BANJARBARUEMAS.COM — Lantunan Salawat Burdah terdengar menyusuri lingkungan Kelurahan Palam, Kecamatan Cempaka, Kota Banjarbaru, Kalimantan Selatan, Selasa (11/8/2026) malam.
Warga berjalan beriringan mengelilingi kampung sembari melantunkan Salawat Burdah. Kegiatan tersebut menjadi pembuka rangkaian Arba Mustamir, agenda keagamaan tahunan masyarakat Palam yang berlanjut pada Rabu (12/8/2026), bertepatan dengan Rabu terakhir bulan Safar 1448 Hijriah.
Sehari setelah Burdah keliling, warga berkumpul di Masjid Darul Hamidi, RT 1/RW 1, Kelurahan Palam. Mereka mengikuti pembacaan Surah Yasin, shalat Zuhur dan shalat hajat yang dirangkai dengan istighasah.
Kegiatan tersebut dihadiri Kepala Bagian Kesejahteraan Rakyat Pemerintah Kota Banjarbaru yang mewakili Wali Kota Banjarbaru, Camat Cempaka, Lurah Palam Zulhulaifah, tokoh agama, tokoh masyarakat serta warga.
Bagi sebagian masyarakat Islam, termasuk masyarakat Banjar di Kalimantan Selatan, Rabu terakhir bulan Safar menjadi momentum untuk memperbanyak ibadah dan doa. Tradisi tersebut dijalankan sebagai bentuk ikhtiar spiritual untuk memohon perlindungan kepada Allah SWT dari berbagai musibah, penyakit dan keburukan.
Di Palam, Arba Mustamir tidak hanya dimaknai sebagai rangkaian ibadah. Kegiatan tersebut juga menjadi ruang untuk merawat tradisi yang diwariskan para pendahulu sekaligus mempererat silaturahmi dan kebersamaan masyarakat.
Rangkaian kegiatan dimulai pada Selasa malam dengan pembacaan Salawat Burdah secara keliling kampung. Warga bergerak bersama menyusuri lingkungan permukiman dalam suasana religius.
Burdah keliling menjadi bagian dari tradisi yang membawa kegiatan keagamaan ke tengah lingkungan tempat warga tinggal. Warga dari berbagai usia berkumpul, berjalan bersama dan saling menyapa.
Rabu siang, suasana kegiatan berlanjut di Masjid Darul Hamidi. Warga mengikuti pembacaan Yasin, shalat Zuhur dan shalat hajat yang dirangkai dengan istighasah.
Doa yang dipanjatkan tidak hanya ditujukan untuk keselamatan diri sendiri, tetapi juga keluarga dan masyarakat. Arba Mustamir menjadi momentum untuk memohon perlindungan kepada Allah SWT dari berbagai musibah, penyakit dan keburukan, sekaligus memperbanyak doa dan zikir sebagai sarana mendekatkan diri kepada Allah SWT.
Tokoh masyarakat Palam, Guru Isnaeni, mengatakan dirinya bersyukur kegiatan Arba Mustamir kembali dapat dilaksanakan tahun ini.
“Alhamdulillah kegiatan Arba Mustamir yang merupakan kegiatan tahunan yang sudah dilaksanakan oleh pendahulu tokoh agama dan masyarakat di kelurahan dapat dilaksanakan kembali,” ujar Guru Isnaeni.
Menurut dia, pelaksanaan tahun ini bertempat di Masjid Darul Hamidi, RT 1/RW 1, Kelurahan Palam. Kegiatan tersebut menjadi salah satu bentuk ikhtiar spiritual masyarakat.
“Sebagai bentuk upaya dari usaha ikhtiar dengan spiritual keagamaan,” katanya.
Guru Isnaeni juga mengapresiasi dukungan Pemerintah Kota Banjarbaru terhadap pelaksanaan kegiatan tersebut. Menurut dia, dukungan pemerintah menjadi bagian penting dalam menjaga keberlangsungan kegiatan keagamaan masyarakat.
“Kami tokoh agama, tokoh masyarakat Palam dan sebagian warga Kelurahan Palam merasa bangga dan terima kasih mendapat support dukungan Pemerintah Kota Banjarbaru,” ujar Guru Isnaeni.
Ia mengatakan Arba Mustamir di Kelurahan Palam diagendakan secara bergantian di masjid-masjid yang ada di wilayah tersebut.
“Arba Mustamir diagendakan bergantian di setiap masjid yang ada di Kelurahan Palam,” ujarnya.
Menurut dia, pola tersebut membuat Arba Mustamir menjadi agenda bersama masyarakat, bukan hanya milik satu lingkungan. Tahun ini, Masjid Darul Hamidi di RT 1/RW 1 menjadi lokasi pelaksanaan kegiatan pada Rabu siang.
Ia menjelaskan, rangkaian kegiatan dimulai pada malam Rabu dengan pembacaan Burdah keliling. Kegiatan kemudian dilanjutkan pada Rabu siang dengan shalat hajat atau istighasah.
“Rangkaian kegiatan dimulai malam Rabu dengan pembacaan Burdah keliling dan Rabu siang shalat hajat atau shalat istighasah,” kata Guru Isnaeni.
Bagi Guru Isnaeni, doa dalam kegiatan tersebut memiliki cakupan yang luas. Masyarakat memohon pertolongan dan keselamatan bukan hanya bagi diri sendiri, tetapi juga keluarga, masyarakat, bangsa dan negara.
“Mohon pertolongan, keselamatan untuk diri sendiri, keluarga bahkan bangsa dan negara,” ujarnya.
Harapan itu, kata dia, bermuara pada kehidupan masyarakat yang selamat di dunia dan akhirat, makmur, sentosa, adil dan sejahtera.
“Semoga menjadi selamat dunia akhirat, penduduknya makmur sentosa, adil sejahtera,” katanya.
Menurut dia, semangat tersebut juga sejalan dengan harapan pembangunan Kota Banjarbaru.
“Bahkan selaras dengan Visi EMAS Kota Banjarbaru,” ujar Guru Isnaeni.
Lurah Palam Zulhulaifah mengatakan Arba Mustamir merupakan agenda keagamaan tahunan yang rutin dilaksanakan masyarakat pada bulan Safar, khususnya Rabu terakhir bulan Safar.
Menurut dia, Pemerintah Kelurahan Palam mendukung kegiatan keagamaan yang terus dilaksanakan masyarakat tersebut.
“Ini agenda tahunan rutin keagamaan di bulan Safar. Kami mendukung kegiatan keagamaan yang dilaksanakan secara rutin setiap tahun, khususnya pada bulan Safar atau Rabu terakhir bulan Safar,” ujar Zulhulaifah.
Ia mengatakan pembacaan Yasin, Burdah, shalawat, doa bersama dan tausiah bukan hanya menjadi bagian dari tradisi masyarakat. Kegiatan tersebut juga menjadi sarana mempererat silaturahmi.
“Kegiatan seperti pembacaan Yasin, Burdah, shalawat, doa bersama dan tausiah bukan hanya menjadi bagian dari tradisi masyarakat, tetapi juga menjadi sarana untuk mempererat silaturahmi,” katanya.
Menurut Zulhulaifah, kegiatan tersebut diharapkan dapat meningkatkan keimanan dan ketakwaan sekaligus memperkuat kepedulian serta kebersamaan di tengah masyarakat.
“Harapannya meningkatkan keimanan dan ketakwaan, serta memperkuat kepedulian dan kebersamaan di tengah masyarakat,” ujarnya.
Ia juga berharap masyarakat Palam senantiasa mendapat perlindungan dan dijauhkan dari bala serta bencana.
“Semoga masyarakat Palam dijauhkan dari bala dan bencana serta semakin sejahtera dan makmur,” katanya.
Dari tingkat lingkungan, Ketua RT 1/RW 1, Wiji, mengatakan masyarakat menyambut baik pelaksanaan Arba Mustamir tahun ini.
“Alhamdulillah masyarakat menyambut baik. Mudahan di tahun berikutnya lebih semarak lagi,” ujar Wiji.
Menurut Wiji, sambutan masyarakat menjadi modal penting agar kegiatan keagamaan yang telah menjadi agenda tahunan tersebut dapat terus dilaksanakan. Harapan agar kegiatan semakin semarak pada tahun berikutnya juga menunjukkan bahwa Arba Mustamir masih memiliki tempat di tengah kehidupan masyarakat Palam.
Rabu terakhir bulan Safar dalam tradisi sebagian masyarakat Islam kerap dikaitkan dengan kekhawatiran terhadap datangnya bala atau musibah. Namun, di Palam, momentum tersebut diisi dengan kegiatan keagamaan sebagai bentuk ikhtiar spiritual dan doa memohon keselamatan.
Tradisi tersebut tidak semata-mata diarahkan pada rasa takut terhadap musibah. Masyarakat mengisinya dengan ibadah, doa, zikir dan silaturahmi.
Pada Selasa malam, jalan lingkungan menjadi ruang bagi warga untuk melantunkan Burdah bersama. Sehari kemudian, Masjid Darul Hamidi menjadi tempat masyarakat berkumpul untuk membaca Yasin, melaksanakan shalat Zuhur dan shalat hajat yang dirangkai dengan istighasah.
Dua rangkaian itu membentuk satu kesatuan. Burdah keliling menghadirkan kebersamaan di tengah kampung, sedangkan kegiatan di masjid menjadi ruang yang lebih khusyuk untuk memanjatkan doa.
Di tengah kehidupan masyarakat yang semakin dinamis, pertemuan semacam itu memiliki arti tersendiri. Warga yang sehari-hari disibukkan pekerjaan dan urusan masing-masing kembali memiliki ruang untuk bertemu, saling menyapa dan mengikuti kegiatan bersama.
Bagi generasi muda, kegiatan tersebut sekaligus menjadi cara mengenalkan tradisi yang telah dijalankan para pendahulu. Tradisi tidak hanya disampaikan melalui cerita, tetapi diperlihatkan secara langsung melalui keterlibatan masyarakat.
Pola pelaksanaan yang bergantian di masjid-masjid Kelurahan Palam juga membuat Arba Mustamir menjadi agenda bersama. Setiap masjid mendapat kesempatan menjadi tempat pelaksanaan sehingga tradisi tersebut dapat terus hidup di berbagai lingkungan.
Pada akhirnya, Arba Mustamir di Palam bukan hanya tentang Rabu terakhir bulan Safar. Di dalamnya terdapat doa, ikhtiar spiritual, silaturahmi dan upaya mempertahankan kebersamaan masyarakat.
Ketika lantunan Burdah menggema pada Selasa malam dan doa dipanjatkan di Masjid Darul Hamidi pada Rabu siang, harapan warga mengarah pada satu hal yang sama: keselamatan bagi diri sendiri, keluarga, masyarakat, bangsa dan negara.
Dari Palam, tradisi itu kembali menjadi pengingat bahwa warisan keagamaan akan tetap hidup ketika masyarakat terus memberinya ruang, merawatnya bersama dan menemukan makna di dalamnya.(be)
299
Tidak ada komentar