BANJARBARUEMAS.COM – Komunitas Informasi Masyarakat (KIM) Tangguh Kelurahan Mentaos turut ambil bagian dalam Focus Group Discussion (FGD) bertema Membedah Peluang dan Batasan Artificial Intelligence (AI) di Ruang Redaksi dan Studio untuk Program Siaran yang Berkualitas yang diselenggarakan oleh Komisi Penyiaran Indonesia Daerah Kalimantan Selatan di Auditorium Radio Republik Indonesia Banjarmasin, Senin (8/6/2026).
Kegiatan tersebut mempertemukan regulator, akademisi, dan praktisi penyiaran dari berbagai daerah di Kalimantan Selatan untuk membahas peluang sekaligus tantangan pemanfaatan kecerdasan buatan dalam industri penyiaran yang tengah mengalami transformasi besar akibat perkembangan teknologi digital.
Dalam forum yang berlangsung interaktif itu, KIM Tangguh Mentaos hadir bersama Radio Tunanetra Indonesia sebagai penyelenggara radio streaming yang selama ini aktif mengembangkan literasi digital dan penyebaran informasi kepada masyarakat.
FGD menghadirkan Wakil Ketua Komisi Penyiaran Indonesia, Mohamad Reza, yang memaparkan perkembangan terkini pemanfaatan AI dalam dunia penyiaran. Menurutnya, kecerdasan buatan telah membawa perubahan signifikan dalam proses produksi konten, penyuntingan audio dan video, analisis perilaku audiens, hingga penyajian informasi yang lebih cepat dan efektif.
“AI telah membawa perubahan besar dalam dunia penyiaran. Teknologi ini membantu proses kerja menjadi lebih cepat, lebih terukur, dan lebih efektif dalam memahami kebutuhan audiens,” ujarnya.
Meski demikian, perkembangan teknologi tersebut juga menghadirkan berbagai tantangan baru. Isu akurasi informasi, etika penyiaran, perlindungan data pribadi, serta potensi penyebaran informasi yang menyesatkan menjadi perhatian utama yang harus diantisipasi oleh seluruh pelaku industri media.
Karena itu, insan penyiaran dituntut mampu memanfaatkan AI secara bijaksana tanpa meninggalkan prinsip-prinsip jurnalistik, standar etika, dan regulasi yang berlaku.
Bagi KIM Tangguh Mentaos, forum ini menjadi ruang belajar yang penting untuk memperkuat kapasitas pengelola informasi masyarakat. Sebagai komunitas yang mengelola berbagai kanal komunikasi publik seperti website, media sosial, podcast, dan radio streaming, pemahaman mengenai AI dinilai semakin relevan untuk mendukung penyebaran informasi yang cepat, akurat, dan bermanfaat.
Diskusi juga menghasilkan berbagai pandangan mengenai masa depan dunia broadcasting di tengah konvergensi teknologi yang semakin mengaburkan batas antara media penyiaran konvensional dan platform digital. AI dipandang bukan sebagai pengganti manusia, melainkan alat bantu yang dapat meningkatkan produktivitas, kreativitas, dan efektivitas kerja apabila digunakan secara bertanggung jawab.
Dalam sesi diskusi, Ketua KIM Tangguh Mentaos, Abdul Karim, menyoroti pentingnya kehadiran regulasi yang mampu mengakomodasi perkembangan teknologi yang bergerak jauh lebih cepat dibandingkan perubahan aturan.
Menurutnya, konvergensi teknologi telah membuat batas antarplatform komunikasi semakin kabur sehingga diperlukan kebijakan yang mampu menjawab tantangan baru di ruang digital.
“Regulasi harus mampu mengakomodasi semua kepentingan. Dalam era konvergensi teknologi seperti sekarang, batas antarplatform sudah sangat kabur. Radio memiliki kemampuan membentuk opini publik, demikian pula berbagai media lain yang memenuhi ruang internet. Karena itu, frekuensi radio dan internet sebagai sarana strategis yang menguasai hajat hidup orang banyak harus tetap berada dalam kontrol dan kendali negara,” katanya.
Ia menambahkan, kebebasan berekspresi yang dijamin oleh undang-undang perlu diimbangi dengan tanggung jawab bersama agar ruang digital tidak dipenuhi konten yang merugikan masyarakat.
“Perlu ada regulasi terpadu di tengah chaos dunia penyiaran akibat teknologi yang sangat cepat berubah, agar semua elemen, berbagai aspirasi, dan kepentingan ekonomi dapat bergerak bersama secara harmonis. Kebebasan berekspresi harus tetap dijaga, namun ruang digital juga harus sehat, cerdas, dan beretika,” ujar Abdul Karim.(be)
180
Tidak ada komentar