Creative Talk Komite Ekraf: Saatnya Banjarbaru Punya Kampung Inggris

waktu baca 3 menit
Senin, 2 Mar 2026 13:06 233 Banjarbaru Emas 2

BANJARBARUEMAS.COM – Malam di Stand Komite Ekraf Banjarbaru, Senin (2/3/2026), terasa berbeda. Dalam gelaran Creative Talk & Performance #8 bertema “Remaja, Bahasa Inggris dan City Branding Kota Kreatif”, anak-anak muda berbicara tentang mimpi besar: menghadirkan Kampung Inggris di Banjarbaru sebagai identitas baru kota.

Diskusi yang dipandu moderator Harie Insanie Putra menghadirkan M. Kent Jr, Moreno, Kenzie, dan Keisya itu mengalir dari pengalaman personal belajar bahasa Inggris hingga pentingnya penguasaan bahasa global untuk memperkuat citra kota. Mereka sepakat, city branding bukan sekadar slogan, melainkan ekosistem yang dibangun dari kualitas sumber daya manusianya.

Salah satu gagasan yang mengemuka adalah menghadirkan model Kampung Inggris seperti di Pare, Kediri. Kampung Inggris Pare adalah julukan bagi sebuah kawasan di Kecamatan Pare, Kabupaten Kediri, Jawa Timur, yang dikenal sebagai pusat pembelajaran bahasa Inggris terbesar di Indonesia. Kawasan ini mencakup dua desa utama, yakni Desa Tulungrejo dan Desa Pelem.

Secara historis, kawasan itu berdiri sejak 1977 oleh Mr. Kalend Osen yang mendirikan lembaga kursus pertama bernama BEC (Basic English Course). Kini, lebih dari 160 lembaga kursus tumbuh di sana, menawarkan berbagai program mulai dari speaking, TOEFL, IELTS, hingga bahasa Arab dan Mandarin. Atmosfer belajarnya khas: banyak lembaga mewajibkan peserta berbicara bahasa Inggris di lingkungan asrama atau English Area. Programnya fleksibel, dari dua minggu hingga enam bulan, dengan jadwal rutin setiap tanggal 10 dan 25.

Model seperti itulah yang dinilai relevan untuk Banjarbaru. Kampung Inggris di kota bukan hanya pusat kursus, melainkan pusat pembelajaran imersif yang efektif dan terjangkau. Ia membangun ekosistem komunikasi aktif, meningkatkan rasa percaya diri generasi muda, sekaligus mempercepat penguasaan bahasa.

Keberadaan Kampung Inggris memiliki peran strategis. Pertama, meningkatkan kemampuan bahasa Inggris masyarakat melalui metode intensif dan lingkungan praktik langsung.
Kedua, meningkatkan kualitas SDM agar lebih kompeten dan siap bersaing di era globalisasi. Ketiga, menjadi destinasi eduwisata yang mendatangkan pelajar dari berbagai daerah, mendorong perputaran ekonomi lokal.

Lebih jauh, dampak ekonomi yang dihasilkan pun signifikan. Dari pengajar, pengelola asrama, pelaku usaha kuliner, hingga jasa transportasi dan percetakan, semua berpotensi tumbuh. Penguasaan bahasa Inggris juga membuka peluang karier lebih luas, mulai dari tour guide, staf kedutaan, hingga industri penerbangan. Bagi remaja, pengalaman belajar di lingkungan seperti itu melatih kemandirian dan kemampuan sosial lintas budaya.

Banjarbaru sendiri memiliki lima kecamatan yang menyimpan potensi untuk dikembangkan menjadi simpul-simpul Kampung Inggris. Dengan dukungan pemerintah, komunitas, dan pelaku ekonomi kreatif, setiap kecamatan bisa menghadirkan ruang belajar tematik berbasis komunitas, yang perlahan membentuk identitas kota sebagai pusat pembelajaran bahasa.

Malam itu, gagasan yang lahir bukan sekadar wacana. Ia adalah tawaran masa depan: Banjarbaru sebagai kota kreatif yang bukan hanya dikenal karena infrastrukturnya, tetapi karena generasi mudanya fasih berbicara kepada dunia. Jika Pare bisa memulai dari satu lembaga kecil pada 1977, Banjarbaru pun memiliki peluang yang sama, asal berani menjadikan bahasa sebagai fondasi identitas kota.(be)

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

LAINNYA