Wali Kota Banjarbaru Dampingi KEK Audiensi ke Kementerian Kebudayaan, Dorong Cempaka Jadi Living Museum

waktu baca 3 menit
Jumat, 6 Feb 2026 14:36 336 Banjarbaru Emas 2

BANJARBARUEMAS.COM — Wali Kota Banjarbaru, Hj. Erna Lisa Halaby, mendampingi Komite Ekonomi Kreatif (KEK) Banjarbaru melakukan audiensi dengan Menteri Kebudayaan Republik Indonesia, Fadli Zon, di Kantor Kementerian Kebudayaan, Jumat (6/2/2026) di Jakarta. Audiensi ini membawa satu pesan utama: meminta dukungan pemerintah pusat untuk penetapan Kecamatan Cempaka sebagai Living Museum, kawasan budaya hidup berbasis sejarah dan tradisi lokal.

Dalam pertemuan tersebut, Wali Kota Erna Lisa Halaby menyampaikan apresiasi atas kesediaan Menteri Kebudayaan menerima audiensi KEK Banjarbaru. Ia menegaskan, kunjungan ini menjadi bagian penting dalam menyelaraskan kebijakan pusat dan daerah, khususnya dalam mewujudkan Visi Banjarbaru Emas.

“Kami mengucapkan terima kasih kepada Bapak Menteri Kebudayaan yang telah menerima audiensi ini. Kehadiran kami adalah ikhtiar untuk menyelaraskan arah kebijakan pusat dan daerah, agar pembangunan kebudayaan di Banjarbaru berjalan seiring dan saling menguatkan,” ujar Erna Lisa.

Ia menjelaskan, pengembangan Cempaka sebagai Living Museum tidak hanya bertujuan melestarikan sejarah dan budaya, tetapi juga menjadi fondasi Banjarbaru menuju Kota Kreatif Nasional 2027. Karena itu, Pemerintah Kota Banjarbaru meminta arahan langsung dari Menteri Kebudayaan agar langkah yang ditempuh memiliki landasan kebijakan yang kuat.

“Kami memohon arahan dan dukungan Bapak Menteri, khususnya terkait pengembangan Kecamatan Cempaka sebagai Living Museum. Harapan kami, Cempaka dapat menjadi ruang hidup kebudayaan yang berkelanjutan, sekaligus penggerak ekonomi kreatif berbasis budaya,” katanya.

Menanggapi hal tersebut, Menteri Kebudayaan RI Fadli Zon menyampaikan apresiasi atas inisiatif Pemerintah Kota Banjarbaru dan KEK Banjarbaru yang secara serius menjadikan kebudayaan sebagai pilar pembangunan.

“Saya mengapresiasi langkah Banjarbaru. Saya sangat yakin Banjarbaru mampu mewujudkan cita-cita ini. Cempaka memiliki kekuatan sejarah dan budaya yang autentik, dan itu modal penting untuk menjadi Living Museum,” ujar Fadli Zon.

Ia menegaskan, Kementerian Kebudayaan terbuka untuk memberikan dukungan maksimal, termasuk pendampingan teknis, agar pengembangan Cempaka dapat berjalan terarah dan berkelanjutan.

“Melalui Kementerian Kebudayaan, kami akan memberikan dukungan semaksimal mungkin. Kami juga terbuka jika Banjarbaru membutuhkan pendampingan. Saya mendorong Pemerintah Kota Banjarbaru untuk berkoordinasi aktif dengan satuan kerja kementerian di daerah agar langkah-langkah yang dilakukan bisa lebih optimal,” tambahnya.

Cempaka sendiri dikenal sebagai ruang hidup sejarah, tempat budaya tumbuh, bekerja, dan diwariskan lintas generasi. Di kawasan inilah Pumpung, lokasi pendulangan intan tradisional, hingga kini masih bertahan sebagai denyut nadi kebudayaan lokal.

Dari tanah Pumpung pula lahir kisah besar Intan Trisakti, intan mentah terbesar yang pernah ditemukan di Indonesia dengan berat 166,75 karat. Intan tersebut ditemukan pada 26 Agustus 1965 oleh 24 pendulang yang dipimpin H. Matsam, dan kemudian dinamai langsung oleh Presiden Soekarno sebagai simbol kesaktian dan kedaulatan bangsa. Nilainya ditaksir mencapai Rp10 triliun, meski di balik kilaunya tersimpan kisah panjang para pendulang yang kerap terlupakan.

Melalui gagasan Cempaka Living Museum, kisah-kisah itu tidak dibiarkan menjadi legenda sunyi. Sejarah dan budaya dihidupkan kembali sebagai warisan budaya tak benda, sebagai identitas Banjarbaru, sekaligus sebagai sumber edukasi dan penggerak ekonomi kreatif berbasis kebudayaan.

Dengan dukungan pemerintah pusat, Banjarbaru berharap Cempaka dapat tumbuh sebagai etalase budaya hidup yang menghubungkan masa lalu, masa kini, dan masa depan kota.(be)

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

LAINNYA