BANJARBARUEMAS.COM – Deretan karung berisi botol plastik, kardus, kaleng bekas, hingga aneka sampah daur ulang tertata rapi di Rumah Pilah Sampah MARKISSA, Kelurahan Syamsudin Noor, Kecamatan Landasan Ulin, Kota Banjarbaru. Bagi sebagian orang, tumpukan itu mungkin hanya dianggap limbah. Namun, bagi 45 mahasiswa Universitas Lambung Mangkurat (ULM) yang mengikuti Kuliah Kerja Nyata (KKN) Tematik Lingkungan Tahun 2025, tumpukan sampah tersebut justru menjadi ruang belajar untuk memahami bagaimana sebuah gerakan masyarakat mampu mengubah sampah menjadi sumber nilai ekonomi sekaligus menjaga kelestarian lingkungan.
Sebanyak 45 mahasiswa ULM dari berbagai fakultas menjalani KKN Tematik Lingkungan di Kelurahan Syamsudin Noor. Kelurahan ini dipilih sebagai lokasi KKN karena menjadi salah satu pilot project Program KILAU EMAS di Kota Banjarbaru yang berhasil mengembangkan inovasi pengelolaan sampah berbasis masyarakat sekaligus menjadi rujukan pembelajaran pengelolaan sampah bagi wilayah lain.
Selama pelaksanaan KKN, mahasiswa tidak hanya menerima pembekalan secara teori, tetapi juga diajak terjun langsung ke tengah masyarakat untuk melihat bagaimana pengelolaan sampah dilakukan secara nyata melalui kolaborasi antara pemerintah kelurahan, pengurus RT, dan warga.

Pada Minggu (19/7/2026), rombongan mahasiswa melakukan kunjungan lapangan ke RT 33 Kelurahan Syamsudin Noor. Kegiatan tersebut didampingi langsung oleh Ketua RT 33 sekaligus penggagas dan pengelola Program MARKISSA, Yoni Setiawan, yang selama ini aktif mengembangkan berbagai gerakan pengelolaan sampah berbasis partisipasi masyarakat.
Di lokasi tersebut, para mahasiswa diperkenalkan dengan dua inovasi unggulan yang menjadi tulang punggung pengelolaan sampah di Kelurahan Syamsudin Noor, yakni MARKISSA (Mari Kita Sedekah Sampah) dan SUSTER (Sumur Komposter Sanitasi).

Program MARKISSA lahir dari kesadaran bahwa persoalan sampah tidak cukup diselesaikan hanya dengan mengangkutnya ke Tempat Pemrosesan Akhir (TPA). Melalui gerakan ini, masyarakat didorong untuk memilah sampah sejak dari rumah, kemudian menyedekahkan sampah nonorganik seperti botol plastik, gelas plastik, kardus, kertas, logam, dan berbagai material daur ulang lainnya. Sampah tersebut selanjutnya dikumpulkan di Rumah Pilah Sampah MARKISSA untuk dipilah kembali dan dikelola sehingga memiliki nilai jual.
Hasil pengelolaan sampah tidak hanya memberikan manfaat ekonomi, tetapi juga dimanfaatkan untuk mendukung berbagai kegiatan sosial dan pemberdayaan masyarakat. Melalui MARKISSA, warga diajak mengubah cara pandang bahwa sampah bukan lagi limbah yang harus dibuang, melainkan sumber daya yang dapat memberikan manfaat apabila dikelola dengan baik.
Sementara itu, untuk mengatasi persoalan sampah organik, warga mengembangkan inovasi SUSTER (Sumur Komposter Sanitasi). Melalui program ini, sampah organik rumah tangga seperti sisa makanan, dedaunan, dan limbah dapur dihimpun kemudian dimasukkan ke dalam sumur komposter sedalam sekitar satu meter. Di dalam sumur tersebut, sampah mengalami proses penguraian secara alami menjadi bahan yang lebih bermanfaat bagi lingkungan sekaligus mampu mengurangi volume sampah yang berakhir di Tempat Pemrosesan Akhir (TPA). Inovasi sederhana tersebut membuktikan bahwa pengelolaan sampah dapat dimulai dari rumah melalui partisipasi aktif masyarakat.
Lurah Syamsudin Noor, Fitria Khairani, mengatakan dipilihnya Kelurahan Syamsudin Noor sebagai lokasi KKN bukan tanpa alasan. Menurutnya, berbagai inovasi yang lahir dari masyarakat menjadi ruang belajar nyata bagi mahasiswa untuk memahami pengelolaan sampah berbasis partisipasi warga.
“Melalui kegiatan KKN ini diharapkan mahasiswa dapat memberikan sumbangsih kepada masyarakat melalui berbagai inovasi di bidang pengelolaan sampah. Hari ini mereka kami ajak melihat langsung Program MARKISSA dan SUSTER, sekaligus mempelajari bagaimana masyarakat membangun kesadaran memilah dan mengolah sampah dari rumah. Kami berharap pengalaman ini menjadi inspirasi bagi mahasiswa untuk melahirkan inovasi pengelolaan sampah yang dapat diterapkan di daerah masing-masing,” ujar Fitria, Minggu (19/7/2026).
Fitria menilai kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, dan perguruan tinggi merupakan fondasi penting dalam membangun budaya peduli lingkungan yang berkelanjutan. Melalui KKN Tematik ini, mahasiswa diharapkan tidak hanya belajar, tetapi juga mampu menghadirkan gagasan-gagasan baru yang dapat diterapkan di tengah masyarakat.
Pembelajaran lapangan berlanjut pada Senin (20/7/2026) ketika para mahasiswa mengunjungi Rumah Pilah Sampah MARKISSA. Di tempat tersebut mereka menyaksikan secara langsung proses penerimaan sampah dari warga, pemilahan berdasarkan jenis, penimbangan, hingga pengelolaan sampah yang memiliki nilai ekonomi.
Tidak hanya itu, mahasiswa juga mengikuti aktivitas rutin bersama Yoni Setiawan berkeliling lingkungan mengambil sedekah sampah yang telah dipilah warga dari rumah ke rumah. Salah satu lokasi yang dikunjungi adalah RT 21 Kelurahan Syamsudin Noor, sehingga mahasiswa dapat melihat secara langsung bagaimana budaya memilah sampah telah tumbuh dan menjadi kebiasaan masyarakat.
Pengelola Rumah Pilah Sampah MARKISSA, Yoni Setiawan, mengaku senang dapat berbagi pengalaman kepada para mahasiswa.
“Di sini mereka belajar dan menyaksikan langsung apa yang sudah dikerjakan masyarakat selama ini. Saya sebagai pengelola MARKISSA merasa senang bisa berbagi ilmu dan pengalaman. Mahasiswa juga sangat antusias karena benar-benar merasakan Kuliah Kerja Nyata yang langsung bersentuhan dengan masyarakat. Mudah-mudahan apa yang mereka pelajari di sini dapat dikembangkan menjadi inovasi baru ketika kembali ke daerah masing-masing,” kata Yoni.
Sementara itu, Ketua RT 21 Kelurahan Syamsudin Noor, Erwin Sholihan, menilai kegiatan tersebut memberikan pengalaman lapangan yang tidak akan diperoleh mahasiswa hanya melalui pembelajaran di ruang kuliah.
“Alhamdulillah kegiatan ini sangat bagus. Mahasiswa jadi mengetahui bagaimana pengelolaan sampah dilakukan langsung di lingkungan RT. Mereka sangat senang diajak berkeliling oleh Pak Yoni Setiawan mengambil sedekah sampah dari warga melalui Program MARKISSA. Mereka bisa melihat sendiri bahwa membangun budaya peduli lingkungan membutuhkan kerja sama dan konsistensi seluruh masyarakat,” ujar Erwin.
Pelaksanaan KKN Tematik Lingkungan di Kelurahan Syamsudin Noor menunjukkan bahwa pengabdian kepada masyarakat tidak hanya dilakukan melalui penyuluhan atau kegiatan seremonial. Lebih dari itu, mahasiswa diajak menyelami praktik-praktik baik yang telah tumbuh di tengah masyarakat, memahami tantangan pengelolaan sampah dari sumbernya, sekaligus melihat bagaimana inovasi sederhana mampu mengubah pola pikir warga terhadap sampah.
Pengalaman lapangan tersebut menjadi bekal berharga bagi mahasiswa untuk memahami bahwa persoalan sampah tidak cukup diselesaikan melalui teori di ruang kuliah. Dibutuhkan kolaborasi, konsistensi, dan keterlibatan aktif masyarakat agar pengelolaan sampah benar-benar menjadi budaya. Dari sinilah KKN Tematik Lingkungan diharapkan mampu melahirkan generasi muda yang tidak hanya memahami persoalan lingkungan, tetapi juga mampu menghadirkan solusi nyata di tengah masyarakat.
Menutup rangkaian kegiatan pembelajaran lapangan, Lurah Syamsudin Noor, Fitria Khairani, berharap ilmu dan pengalaman yang diperoleh mahasiswa selama KKN tidak berhenti menjadi laporan akademik, tetapi mampu diterjemahkan menjadi aksi nyata dalam menjawab persoalan lingkungan.
“Kami berharap mahasiswa tidak hanya membawa pulang laporan KKN, tetapi juga membawa semangat perubahan. Apa yang mereka lihat, pelajari, dan rasakan di Kelurahan Syamsudin Noor semoga menjadi inspirasi untuk menghadirkan inovasi pengelolaan sampah di lingkungan masing-masing. Persoalan sampah tidak bisa diselesaikan oleh pemerintah saja, tetapi harus menjadi gerakan bersama antara masyarakat, perguruan tinggi, dan seluruh elemen. Melalui kolaborasi seperti inilah kami optimistis akan lahir lebih banyak inovasi lingkungan yang mampu mengubah sampah menjadi berkah bagi masyarakat,” tutup Fitria.
Senada dengan itu, Yoni Setiawan menegaskan bahwa keberhasilan Program MARKISSA (Mari Kita Sedekah Sampah) dan SUSTER (Sumur Komposter Sanitasi) bukan semata karena inovasinya, melainkan karena tumbuh dari kesadaran dan semangat gotong royong masyarakat yang terus dijaga.
“Harapan kami, adik-adik mahasiswa menjadi agen perubahan yang membawa semangat pengelolaan sampah ke daerah masing-masing. Kalau masyarakat diberi edukasi dan diajak bergerak bersama, sampah bukan lagi menjadi masalah, melainkan berkah yang memberi manfaat bagi lingkungan, ekonomi, dan kehidupan sosial. Semoga dari KKN ini lahir semakin banyak inovasi yang mampu menggerakkan masyarakat untuk menjaga bumi dimulai dari lingkungan terkecil,” pungkas Yoni.(be)
348
Tidak ada komentar