SERI ISLAND OF INTEGRITY

waktu baca 4 menit
Senin, 27 Jul 2026 04:11 191 Banjarbaru Emas 2

Seri 5: Jolly LLB 2: Ketika Kehilangan Integritas Berarti Kehilangan Kepercayaan

 

BANJARBARUEMAS.COM — Tidak ada orang yang bangun pada pagi hari dengan niat menjadi tidak berintegritas.

Hampir tidak ada pula penyimpangan besar yang lahir dalam satu malam.

Sebagian besar bermula dari sesuatu yang tampak sepele: sebuah pembenaran, sebuah kompromi, atau keputusan untuk menutup mata terhadap sesuatu yang sebenarnya diketahui keliru.

Kalimat-kalimat yang mengawalinya pun terdengar biasa.

“Hanya kali ini.”

“Tidak akan ada yang tahu.”

“Semua orang juga melakukannya.”

Tak ada yang tampak berbahaya dari kalimat-kalimat itu. Namun justru dari sanalah batas antara benar dan salah mulai bergeser, pelan dan nyaris tanpa disadari.

Pada awalnya yang dikorbankan hanya sedikit: sedikit kejujuran, sedikit keberanian, dan sedikit rasa bersalah. Namun ketika kompromi berubah menjadi kebiasaan, yang hilang bukan lagi sekadar nilai moral.

Yang ikut hilang adalah kepercayaan.

Film Jolly LLB 2 menghadirkan gambaran itu melalui tokoh Jagdishwar “Jolly” Mishra, seorang pengacara muda di Kota Lucknow, India. Bersama istri dan anaknya, Jolly menjalani hidup sederhana sambil bekerja sebagai asisten seorang pengacara ternama. Ia bukan tokoh yang berkuasa ataupun kaya. Seperti banyak orang, ia hanya memiliki satu impian: membuka kantor hukum sendiri dan memberikan kehidupan yang lebih baik bagi keluarganya.

Namun impian itu membawanya pada sebuah keputusan yang mengubah seluruh jalan hidupnya.

Demi memperoleh uang, Jolly memanfaatkan harapan Hina Qasim, seorang janda yang tengah mencari keadilan atas kematian suaminya. Ia menjanjikan bantuan hukum yang sebenarnya tidak pernah ada. Kebohongan yang tampak kecil itu justru menjadi awal dari sebuah tragedi.

Ketika Hina mengetahui dirinya telah ditipu, perempuan yang baru kehilangan suaminya itu kehilangan harapan dan mengakhiri hidupnya.

Peristiwa tersebut menjadi titik balik bagi Jolly.

Rasa bersalah mendorongnya menelusuri kembali kasus itu hingga menemukan fakta yang jauh lebih kelam. Suami Hina ternyata menjadi korban encounter palsu. Identitasnya direkayasa, dokumen dimanipulasi, barang bukti diputarbalikkan, bahkan nyawa seorang polisi lain dikorbankan untuk menutupi kebohongan yang telah dibangun.

Di situlah Jolly LLB 2 berhenti menjadi sekadar film tentang persidangan.

Film ini berubah menjadi kisah tentang bagaimana satu kebohongan mampu melahirkan kebohongan berikutnya.

Sebuah kebohongan membutuhkan rekayasa.

Rekayasa membutuhkan pembenaran.

Pembenaran melahirkan penyalahgunaan kewenangan.

Dan pada akhirnya, seluruh sistem dipaksa bekerja bukan untuk mencari kebenaran, melainkan melindungi kebohongan yang telah telanjur diciptakan.

Pesan inilah yang membuat Jolly LLB 2 relevan bagi birokrasi.

Penyimpangan besar hampir tidak pernah muncul secara tiba-tiba. Ia tumbuh dari toleransi terhadap pelanggaran-pelanggaran kecil yang terus dibiarkan.

Sebuah prosedur yang diabaikan.

Pelayanan yang dibedakan karena kedekatan.

Data yang dimanipulasi agar target terlihat tercapai.

Atau keputusan yang lebih mengutamakan kepentingan pribadi daripada kepentingan publik.

Masing-masing mungkin tampak sepele.

Namun ketika terus diulang, ia perlahan berubah menjadi budaya.

Dan ketika penyimpangan telah menjadi budaya, organisasi tidak lagi kehilangan aturan.

Organisasi kehilangan kepercayaan.

Dalam perjuangannya mencari keadilan, Jolly harus menghadapi tekanan dari berbagai arah. Bukti diputarbalikkan, saksi ditekan, dan proses hukum dimanfaatkan untuk mempertahankan kebohongan. Ia bahkan harus menerima sanksi disiplin ketika bukti yang diajukan berhasil dipelintir oleh pihak yang memiliki kekuasaan lebih besar.

Di sanalah integritas menemukan ujian yang sebenarnya.

Integritas tidak diuji ketika keadaan berjalan mudah.

Integritas diuji ketika berkata benar menghadirkan risiko.

Ketika mempertahankan kejujuran berarti kehilangan kenyamanan.

Ketika memilih kebenaran membuat seseorang harus membayar harga yang tidak sedikit.

Dalam reformasi birokrasi, pelajaran itu menjadi sangat penting.

Organisasi tidak runtuh karena satu kasus besar.

Organisasi melemah karena terlalu lama membiarkan penyimpangan kecil tumbuh menjadi kebiasaan.

Karena itu, pembangunan Island of Integrity tidak berhenti pada penyusunan regulasi, pembentukan Zona Integritas, ataupun pencapaian predikat WBK dan WBBM.

Yang sedang dibangun adalah budaya.

Budaya yang membuat setiap aparatur berani mengatakan tidak terhadap penyimpangan, sekecil apa pun bentuknya.

Budaya yang menjadikan aturan sebagai pagar moral.

Budaya yang membuat seseorang tetap memilih jalan yang benar, bahkan ketika tidak ada yang mengawasi.

Pelajaran terbesar dari Jolly LLB 2 bukanlah kemenangan di ruang sidang.

Pelajaran terbesarnya adalah bahwa kepercayaan selalu dibangun melalui keputusan-keputusan kecil: keputusan untuk jujur, menggunakan kewenangan secara bertanggung jawab, dan tetap berpihak pada fakta meskipun kebenaran terasa mahal.

Karena sekali hati nurani dikalahkan oleh kepentingan sesaat, yang hilang bukan hanya integritas pribadi.

Yang ikut hilang adalah kepercayaan masyarakat.

Dan tidak ada penghargaan, jabatan, ataupun kekuasaan yang mampu membeli kembali kepercayaan yang telah hilang.(be)

 

Bersambung pada Seri 6
Belajar dari Burung: Mengapa Organisasi yang Berintegritas Selalu Terbang Bersama

Mengapa burung-burung yang bermigrasi selalu terbang dalam formasi berbentuk huruf V? Mengapa mereka bergantian memimpin dan saling menopang ketika salah satu mulai kelelahan? Seri berikutnya mengajak pembaca memahami bahwa integritas bukan hanya kualitas individu, melainkan budaya kolektif. Organisasi yang kuat tidak dibangun oleh satu orang yang paling hebat, tetapi oleh banyak orang yang menjaga arah yang sama, saling mengingatkan, dan memastikan tidak ada yang tertinggal.

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

LAINNYA