Dari Bank Sampah Citra Angkasa, Banjarbaru Merancang Model Kampung Sirkular

waktu baca 3 menit
Senin, 26 Jan 2026 09:39 600 Banjarbaru Emas 2

BANJARBARUEMAS.COM — Bank Sampah Citra Angkasa, RT 25 RW 05, Kelurahan Syamsudin Noor, Kecamatan Landasan Ulin, mencerminkan perubahan cara pandang pengelolaan sampah di Kota Banjarbaru. Aktivitas pengumpulan sampah warga di lokasi ini menandai pergeseran penting, dari pendekatan kebersihan semata menuju strategi ekonomi sirkular yang bertumpu pada partisipasi komunitas.

Setiap pekan, warga RT 24 dan RT 25 datang membawa sampah anorganik yang telah dipilah dari rumah. Kardus dan botol plastik ditimbang dan dicatat, lalu diangkut oleh Bank Sampah Induk Kecamatan Landasan Ulin. Keterbatasan armada membuat sebagian sampah plastik belum seluruhnya terangkut, namun aktivitas tersebut menunjukkan fondasi yang telah terbentuk: sistem berjalan, keterlibatan warga terjaga, dan nilai ekonomi mulai dihasilkan.

Pengelolaan Bank Sampah Citra Angkasa sepenuhnya dilakukan oleh warga. Bank sampah ini dipimpin oleh Dra Supartini sebagai ketua, dengan Nurmalena sebagai bendahara dan Korina Sukmawati sebagai sekretaris, serta didukung sembilan anggota aktif. Ketua RT 25, Eko Soemarsono, menyebut kegiatan ini sebagai ikhtiar menjaga kebersihan lingkungan sekaligus membangun kesadaran kolektif bahwa sampah memiliki nilai guna dan nilai ekonomi.

Praktik lapangan inilah yang kini berpotensi diangkat ke level kebijakan. Komite Ekonomi Kreatif (KEK) Kota Banjarbaru dapat menjadikan Bank Sampah Citra Angkasa sebagai salah satu rujukan utama dalam perumusan pengembangan kampung sirkular tematik berbasis ekonomi kreatif.

Saat ini, KEK Banjarbaru tengah mengajukan audiensi ke Kementerian Lingkungan Hidup (KLH). Audiensi tersebut diarahkan untuk menyinergikan program nasional Waste Crisis Center dengan inisiatif kampung sirkular di Banjarbaru. Data lapangan dari berbagai bank sampah, termasuk praktik pengelolaan di Citra Angkasa, sedang dihimpun sebagai bahan utama presentasi dan diskusi kebijakan, agar penyelarasan program nasional dan daerah bertumpu pada praktik nyata yang telah berjalan di masyarakat.

Melalui pendekatan tersebut, Bank Sampah Citra Angkasa diproyeksikan tidak hanya sebagai contoh lokal, tetapi sebagai embrio model kampung sirkular yang dapat direplikasi di tingkat kelurahan hingga kecamatan. Jika sinergi kebijakan ini terbangun, Banjarbaru berpeluang menempatkan pengelolaan sampah berbasis komunitas sebagai bagian integral pembangunan ekonomi kreatif dan penguatan ekonomi sirkular di tingkat nasional.

Kampung sirkular dipahami sebagai inisiatif berbasis komunitas yang menerapkan prinsip ekonomi sirkular dalam pengelolaan limbah domestik secara berkelanjutan. Melalui pendekatan ini, sampah diolah menjadi produk bernilai, ketergantungan pada tempat pembuangan akhir (TPA) ditekan, dan aktivitas ekonomi kreatif berbasis lingkungan didorong tumbuh. Program ini umumnya terintegrasi dengan bank sampah, pelatihan lingkungan, pengolahan eco enzyme, serta kegiatan daur ulang kreatif.

Langkah KEK tersebut sejalan dengan kebijakan Pemerintah Kota Banjarbaru yang terus memperkuat pengelolaan sampah berbasis masyarakat. Pada Selasa (16/9/2025), Pemerintah Kota Banjarbaru meresmikan Bank Sampah Induk di setiap kecamatan dalam kegiatan di Aula Gawi Sabarataan.

Dalam kesempatan itu, Wali Kota Banjarbaru Hj. Erna Lisa Halaby menyerahkan berbagai sarana pendukung, antara lain 47 unit kendaraan roda tiga, 59 mesin potong rumput, serta 586 bak sampah dari ban bekas. Pemerintah juga menyerahkan surat keputusan kader lingkungan GNC dan ST 12, apresiasi bagi penggerak lingkungan, serta bantuan pembangunan bank sampah melalui program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) PT PLN (Persero) UIP3B Kalimantan.

Wali Kota menegaskan bahwa pengelolaan sampah merupakan isu strategis yang menuntut keterlibatan aktif masyarakat. Dengan 80 unit bank sampah yang telah berjalan dan lima bank sampah induk yang baru diresmikan, Banjarbaru dinilai memiliki fondasi kelembagaan yang kuat untuk mendorong ekonomi sirkular.

Dengan menjadikan Bank Sampah Citra Angkasa sebagai titik tolak, Banjarbaru tidak memulai dari nol. Kota ini tengah menyusun model kampung sirkular yang berangkat dari praktik warga, diperkuat kelembagaan daerah, dan diselaraskan dengan kebijakan nasional. Jika direplikasi secara konsisten, model ini berpotensi menjadikan pengelolaan sampah bukan lagi beban kota, melainkan sumber nilai ekonomi dan sosial yang berkelanjutan.(be)

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

LAINNYA