KEK Banjarbaru Hadirkan Mamanda Lintas Generasi, Merawat Budaya Sekaligus Menggerakkan Ekonomi Kreatif
waktu baca 3 menit
Minggu, 8 Feb 2026 04:39 333 Banjarbaru Emas 2
Foto : Wali Kota Banjarbaru Hj. Erna Lisa Halaby dan Ketua Ulun KEK Banjarbaru H. Riandy Hidayat Bersama Mamanda Lintas Generasi.(BE)
BANJARBARUEMAS.COM — Komitmen menjaga dan merawat budaya khas Kalimantan Selatan kembali ditegaskan Komite Ekonomi Kreatif (KEK) Kota Banjarbaru. Pesan itu mengemuka kuat saat kesenian Mamanda lintas generasi tampil di hadapan Wali Kota Banjarbaru Hj. Erna Lisa Halaby dan ratusan warga di Panggung Taman Van der Pijl, Sabtu (7/2/2026) malam.
Pentas bertajuk “Pentas Mamanda dan Silaturahim Paguyuban/Komunitas Seni Banjarbaru” tersebut disambut antusias masyarakat. Sejak sore, warga mulai memadati area taman kota untuk menyaksikan teater tradisional yang menjadi identitas budaya Banua itu.
Mamanda, teater khas Kalimantan Selatan yang bermakna paman yang terhormat, dikenal dengan kekuatan improvisasi dialog serta sentuhan humor yang mengangkat isu-isu sosial kekinian. Dalam pementasan malam itu, Mamanda mengisahkan cerita Putri Raja Kencana Emas yang menimba ilmu di Puncak Gunung Karangmunting demi membawa kerajaannya menjadi negeri yang elok, maju, adil, dan sejahtera.
Ketua Umum KEK Banjarbaru, H. Riandy Hidayat, mengatakan pementasan Mamanda tersebut bukan sekadar pertunjukan seni, melainkan bagian dari upaya strategis membangun Banjarbaru sebagai kota ekonomi kreatif berbasis budaya.
“Pentas Mamanda malam ini adalah manifestasi nyata tekad kami menjadikan Banjarbaru sebagai kota ekonomi kreatif di Kalimantan Selatan. Kami ingin nilai-nilai budaya luhur terus hidup dan terintegrasi dengan inovasi ekonomi modern,” ujar Riandy dalam sambutannya.
Riandy menekankan, Mamanda sejatinya merupakan sebuah ekosistem ekonomi kreatif. Di dalamnya terlibat penjahit kostum, komposer musik, penata artistik, hingga pelaku usaha mikro kecil dan menengah (UMKM).
“Inilah esensi ekonomi kreatif. Ada kolaborasi lintas sektor yang menciptakan nilai tambah ekonomi tanpa meninggalkan tradisi. Budaya tidak hanya dirawat, tetapi juga diberdayakan,” katanya.
Dalam kesempatan itu, Riandy juga menyinggung kerja sama KEK Banjarbaru dengan Indonesia Creative Cities Network (ICCN). Menurutnya, kolaborasi tersebut diarahkan untuk mewujudkan 10 Prinsip Kota Kreatif Indonesia sebagai fondasi pembangunan kota yang inklusif, berkelanjutan, dan berdaya saing.
“Komitmen itu kami jalankan melalui Catha Ekadasa, sebelas jurus strategis penguatan hexa helix yang melibatkan pemerintah, komunitas, akademisi, dunia usaha, media, dan sektor lainnya,” ujar Riandy.
Riandy juga menegaskan, kegiatan tersebut menjadi langkah awal dari rangkaian program pemanfaatan ruang publik untuk pertunjukan seni di Banjarbaru.
“Ke depan, kami ingin minimal setiap bulan ada aktivitas pertunjukan seperti ini. Tidak hanya Mamanda, tetapi juga kesenian lainnya, agar ruang publik hidup dan ekonomi budaya Banjarbaru semakin kuat,” ujarnya.
Antusiasme warga tampak sepanjang pertunjukan. Sejumlah pengunjung terlihat serius menyimak alur cerita, sesekali tertawa oleh dialog-dialog spontan yang menjadi ciri khas Mamanda.
Wali Kota Banjarbaru Hj. Erna Lisa Halaby bersama pengunjung tampak menikmati seluruh rangkaian pementasan Mamanda yang berlangsung hingga malam hari. Kehadiran kepala daerah itu dinilai menjadi bentuk dukungan nyata pemerintah kota terhadap pelestarian seni dan budaya lokal.
Salah seorang pegiat budaya yang hadir, H.E. Benjamin, mengapresiasi langkah KEK Banjarbaru dalam menghidupkan kembali ruang-ruang budaya di kota ini.
“Saya bangga dengan komitmen KEK Banjarbaru. Banjarbaru punya banyak ruang kreatif yang bisa dimaksimalkan. Keuntungan ini harus dimanfaatkan untuk mewujudkan Banjarbaru sebagai kota kreatif, baik di tingkat nasional maupun dunia,” katanya.
Ia optimistis, dengan kolaborasi yang kuat antara KEK dan komunitas seni budaya, cita-cita tersebut bukan hal yang mustahil diwujudkan.
Dengan menghadirkan budaya ke ruang publik, KEK Banjarbaru berharap seni tradisi tidak hanya dikenang, tetapi terus tumbuh bersama denyut kehidupan kota dan warganya.(be)
Tidak ada komentar