Healthy School Expo SDN 4 Syamsudin Noor, Dari Susu Kedelai hingga Sedekah Botol

waktu baca 6 menit
Senin, 28 Sep 2026 01:54 84 Banjarbaru Emas 2

BANJARBARUEMAS.COM – Botol plastik yang biasanya berakhir menjadi sampah dikumpulkan dan dimanfaatkan kembali. Hasil penjualannya digunakan untuk membeli bahan makanan pokok bagi siswa yang membutuhkan. Sementara tutup botol diolah menjadi produk kreatif, seperti gantungan kunci.

Di sisi lain, kedelai diolah menjadi susu sebagai bagian dari edukasi pangan sehat bagi siswa.

Praktik sederhana tersebut ditampilkan SDN 4 Syamsudin Noor, Kota Banjarbaru, Kalimantan Selatan, dalam Healthy School Expo dan Monitoring dan Evaluasi (Monev) yang digelar di lingkungan sekolah, Kamis (24/9/2026).

Kegiatan tersebut menjadi momentum untuk melihat sekaligus mengevaluasi berbagai program yang telah dijalankan sekolah dalam membangun kebiasaan hidup sehat, meningkatkan pemenuhan gizi siswa, mengurangi sampah plastik, serta menumbuhkan kepedulian terhadap lingkungan.

Kegiatan dihadiri Sekretaris Dinas Pendidikan Kota Banjarbaru Lilis Maryati, Kepala Puskesmas Guntung Payung, perwakilan Dinas Lingkungan Hidup, Camat Landasan Ulin, Lurah Syamsudin Noor, Bhabinkamtibmas, penyuluh pertanian dan perikanan, penggerak Program Mari Kita Sedekah Sampah (Markissa), K3SD Kota Banjarbaru, komite sekolah, serta tim sekolah.

Rangkaian kegiatan diawali dengan school tour. Para tamu diajak melihat langsung berbagai kegiatan yang dikembangkan SDN 4 Syamsudin Noor untuk membangun lingkungan sekolah yang mendukung kesehatan sekaligus kepedulian terhadap lingkungan.

Salah satunya melalui demo pembuatan susu kedelai. Produk tersebut dibuat sendiri oleh sekolah sebagai bagian dari edukasi pangan sehat sekaligus upaya mengenalkan sumber nutrisi kepada siswa.

Melalui kegiatan tersebut, siswa tidak hanya mengenal manfaat kedelai, tetapi juga melihat langsung bagaimana bahan pangan diolah menjadi produk yang dapat dikonsumsi.

Upaya pemenuhan gizi diperkuat melalui optimalisasi kantin sekolah. Kantin tidak hanya menjadi tempat siswa membeli makanan dan minuman, tetapi diarahkan menjadi bagian dari lingkungan sekolah yang mendorong pilihan pangan lebih sehat.

Sekolah juga memperkuat peran health cadres atau kader kesehatan siswa. Mereka dibekali pengetahuan mengenai perilaku hidup sehat dan dilibatkan untuk mengajak sekaligus memberikan contoh kepada teman-temannya.

Kepala SDN 4 Syamsudin Noor Rahmita Sari mengatakan program yang dijalankan sekolah mencakup sejumlah kegiatan yang saling berkaitan.

“Ada beberapa kegiatan yang kami lakukan. Pertama, edukasi tentang makanan sehat dan bergizi yang diberikan kepada orang tua, guru, murid, serta pedagang di sekolah,” ujar Rahmita.

Menurut dia, edukasi tersebut penting karena pembentukan kebiasaan makan sehat membutuhkan pemahaman bersama dari seluruh lingkungan anak.

“Kemudian yang kedua, kami mengoptimalkan kader kesehatan anak-anak sekolah untuk mengkampanyekan hidup sehat kepada teman-temannya di sekolah,” katanya.

Dengan pendekatan tersebut, siswa tidak hanya menjadi penerima informasi, tetapi juga dilibatkan sebagai penggerak perilaku hidup sehat di lingkungan sekolah.

Program berikutnya diarahkan pada penguatan kantin sekolah.

“Ketiga, kami meningkatkan kantin sekolah. Jadi, kantin tidak hanya menjual makanan sehat, tetapi juga memproduksi susu kedelai sendiri. Untuk susu kedelai ini merupakan produk kami sendiri,” ujar Rahmita.

Produksi susu kedelai sekaligus menjadi sarana pembelajaran bagi siswa untuk mengenal proses pengolahan pangan dan pentingnya memilih makanan bergizi.

Selain kesehatan dan gizi, sekolah memberikan perhatian terhadap pengurangan sampah plastik melalui kebiasaan sederhana.

“Kemudian yang terakhir, kami menjalankan program pengurangan sampah plastik dengan menggunakan peralatan makan dan minum sendiri, serta Program Markissa, Mari Kita Sedekah Sampah,” tutur Rahmita.

Melalui Program Markissa, botol plastik yang terkumpul dipilah dan kemudian dijual. Hasil penjualannya digunakan untuk membeli bahan makanan pokok yang diberikan kepada siswa yang membutuhkan.

Sementara tutup botol dimanfaatkan menjadi berbagai produk kreatif, salah satunya gantungan kunci.

Praktik tersebut menunjukkan bahwa pendidikan lingkungan dapat dimulai dari kegiatan yang dekat dengan kehidupan siswa.

Anak-anak tidak hanya diajarkan untuk membuang sampah pada tempatnya, tetapi juga memahami bagaimana sampah dipilah, dimanfaatkan, dan dapat memberikan manfaat bagi orang lain.

Penggagas Program Mari Kita Sedekah Sampah (Markissa), Yoni Setiawan, menilai langkah SDN 4 Syamsudin Noor dapat menjadi contoh bagi sekolah lainnya.

“Ini merupakan suatu terobosan yang baik dari SDN 4 Syamsudin Noor untuk bisa ditiru oleh SDN lainnya. Programnya kecil, tetapi manfaatnya luar biasa,” ujar Yoni.

Menurut dia, kekuatan program tersebut justru terletak pada kesederhanaannya. Sampah yang selama ini dipandang sebagai persoalan dapat dikelola menjadi sesuatu yang memiliki nilai manfaat bagi lingkungan dan warga sekolah.

Sekretaris Dinas Pendidikan Kota Banjarbaru Lilis Maryati mengapresiasi berbagai praktik baik yang dikembangkan SDN 4 Syamsudin Noor.

Menurut Lilis, kegiatan tersebut memberikan manfaat dalam meningkatkan pengetahuan murid dan warga sekolah mengenai kesehatan diri, makanan bergizi, serta pentingnya menjaga lingkungan.

Dinas Pendidikan Kota Banjarbaru, kata dia, akan terus memberikan dukungan terhadap berbagai kegiatan positif yang dikembangkan sekolah.

Keterlibatan Puskesmas, Dinas Lingkungan Hidup, pemerintah kecamatan dan kelurahan, penyuluh, Bhabinkamtibmas, komite sekolah, orang tua, serta berbagai unsur masyarakat menjadi bagian penting dalam menjaga keberlanjutan program.

Melalui Monev, sekolah tidak hanya melihat kegiatan yang telah dilaksanakan, tetapi juga mengevaluasi sejauh mana praktik tersebut dapat dipertahankan dan dikembangkan.

Sebab, tujuan akhirnya bukan sekadar melaksanakan program, melainkan membangun kebiasaan hidup sehat dan peduli lingkungan sebagai budaya sekolah.

Membawa peralatan makan dan minum sendiri, memilih makanan bergizi, mengaktifkan kader kesehatan, memproduksi pangan sehat, mengurangi sampah plastik, hingga mengelola sampah melalui Markissa diharapkan terus menjadi bagian dari keseharian siswa.

Sister School Memperkuat Pertukaran Praktik Baik

Selain kegiatan Healthy School Expo, SDN 4 Syamsudin Noor juga terlibat dalam Program Sister School, yang memberikan ruang bagi sekolah untuk saling belajar, berbagi pengalaman, dan mengembangkan praktik baik.

Dalam program tersebut, SDN 4 Syamsudin Noor berkedudukan sebagai Sister School, sedangkan SDN 2 Landasan Ulin Barat sebagai Model School.

Kedua sekolah dasar di Kota Banjarbaru itu berkolaborasi dalam program Promotion of Well-being in Schools in Southeast Asia (SEAMEO SEPS) Fase 3.

Program tersebut berfokus pada pengembangan lingkungan sekolah yang mendukung kesehatan, pemenuhan gizi, kepedulian terhadap lingkungan, serta kesejahteraan peserta didik.

Sebagai Model School, SDN 2 Landasan Ulin Barat menjadi salah satu rujukan dalam berbagi praktik baik. Sementara SDN 4 Syamsudin Noor mengembangkan praktik tersebut melalui kegiatan yang disesuaikan dengan kebutuhan dan kondisi sekolah.

Implementasinya terlihat melalui edukasi makanan sehat yang melibatkan orang tua, guru, siswa, dan pedagang sekolah, penguatan kader kesehatan, pengembangan kantin sehat, produksi susu kedelai, pengurangan penggunaan plastik, serta Program Markissa.

Kepala SDN 2 Landasan Ulin Barat Inggid Megasari mengatakan kemitraan tersebut diharapkan memberikan ruang bagi siswa dan guru dari kedua sekolah untuk berkembang bersama.

“Harapan terbesar kami adalah melihat siswa dan guru dari kedua sekolah dapat tumbuh bersama dengan membangun lingkungan sekolah yang mendukung kesehatan, pemenuhan gizi, dan kesejahteraan secara menyeluruh,” ujar Inggid.

Melalui kemitraan tersebut, praktik baik tidak berhenti pada pertukaran informasi, tetapi diterjemahkan menjadi kegiatan nyata sesuai kebutuhan sekolah.

Pada akhirnya, Healthy School Expo di SDN 4 Syamsudin Noor memperlihatkan bahwa membangun sekolah sehat tidak selalu membutuhkan langkah besar.

Dari segelas susu kedelai, kader kesehatan, kantin sehat, hingga sebotol plastik yang disedekahkan, kebiasaan sederhana dapat menjadi gerakan yang memberi manfaat bagi kesehatan, lingkungan, dan sesama.(be)

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

LAINNYA