Sungai Besar Mengajar: Saat Kelurahan Menjawab Tantangan Pendidikan, dari Banjarbaru untuk Generasi Emas

waktu baca 5 menit
Kamis, 4 Jun 2026 09:09 172 Banjarbaru Emas 2

BANJARBARUEMAS.COM — Ada sesuatu yang berbeda di Kota Banjarbaru menjelang akhir pekan ini.

Di saat sebagian kantor pemerintahan identik dengan pelayanan administrasi dan urusan birokrasi, Aula Kelurahan Sungai Besar justru akan berubah menjadi ruang belajar. Puluhan anak sekolah dasar akan duduk berhadapan dengan para pengajar, membuka buku pelajaran, mencatat rumus, mengerjakan soal, dan mempersiapkan diri menghadapi ulangan kenaikan kelas.

Pemandangan ini menjadi salah satu potret bagaimana kreativitas birokrasi di Banjarbaru terus bergerak tanpa henti.

Di bawah kepemimpinan Wali Kota Banjarbaru, Hj. Erna Lisa Halaby, para lurah didorong untuk tidak hanya menjalankan fungsi administratif, tetapi juga aktif berinovasi, hadir di tengah masyarakat, dan menyelesaikan persoalan warga dari tingkat paling dekat.

Pesan itu kemudian diterjemahkan dalam berbagai bentuk program yang lahir dari kebutuhan riil masyarakat. Salah satunya adalah Program Sungai Besar Mengajar, sebuah gerakan pendidikan yang digagas Kelurahan Sungai Besar dan akan mulai dilaksanakan pada Jumat (5/6/2026).

Program ini mungkin sederhana dalam bentuknya. Namun jika dicermati lebih jauh, ia menyimpan pesan besar tentang bagaimana pemerintah hadir melalui cara-cara yang dekat dengan kehidupan masyarakat.

Selama ini publik mengenal gerakan Indonesia Mengajar yang menggerakkan anak-anak muda terbaik bangsa untuk mengabdi di berbagai pelosok Indonesia. Masyarakat juga mengenal Kemenkeu Mengajar, program tahunan yang mengajak pegawai Kementerian Keuangan berbagi ilmu kepada pelajar di seluruh Indonesia.

Kini, semangat yang sama tumbuh dari tingkat kelurahan.

Bukan kementerian. Bukan lembaga besar. Melainkan sebuah kantor kelurahan yang memilih mengambil peran dalam meningkatkan kualitas pendidikan anak-anak di lingkungannya.

Langkah ini lahir dari sebuah kegelisahan sederhana.

Menjelang pelaksanaan ulangan kenaikan kelas tingkat Sekolah Dasar, Kelurahan Sungai Besar melihat banyak anak membutuhkan tambahan pendampingan belajar. Tidak semua keluarga memiliki akses terhadap bimbingan belajar. Di sisi lain, hasil Tes Kemampuan Akademik (TKA) SD Tahun 2026 menunjukkan bahwa mata pelajaran matematika masih menjadi tantangan terbesar bagi siswa Indonesia dengan rata-rata nilai nasional hanya 43,41.

Data tersebut menjadi alarm bahwa penguatan kemampuan dasar anak-anak masih menjadi pekerjaan bersama.

Dari sinilah gagasan Sungai Besar Mengajar bermula.

Program ini akan berlangsung dalam tiga sesi pembelajaran dengan kuota masing-masing 30 peserta.

Sesi pertama untuk siswa kelas 2 SD pukul 14.00–15.00 WITA, sesi kedua untuk siswa kelas 3 SD pukul 15.00–16.00 WITA, dan sesi ketiga untuk siswa kelas 4 SD pukul 16.00–17.00 WITA.

Pemilihan sasaran peserta bukan tanpa alasan.

Menurut Lurah Sungai Besar, Anindya Risa Destiana, sebagian besar anak-anak di lingkungan Sungai Besar merupakan siswa sekolah dasar. Dengan keterbatasan ruang dan waktu, pelaksanaan tahap awal difokuskan pada kelas 2, 3, dan 4 agar proses pembelajaran berjalan lebih efektif.

“Kami ingin kegiatan ini benar-benar berdampak. Karena itu kami membatasi jumlah peserta agar pembelajaran lebih fokus dan maksimal,” ujarnya.

Yang membuat program ini menarik adalah sosok yang berdiri di depan kelas.

Anindya tidak hanya menjadi penggagas, tetapi juga turun langsung sebagai tutor matematika.
Rekam jejak akademiknya menjadi alasan kuat. Ia pernah meraih nilai sempurna 100 pada Ujian Nasional Matematika SMP, menjadi Paskibraka Nasional Tahun 2006, Duta Belia Indonesia Tahun 2006, akademisi terbaik IPDN Jurusan Keuangan, hingga lulusan terbaik Magister Ilmu Pemerintahan Universitas Lambung Mangkurat dengan IPK 3,98.

Namun bagi Anindya, capaian tersebut bukanlah penghargaan yang dipajang di dinding. Baginya, ilmu harus kembali kepada masyarakat.

“Matematika bukan sekadar angka. Matematika melatih logika, ketelitian, disiplin, dan kemampuan menyelesaikan masalah. Itu yang ingin kami tanamkan kepada anak-anak,” katanya.

Untuk mata pelajaran Bahasa Inggris, peserta akan dibimbing oleh Miss Ayu, lulusan Pendidikan Bahasa Inggris dan Pendidikan Guru Sekolah Dasar yang telah berpengalaman mendampingi anak-anak melalui berbagai kegiatan pendidikan dan literasi.

Dengan pendekatan yang hangat dan menyenangkan, ia berharap anak-anak tidak lagi merasa takut belajar bahasa asing.

“Bahasa Inggris adalah jendela dunia. Semakin dini dipelajari, semakin besar peluang yang terbuka bagi mereka di masa depan,” ujarnya.
Namun keberhasilan program ini tidak hanya bergantung pada tutor.

Di balik ruang belajar, terdapat tim yang bekerja memastikan seluruh proses berjalan tertib dan kondusif. Mereka disebut Rangers Sungai Besar.

Tim ini terdiri dari pegawai Kelurahan Sungai Besar dan Ketua TP PKK Kelurahan Sungai Besar yang selama ini dikenal aktif mendampingi berbagai kegiatan anak-anak di lingkungan kelurahan.

Peran Rangers bukan sekadar panitia.
Mereka menjadi tim pengondisian yang memastikan seluruh rangkaian kegiatan berjalan lancar. Ketika tutor fokus mengajar di dalam aula, Rangers mengatur perpindahan peserta antar sesi, membagikan ringkasan rumus dan contoh soal, memeriksa kelengkapan peserta, mengelola pembagian snack dan susu, hingga menyiapkan doorprize.

Konsep ini sengaja dirancang karena kegiatan dilaksanakan di aula kantor kelurahan, bukan di ruang kelas sekolah yang memiliki sistem pembelajaran permanen.

“Kami ingin satu jam pembelajaran benar-benar efektif. Karena target kami adalah memberikan pendalaman materi yang maksimal dalam waktu yang terbatas. Maka tutor harus fokus mengajar, sementara Rangers menangani seluruh kebutuhan pendukung di luar area belajar,” jelas Anindya.

Anak-anak yang hadir nantinya tidak hanya mendapatkan pembelajaran, tetapi juga snack, susu, serta materi ringkasan yang bisa dipelajari kembali di rumah menjelang ulangan.

Lebih dari itu, mereka akan mendapatkan pengalaman berharga bahwa ada pemerintah yang hadir untuk mereka.

Program Sungai Besar Mengajar mungkin hanya berlangsung beberapa jam.

Namun semangat yang dibawanya jauh
melampaui durasi kegiatan itu sendiri.

Karena sesungguhnya yang sedang dibangun bukan hanya kemampuan matematika dan bahasa Inggris anak-anak.

Yang sedang dibangun adalah keyakinan bahwa pendidikan merupakan urusan bersama. Bahwa pemerintah dapat hadir lebih dekat. Dan bahwa perubahan besar sering kali dimulai dari langkah-langkah kecil yang dilakukan dengan hati.

Di Banjarbaru, langkah kecil itu hari ini bernama Sungai Besar Mengajar.

Sebuah ikhtiar sederhana dari tingkat kelurahan untuk menyambut Generasi Emas Banjarbaru, sekaligus bukti bahwa ketika inovasi diberi ruang, birokrasi dapat menjadi sumber inspirasi bagi masyarakat yang dilayaninya.(be)

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

LAINNYA