Pesan Wali Kota Banjarbaru: Sampah Harus Selesai dari Rumah.”

waktu baca 3 menit
Rabu, 8 Apr 2026 16:10 236 Banjarbaru Emas 2

BANJARBARUEMAS.COM — Sepulang dari studi tiru pengelolaan sampah di Kelurahan Rorotan, Jakarta Utara, awal April 2026 lalu, para camat dan lurah di Banjarbaru tak ingin menunggu lama. Pesan yang dibawa pulang sederhana, tetapi mendasar: pengelolaan sampah harus dimulai dari sumbernya, dari rumah tangga.

Di Kelurahan Syamsudin Noor, langkah itu segera diterjemahkan dalam pertemuan warga. Rabu (8/4/2026), Lurah Syamsudin Noor Fitria Khairani menggelar sosialisasi di rumah Ketua RT 34, Hasan. Hadir Ketua RW 07 Suyono, para Ketua RT 31 hingga RT 35, Ketua LPM Suprianto, Ketua Forum RT/RW KH. Mukhyar Maskur, pengurus RW, serta para ibu ketua RT.

Dalam pertemuan itu, Fitria menegaskan kembali pesan Wali Kota Banjarbaru, Hj. Erna Lisa Halaby, kepada camat dan lurah yang mengikuti studi tiru. Pengelolaan sampah, kata dia, tidak bisa lagi bertumpu pada pemerintah semata.

“Pengelolaan harus dari hulu, dari masing-masing rumah. Kalau di hulunya sudah beres, sisanya yang benar-benar tidak bisa diolah baru ditangani pemerintah di hilir,” ujar Fitria.

Salah satu yang menyita perhatian warga adalah pengenalan metode Losida (Lodong Sisa Dapur). Metode ini memanfaatkan pipa paralon yang dilubangi lalu ditanam ke tanah sebagai komposter sederhana. Sisa dapur seperti sayur, buah, dan nasi dimasukkan ke dalamnya untuk terurai langsung di dalam tanah dan menjadi kompos.

Konsepnya sederhana: mengurangi sampah organik sejak dari dapur, sekaligus menyuburkan tanah di pekarangan. Biayanya murah, teknologinya mudah ditiru, dan bisa dilakukan setiap rumah.

Fitria secara khusus meminta keterlibatan ibu-ibu dalam gerakan ini. Menurut dia, pengalaman mengelola sampah rumah tangga sehari-hari menjadi modal sosial yang penting.

Di tingkat RW, dukungan juga menguat. Ketua RW 07 Suyono memaparkan bahwa wilayahnya telah lebih dulu menjalankan bank sampah.

Ketua LPM Suprianto menambahkan, dirinya bersama lurah telah meninjau TPS 3R di kelurahan untuk memastikan kesiapan di sisi hilir. Sementara Ketua Forum RT/RW Mukhyar Maskur menyatakan komitmennya mendukung langkah bersama tersebut.

Pengalaman konkret datang dari RT 33. Ketua RT 33 Yoni Setiawan menceritakan kesan selama di Rorotan: keseriusan pemerintah dan warga dalam menjadikan pengelolaan sampah sebagai gerakan kolektif.

“Kalau dikelola dengan baik dan benar, sampah ini bukan masalah. Justru bisa jadi manfaat untuk kita sendiri,” katanya.

Di RT 33, upaya itu bukan hal baru. Selama sekitar delapan bulan terakhir, warga konsisten menjalankan program MARKISA (Mari Kita Sedekah Sampah) untuk sampah non-organik.
Setiap Minggu pagi warga memilah dan mengumpulkan sampah bernilai. Setiap Sabtu sore, sampah itu dikelola melalui mekanisme bank sampah, lalu hasilnya dimanfaatkan untuk kegiatan sosial.

“Di Rorotan kami belajar satu hal: perubahan itu terjadi karena semua bergerak, bukan hanya pemerintah. Di RT 33 kami sudah mulai lewat MARKISA. Sekarang tinggal kita perkuat dari rumah masing-masing” ujar Yoni.(be)

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

LAINNYA