Kelurahan Mentaos Memulai, Banjarbaru Dorong Perubahan Lewat Pilah Sampah Rumah Tangga

waktu baca 3 menit
Selasa, 7 Apr 2026 06:42 320 Banjarbaru Emas 2

BANJARBARUEMAS.COM — Upaya membenahi pengelolaan sampah di Kota Banjarbaru mulai bergerak ke arah yang lebih mendasar. Tidak lagi bertumpu pada pola lama “kumpul-angkut-buang”, pemerintah kota melalui para lurah dan camat kini mulai mendorong perubahan dari sumbernya: rumah tangga.

Langkah ini menguat setelah para lurah dan camat se-Banjarbaru mengikuti studi tiru ke kawasan Rorotan, Kecamatan Cilincing, Jakarta Utara, pada 3–4 April 2026. Di kawasan tersebut, pengelolaan sampah berbasis pemilahan dari sumber telah berjalan secara konsisten dan terintegrasi, menjadi rujukan implementasi peta jalan nasional pengelolaan sampah sejak 2025.

Dari kunjungan itu, para peserta memperoleh gambaran utuh bahwa keberhasilan pengelolaan sampah tidak semata ditentukan oleh teknologi atau infrastruktur, melainkan oleh perubahan perilaku masyarakat. Tanpa kebiasaan memilah sampah sejak dari rumah, sistem pengelolaan apa pun akan sulit berjalan optimal.

Kesadaran itu kini mulai diterjemahkan dalam aksi nyata di tingkat kelurahan. Salah satunya di Kelurahan Mentaos.

Pada Selasa (7/4/2026), Lurah Mentaos Ciptadi Sunaryo bersama pengelola Bank Sampah KAMI, Sariyati, turun langsung ke lapangan. Mereka menyusuri wilayah RW 04, berdialog dengan warga dari rumah ke rumah, sekaligus melakukan pemetaan titik-titik strategis untuk penempatan sarana pengelolaan sampah organik.

RW 04 yang terdiri atas empat rukun tetangga (RT) ditetapkan sebagai wilayah percontohan pemilahan sampah dari sumber di Kelurahan Mentaos. Penetapan ini didasarkan pada kesiapan wilayah, kedekatan akses ke Bank Sampah KAMI, serta antusiasme warga yang telah terlihat dalam berbagai kegiatan sebelumnya.

Dari hasil survei lapangan, disepakati beberapa langkah teknis yang akan segera diimplementasikan. Pertama, setiap RT akan memiliki satu lubang komposter komunal. Dengan demikian, total akan dibangun empat lubang komposter yang digunakan secara bersama-sama oleh warga untuk mengolah sampah organik rumah tangga.

Kedua, sebanyak 10 titik tong biru akan ditempatkan di lokasi strategis di lingkungan RW 04. Tong ini berfungsi sebagai titik kumpul sementara sampah organik dari warga sebelum diangkut secara berkala menuju fasilitas komposter yang dikelola Bank Sampah KAMI. Sistem ini dirancang untuk memudahkan warga sekaligus menjaga konsistensi alur pengelolaan.

Ketiga, penguatan peran masyarakat dilakukan melalui penunjukan relawan di setiap RT. Relawan ini akan menjadi penggerak utama sekaligus contoh dalam pengolahan sampah organik menggunakan metode ember tumpuk. Sebanyak 20 orang ditargetkan terlibat, dengan fasilitas ember tumpuk yang disediakan secara gratis oleh Bank Sampah KAMI.

Skema ini menempatkan warga sebagai pelaku utama perubahan.

Menurut Ciptadi, kesiapan warganya sudah mulai terbentuk sejak kegiatan sosialisasi yang dilaksanakan Dinas Lingkungan Hidup Banjarbaru pada 29 Maret 2026. Saat itu, antusiasme warga terlihat jelas, terutama dari kalangan ibu rumah tangga yang menjadi aktor penting dalam pengelolaan sampah rumah tangga.

Usai sosialisasi, warga diajak mengunjungi langsung Bank Sampah KAMI. Di sana, mereka menyaksikan secara nyata bagaimana sistem bank sampah bekerja, mulai dari proses pendaftaran nasabah, mekanisme penimbangan, hingga transparansi daftar harga yang diperbarui secara berkala oleh pengelola.

Tidak hanya itu, warga juga diperlihatkan hasil pengolahan sampah organik menjadi pupuk cair. Produk tersebut kemudian diaplikasikan langsung ke kebun sayuran yang berada di sekitar lokasi bank sampah. Praktik ini memberi gambaran konkret tentang siklus pengelolaan sampah yang berkelanjutan: dari dapur rumah, diolah bersama, lalu kembali memberi manfaat bagi lingkungan.

Pengalaman tersebut menjadi titik balik dalam membangun kesadaran warga. Sampah tidak lagi dipandang sebagai beban, melainkan sebagai sumber daya yang dapat dikelola dan dimanfaatkan.

Langkah yang kini dilakukan di Mentaos menunjukkan bahwa perubahan paradigma pengelolaan sampah mulai menemukan bentuknya di tingkat lokal. Pendekatan yang dibangun tidak hanya bersifat teknis, tetapi juga menyentuh aspek sosial dan budaya masyarakat.

“Yang kami bangun bukan hanya fasilitas, tetapi kebiasaan. Kalau warga sudah terbiasa memilah dari rumah, maka sistem ini akan berjalan dengan sendirinya,” ujar Ciptadi.(be)

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

LAINNYA