BANJARBARUEMAS.COM — Semangat pelaksanaan qurban ramah lingkungan mulai tumbuh dari lingkungan masyarakat di Kota Banjarbaru. Tidak hanya datang dari kebijakan pemerintah, kesadaran untuk mengurangi penggunaan kantong plastik saat pembagian daging qurban kini juga lahir dari inisiatif warga yang secara perlahan membangun budaya baru melalui kegiatan sosial dan keagamaan di lingkungan mereka.
Di RT 21 RW 05 Kelurahan Syamsudin Noor, gagasan Eco Qurban bahkan mulai disosialisasikan langsung oleh warga melalui kegiatan pengajian dan yasinan rutin. Dari forum itu, lahir kesepakatan bersama untuk mulai meninggalkan kantong plastik sekali pakai pada pelaksanaan Iduladha tahun ini.
Langkah tersebut sejalan dengan program Eco Qurban yang digagas Pemerintah Kota Banjarbaru melalui Dinas Lingkungan Hidup (DLH). Program itu mendorong pelaksanaan Hari Raya Iduladha dengan konsep ramah lingkungan, mulai dari proses penyembelihan hingga pendistribusian daging qurban kepada masyarakat.
Dalam program tersebut, penggunaan kantong plastik sekali pakai diimbau untuk dikurangi dan diganti menggunakan wadah yang lebih ramah lingkungan seperti besek bambu, wadah guna ulang, daun pisang, maupun daun jati.
Sosialisasi di tingkat warga terlihat dalam kegiatan yasinan malam Jumat yang digelar di rumah Misiyar, Jumat (22/5/2026) malam. Kegiatan rutin dua mingguan itu dihadiri Ketua RT 21 Erwin Sholihan, para pengurus RT, tokoh masyarakat, sesepuh kampung, hingga anggota kelompok yasinan.
Di tengah suasana penuh keakraban, pembahasan malam itu tidak hanya berisi kegiatan keagamaan, tetapi juga menyentuh persoalan lingkungan dan persiapan pelaksanaan qurban tahun ini. Warga sekaligus membentuk panitia qurban dan mendiskusikan penerapan konsep Eco Qurban di lingkungan mereka.
Ketua RT 21 RW 05 Kelurahan Syamsudin Noor, Erwin Sholihan, mengatakan kesadaran menjaga lingkungan mulai tumbuh dari masyarakat sendiri. Menurut dia, warga kini mulai aktif menyampaikan pentingnya mengurangi sampah plastik kepada tetangga dan keluarga melalui berbagai kegiatan warga.
“Jadi sosialisasi ini bukan hanya dari pemerintah saja, tapi warga juga ikut bergerak menyampaikan ke warga lain lewat pengajian, yasinan, dan kegiatan lingkungan. Karena kami melihat sendiri, saat qurban sampah plastik memang cukup banyak,” ujar Erwin.
Ia menuturkan, selama ini pembagian daging qurban identik dengan penggunaan kantong plastik dalam jumlah besar. Padahal, plastik sekali pakai menjadi salah satu penyumbang utama timbulan sampah rumah tangga yang sulit terurai.
Karena itu, warga mulai mencari alternatif yang lebih sederhana namun tetap mudah diterapkan. Salah satunya dengan memanfaatkan daun pisang yang banyak tersedia di lingkungan permukiman mereka.
“Mungkin nanti pakai daun pisang atau warga kami imbau membawa baskom masing-masing dari rumah. Kebetulan di lingkungan sini banyak pohon pisang milik warga, jadi daunnya bisa dimanfaatkan,” katanya.
Menurut Erwin, pendekatan melalui kegiatan pengajian dan yasinan dinilai lebih efektif karena masyarakat dapat berdiskusi langsung dalam suasana santai dan kekeluargaan. Cara itu juga membuat pesan tentang pentingnya menjaga lingkungan lebih mudah diterima warga.
Dalam kesempatan tersebut, warga juga membentuk panitia qurban sebagai bagian dari persiapan pelaksanaan Iduladha. Panitia dipimpin bidang keagamaan lingkungan setempat dengan melibatkan warga secara gotong royong.
“Alhamdulillah tahun ini ada salah satu warga kami yang berqurban. Sekaligus tadi malam kami membentuk panitia qurbannya yang diketuai Bapak Syamsul Huda dan Bapak Kuswadi, dibantu sekitar 10 anggota,” ujarnya.
Sementara itu, Pemerintah Kota Banjarbaru melalui DLH terus memperkuat kampanye Eco Qurban ke berbagai wilayah. Melalui himbauan tersebut, pemerintah mengajak seluruh elemen masyarakat mengurangi penggunaan plastik sekali pakai saat pembagian daging qurban.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kota Banjarbaru, Shanty Eka, mengatakan gerakan Eco Qurban merupakan bagian dari upaya membangun kesadaran kolektif masyarakat terhadap pentingnya menjaga lingkungan dari persoalan sampah plastik.
Menurut dia, perubahan besar bisa dimulai dari kebiasaan sederhana di lingkungan masyarakat, termasuk dalam momentum Hari Raya Iduladha.
“Melalui Eco Qurban, kami ingin mengajak masyarakat menjadikan ibadah qurban tidak hanya bernilai sosial dan spiritual, tetapi juga membawa manfaat bagi lingkungan. Kalau biasanya pembagian daging menggunakan kantong plastik, sekarang kita mulai biasakan memakai wadah ramah lingkungan seperti besek, daun pisang, atau wadah guna ulang. Hal kecil seperti ini jika dilakukan bersama-sama akan sangat berdampak dalam mengurangi sampah plastik di Banjarbaru,” kata Shanty.(be)
191
Tidak ada komentar