Foto : Harie Insani Putra, Ketua Bidang Riset KEK Banjarbaru Emas, memulai Riset di Cempaka dimulai dari budaya Mawarung.(BE) BANJARBARUEMAS.COM – Kick Off Mbaroh Aero Kalcer Festival 2026 di Landasan Ulin Utara adalah eksperimen kebijakan: bagaimana budaya kampung, ketika diberi ruang, mampu bergerak cepat, menyatukan warga, dan membentuk narasi kota. Dari Mbaroh, kita belajar satu hal penting—bahwa pembangunan kebudayaan tidak selalu lahir dari rencana paling awal, tetapi sering muncul dari momentum yang tepat.
Namun justru karena itulah, setelah Mbaroh, kita perlu kembali ke Kecamatan Cempaka.
Kembali bukan berarti mengulang. Kembali berarti mendalami.
Cempaka: Target Awal yang Menunggu Waktu
Sebelum Mbaroh bergerak lebih dulu, Cempaka telah menjadi target awal rencana kerja melalui riset lapangan Harie Insani Putra, Ketua Bidang Riset Ekonomi Kreatif Banjarbaru Emas. Wilayah ini sejak lama terbaca sebagai ruang memori kolektif Banjarbaru—tempat sejarah, praktik budaya, dan kehidupan ekonomi tradisional masih berlangsung bersamaan.
Jika Mbaroh menunjukkan bagaimana budaya bisa dipantik, maka Cempaka menyimpan potensi untuk dikonstruksi secara sistematis. Bukan sekadar festival, tetapi ekosistem kebudayaan.
Karena itu, langkah berikutnya adalah diskusi awal dan pemetaan data oleh Komite Ekonomi Kreatif Banjarbaru Emas. Tujuannya jelas: membangun dasar akademik dan sosial untuk menjadikan Cempaka sebagai Living Museum Banjarbaru.

Tujuh Aset: Kerangka Pemetaan Budaya
Pendekatan yang digunakan tidak boleh parsial. Living museum tidak bisa berdiri hanya dari budaya visual atau seni pertunjukan. Ia membutuhkan arsitektur aset yang utuh, yang dalam konteks Cempaka dirumuskan dalam tujuh aset utama:
Kerangka ini penting agar pembangunan budaya tidak terjebak pada romantisme, tetapi berbasis data dan relevan dengan kebutuhan masa kini.

Cempaka Sudah “Hidup” Sebelum Disebut Museum
Menariknya, sebagian besar aset itu sudah hadir dan berjalan di Cempaka.
Pendulangan intan bukan sekadar cerita masa lalu, tetapi praktik ekonomi yang membentuk identitas kawasan. Haul Akbar Syarifah Badrun bukan hanya peristiwa keagamaan, melainkan simpul spiritual dan sosial. Pupur bangkal, sasirangan, kampung purun, wadai tradisional, hingga rumah kayu era 1960-an, 1970-an, dan 1980-an adalah arsip hidup yang belum diberi bingkai kebijakan.
Bahkan peninggalan rel kereta menunjukkan bahwa Cempaka pernah menjadi bagian penting dari jaringan ekonomi dan mobilitas regional. Semua ini menegaskan satu fakta: Cempaka tidak perlu “dibuat-buat” menjadi living museum—ia hanya perlu ditata dan dimaknai.
Living Museum: Dari Artefak ke Pengalaman
Berbeda dengan museum konvensional, museum kehidupan (living museum) menempatkan masyarakat sebagai kurator utama. Sejarah tidak disimpan di balik kaca, tetapi dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari. Pengunjung belajar melalui interaksi langsung, pengalaman inderawi, dan keterlibatan emosional.
Ciri inilah yang membuat living museum relevan dengan ekonomi kreatif. Ia menciptakan nilai tambah tanpa merusak keaslian. Warga tetap hidup dengan cara mereka, namun diberi ruang untuk menjelaskan, merawat, dan memperoleh manfaat dari pengetahuan lokalnya.
Pengalaman Kotagede dan Umbulharjo di Yogyakarta menunjukkan bahwa living museum berhasil ketika kebijakan tidak mengambil alih peran warga, melainkan memperkuat posisi komunitas sebagai subjek budaya.

Dari Festival ke Strategi Peradaban
Jika Mbaroh adalah contoh budaya sebagai peristiwa, maka Cempaka harus diarahkan sebagai budaya sebagai sistem.

Kembali ke Cempaka berarti menegaskan bahwa Banjarbaru sedang berupaya merawat ingatan kolektif dan identitas warganya.
Pada akhirnya, Living Museum Cempaka adalah tentang bagaimana masa lalu diberi ruang untuk hidup di masa depan—dengan warga sebagai pelaku utama, budaya sebagai fondasi, dan kota sebagai rumah bersama.
Dan dari sanalah, Banjarbaru Emas menemukan makna terdalamnya.(be)
Tidak ada komentar