokdarwis), serta pegiat ekonomi kreatif lokal. Kegiatan ini menjadi langkah awal konkret dalam menggali dan memetakan potensi Banjarbaru, khususnya Cempaka, sebagai fondasi penguatan ekonomi kreatif daerah.

Dalam FGD tersebut, setiap kelurahan diminta memetakan potensi wilayah berdasarkan tujuh aset utama, yakni aset spiritual, sejarah, alam, lingkungan, budaya, manusia, serta aset lainnya. Pendekatan ini menegaskan bahwa aset bukan hanya benda, melainkan juga cerita, nilai, dan pengetahuan yang diwariskan lintas generasi.

Lurah Cempaka, Supriyanto, memaparkan bahwa wilayahnya memiliki potensi religi dan sejarah yang belum banyak terekspos. Di antaranya tradisi penyambutan jamaah haji, kawasan wisata seperti Alaska dan The Legend, jejak rel kereta api lama, hingga kisah kuliner legendaris yang perlahan menghilang.
“Kami juga memiliki tradisi tahunan pada momentum 1 Muharam yang bisa dikembangkan sebagai bagian dari narasi Living Museum,” ujarnya.

Sementara, Lurah Sungai Tiung, Ferdy Chandra Budiman, menyampaikan potensi kuat di sektor budaya dan sejarah pendulangan. Ia menyebut adanya aktivitas pendulangan tradisional pumpung, kawasan tugu intan, hingga kisah asal-usul Sungai Tiung yang berakar dari masa kolonial Belanda.
“Konon, saat terjadi belanda menyerang, masyarakat mengungsi ke kawasan sungai yang banyak burung tiung. Dari situlah nama Sungai Tiung muncul,” katanya.

Ia juga menyoroti berbagai artefak budaya yang masih tersisa, seperti alat madihin, perlengkapan hadrah, anyaman ayakan mendulang, tradisi bapukung bayi, ayunan bayi, serta kelambu khusus pengantin. “Anak-anak sekarang banyak yang tidak lagi mengenal cara mendulang. Living Museum bisa menjadi ruang belajar lintas generasi,” ujarnya.

Dari Kelurahan Palam, Lurah Zulhulaifah mengangkat potensi wisata religi Asam Janar, sebuah kawasan pemakaman yang diperkirakan telah ada sejak era Kesultanan Banjar. Ia menuturkan, selain dikenal sebagai situs religi, kawasan tersebut juga menyimpan jejak kebudayaan masa lampau yang menarik untuk ditelusuri lebih jauh.

“Asam Janar adalah situs sejarah dan religi yang hingga kini rutin diperingati melalui haul tahunan. Pada beberapa penanda makam, kami melihat adanya bentuk tulisan yang menyerupai aksara lama, seperti Kawi atau Sanskerta, yang mengindikasikan kuatnya pengaruh kebudayaan masa lalu,” ujar Zulhulaifah.

Menurut dia, temuan tersebut memperkuat dugaan bahwa kawasan Asam Janar memiliki nilai sejarah yang lebih tua dan berlapis, sehingga berpotensi dikembangkan tidak hanya sebagai destinasi wisata religi, tetapi juga sebagai ruang edukasi sejarah dan budaya dalam konsep Living Museum.

Sementara itu, dari Kelurahan Bangkal, Lurah Adie Rifani menyoroti keberadaan Taman Keanekaragaman Hayati (KEHATI) Banjarbaru yang menyimpan berbagai jenis pohon endemik dan tanaman bernilai ekologis tinggi, serta sejarah pupur Bangkal, bedak dingin tradisional khas Banjar. Ia mengakui masih terdapat tantangan, terutama keterbatasan bahan baku pohon bangkal dan minimnya pengrajin lokal yang masih aktif.

“Pupur Bangkal ini sangat menarik untuk diangkat kembali sebagai bagian dari Living Museum. Bukan hanya produknya, tetapi juga pengetahuan, proses pembuatannya, dan cerita masyarakat yang menyertainya. Kalau ini bisa dihidupkan lagi, akan menjadi identitas Bangkal yang kuat,” ujar Adie.

Ketua Harian Komite Ekonomi Kreatif Kota Banjarbaru Narwanto menegaskan bahwa hasil FGD tersebut akan segera dilaporkan kepada Ketua Umum KEK Banjarbaru sebagai bahan tindak lanjut dan persiapan audiensi ke tingkat kementerian.
“Setelah kegiatan ini, seluruh hasil pemetaan dan diskusi akan kami rangkum dan laporkan kepada Ketua Umum KEK. Ini akan menjadi dasar penting untuk langkah berikutnya,” ujarnya.

Narwanto menjelaskan, KEK Banjarbaru telah menyusun peta jalan pengembangan ekonomi kreatif daerah, yakni 2026 sebagai fase penguatan ekosistem ekonomi kreatif, 2027 penetapan Banjarbaru sebagai Kota Kreatif Nasional, 2028 persiapan jejaring UNESCO Creative Cities, dan 2029 masuk dalam jaringan Kota Kreatif Dunia.

“Apalagi Banjarbaru direncanakan menjadi tuan rumah Indonesia Creative Cities Festival (ICCF) 2027. Karena itu, semua harus dipersiapkan dari sekarang, dimulai dari penguatan potensi di tingkat kecamatan seperti Cempaka,” pungkas Narwanto.

Pengembangan Living Museum Cempaka ini, lanjut Narwanto, sejalan dengan komitmen Wali Kota Banjarbaru Hj. Erna Lisa Halaby yang secara konsisten mendorong Banjarbaru tidak hanya menjadi Kota Kreatif di tingkat nasional, tetapi juga di tingkat global. Komitmen tersebut bahkan disampaikan secara langsung oleh Wali Kota saat menghadiri gelaran ICCF 2025 di Malang, ketika Banjarbaru menyatakan kesiapannya menjadi tuan rumah ICCF 2027.(be)

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

LAINNYA