Warga Palam Banjarbaru Dilatih Olah Sampah Plastik Jadi Eco Paving Block

waktu baca 5 menit
Rabu, 12 Agu 2026 08:15 122 Banjarbaru Emas 2

BANJARBARUEMAS.COM — Sampah plastik tidak selalu harus berakhir di tempat pembuangan. Di Kelurahan Palam, Kecamatan Cempaka, Kota Banjarbaru, limbah plastik diperkenalkan sebagai bahan yang dapat diolah kembali menjadi produk bernilai guna melalui pelatihan pembuatan eco paving block, Senin (10/8/2026).

Kegiatan yang berlangsung di halaman Kantor Kelurahan Palam tersebut diikuti pengurus RT dan RW, perwakilan masyarakat, serta kader PKK. Mahasiswa Universitas Lambung Mangkurat (ULM) menjadi pemateri dalam pelatihan.

Kegiatan ini menjadi bagian dari edukasi pengelolaan sampah berbasis masyarakat. Peserta tidak hanya mendapatkan penjelasan mengenai pemanfaatan limbah plastik, tetapi juga diperkenalkan dengan praktik pengolahannya menjadi eco paving block.

Konsep tersebut menawarkan cara pandang berbeda terhadap sampah plastik. Material seperti kantong kresek, botol, dan berbagai kemasan plastik yang sulit terurai dapat dimanfaatkan kembali sebagai bagian dari bahan pembuatan material pengeras jalan maupun dekorasi taman.

Bagi masyarakat, pengolahan semacam ini juga membuka peluang baru. Sampah yang sebelumnya dianggap tidak bernilai dapat diarahkan menjadi produk yang memiliki fungsi dan berpotensi memberikan nilai ekonomi apabila dikelola secara berkelanjutan.

Lurah Palam: Tingkatkan Kesadaran dan Keterampilan Warga

Lurah Palam Zulhulaifah menyambut baik pelaksanaan pelatihan tersebut. Menurut dia, persoalan sampah plastik tidak hanya membutuhkan penanganan pemerintah, tetapi juga kesadaran dan keterampilan masyarakat.

“Alhamdulillah, Ulun menyambut baik dan memberikan apresiasi atas pelaksanaan pelatihan pengolahan limbah sampah plastik menjadi Eco Paving Block. Kegiatan ini merupakan langkah positif dalam meningkatkan kesadaran dan keterampilan masyarakat dalam mengelola sampah,” ujar Zulhulaifah.

Dia mengatakan, sampah plastik selama ini menjadi salah satu persoalan lingkungan yang dihadapi masyarakat Palam. Karena itu, warga perlu dibekali pengetahuan mengenai cara mengelola sampah agar tidak seluruhnya berakhir sebagai limbah.

“Melalui pelatihan ini, masyarakat tidak hanya mendapatkan pengetahuan tentang pengelolaan sampah, tetapi juga memperoleh keterampilan yang dapat dikembangkan menjadi kegiatan produktif dan bernilai ekonomis,” katanya.

Zulhulaifah berharap keterampilan yang diperoleh peserta tidak berhenti pada kegiatan pelatihan. Pengetahuan tersebut diharapkan dapat diterapkan di lingkungan masing-masing sehingga volume sampah plastik yang dibuang ke lingkungan dapat dikurangi.

Mahasiswa ULM Dorong Sampah Diolah, Bukan Sekadar Dibuang

Pemateri dari ULM, Farhat, mengatakan pelatihan tersebut merupakan bentuk edukasi sekaligus praktik langsung kepada masyarakat.

Menurut dia, salah satu hal penting yang ingin dibangun melalui kegiatan tersebut adalah perubahan cara pandang masyarakat terhadap sampah plastik.

“Menurut saya kegiatan ini merupakan bentuk edukasi sekaligus praktik langsung kepada masyarakat agar sampah plastik tidak hanya dipandang sebagai limbah yang harus dibuang,” kata Farhat.

Dia mengatakan, pemanfaatan sampah plastik menjadi eco paving block dapat menjadi salah satu alternatif pengelolaan sampah yang dapat dikembangkan masyarakat.

Melalui kegiatan tersebut, mahasiswa KKN-Tematik Lingkungan hidup ULM Kelompok 8 berharap pengetahuan yang diberikan tetap diterapkan setelah program KKN berakhir.

“Pemanfaatan sampah plastik menjadi eco paving block diharapkan tidak hanya membantu mengurangi timbulan sampah rumah tangga, tetapi juga membuka peluang bagi masyarakat untuk menghasilkan produk yang memiliki nilai guna dan nilai ekonomis,” ujar Farhat.

Menurut dia, persoalan sampah pada akhirnya membutuhkan keterlibatan semua pihak. Pengelolaan sampah tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah maupun mahasiswa, tetapi juga membutuhkan peran aktif masyarakat.

“Melalui kegiatan ini, mahasiswa KKN-TLH ULM Kelompok 8 berharap pengetahuan yang diberikan dapat terus diterapkan oleh masyarakat setelah program KKN berakhir,” katanya.

Ketua RT: Inovasi Menarik, Asalkan Dikelola dengan Baik

Respons positif juga disampaikan Ketua RT 7, Herman Siswanto. Menurut dia, pelatihan tersebut memberikan pengetahuan baru kepada masyarakat mengenai pemanfaatan sampah plastik.

Herman menilai inovasi tersebut menarik karena menawarkan alternatif untuk mengurangi volume sampah plastik di lingkungan.

“Kalau menurut Ulun pribadi, secara pelatihan cukup baik. Ini inovasi cemerlang yang efektif mengurangi volume sampah plastik di lingkungan,” ujar Herman.

Dia melihat produk yang dihasilkan dari pengolahan plastik tersebut memiliki potensi untuk dikembangkan, terutama jika prosesnya dilakukan secara konsisten dan memperhatikan kualitas.

“Bisa menggantikan fungsi semen sebagai perekat dan menghasilkan produk yang kuat, tahan lama, dan bernilai ekonomis tinggi, asalkan dikelola dengan baik,” katanya.

Bagi Herman, manfaat pelatihan tidak hanya terletak pada kemampuan membuat eco paving block. Lebih jauh, masyarakat mendapatkan pemahaman bahwa sampah plastik yang selama ini menjadi persoalan lingkungan masih dapat dimanfaatkan.

Membangun Ekonomi Sirkular dari Lingkungan Warga

Pengolahan sampah plastik menjadi eco paving block juga sejalan dengan konsep ekonomi sirkular. Dalam pendekatan ini, material yang semula dianggap sebagai sampah tidak langsung dibuang, tetapi diupayakan masuk kembali ke dalam siklus pemanfaatan.

Plastik memiliki waktu terurai yang sangat panjang. Ketika tidak dikelola dengan baik, sampah tersebut dapat menumpuk di tempat pembuangan atau mencemari lingkungan.

Dengan memanfaatkannya kembali sebagai bagian dari produk baru, masyarakat dapat membantu mengurangi timbulan sampah sekaligus memperpanjang masa guna material.

Namun, penerapan eco paving block tetap membutuhkan pengelolaan yang tepat. Pemilahan bahan, proses pengolahan, keselamatan kerja, hingga kualitas produk perlu diperhatikan agar inovasi tersebut dapat dikembangkan secara berkelanjutan.

Di sinilah peran masyarakat menjadi penting. Pelatihan hanya menjadi titik awal. Keberhasilannya akan sangat bergantung pada kemauan warga untuk menerapkan pengetahuan yang diperoleh dan mengembangkannya sesuai kebutuhan lingkungan.

Bagi Kelurahan Palam, kegiatan tersebut menjadi contoh bahwa pengelolaan sampah dapat dimulai dari lingkungan terkecil. RT, RW, kader PKK, masyarakat, pemerintah kelurahan, dan mahasiswa dapat mengambil peran dalam mengurangi persoalan sampah sejak dari sumbernya.

Sampah plastik yang sebelumnya dianggap sebagai sesuatu yang harus segera dibuang kini diperkenalkan sebagai material yang masih dapat dikelola dan dimanfaatkan.(be)

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

LAINNYA