Camat Landasan Ulin Apresiasi 15 Suster Santi, Gerakan Warga Tekan Sampah dari Sumbernya

waktu baca 3 menit
Kamis, 16 Apr 2026 10:10 224 Banjarbaru Emas 2

BANJARBARUEMAS.COM – Sebuah gerakan sunyi namun berdampak mulai tumbuh dari lingkungan permukiman di Kelurahan Syamsudin Noor, Kecamatan Landasan Ulin. Sejak digulirkan pada 27 Maret 2026, inovasi “Suster Santi” (Sumur Komposter Sanitasi) perlahan menunjukkan hasil nyata. Hingga 16 April 2026, sebanyak 15 unit sumur komposter telah terbangun dan aktif dimanfaatkan warga.

Di tengah persoalan klasik pengelolaan sampah perkotaan, langkah kecil ini justru menawarkan jawaban konkret dari tingkat paling dasar: rumah tangga.

Suster Santi merupakan sumur komposter sederhana dengan kedalaman sekitar satu meter, yang difungsikan untuk mengolah sampah organik langsung dari sumbernya. Sisa makanan, daun kering, kulit buah, hingga limbah dapur dimasukkan ke dalam sumur untuk kemudian terurai secara alami menjadi kompos. Konsepnya sederhana, biaya pembuatannya terjangkau, serta mudah diterapkan di tingkat RT.

Inovasi ini lahir dari inisiatif Ketua RT 33 RW 07, Yoni Setiawan, bersama warga. Di sela kesibukannya sebagai Supervisor Pengolahan Air Minum di PTAM Bandarmasih, Yoni mendorong perubahan pola pikir masyarakat agar tidak lagi sepenuhnya bergantung pada sistem angkut buang ke TPS dan TPA.

“Suster Santi ini berangkat dari kegelisahan kami melihat sampah rumah tangga yang terus menumpuk. Padahal, sekitar 50 persen adalah sampah organik yang sebenarnya bisa selesai diolah di rumah. Dari situ kami mencoba membuat solusi sederhana yang bisa langsung dipraktikkan warga,” ujar Yoni.

Ia menjelaskan, setiap satu sumur komposter dimanfaatkan oleh sekitar enam rumah tangga secara bergiliran. Pengelolaan dilakukan secara terkoordinasi, dengan kontrol rutin setiap pekan untuk memastikan proses berjalan baik dan tetap higienis.

“Dari pengalaman kami, dalam satu minggu saja volume sumur sudah terisi hingga 50 persen. Artinya, kebutuhan fasilitas ini memang nyata. Karena itu, kami berinisiatif menambah titik baru dengan dana pribadi agar semangat warga tidak turun dan pengelolaan tetap optimal,” kata Yoni.

Langkah tersebut terbukti efektif. Selain mengurangi beban sampah yang harus diangkut ke TPS, hasil penguraian juga dimanfaatkan kembali sebagai pupuk kompos untuk tanaman warga.

Keseriusan warga pun terus meningkat. Penambahan 10 unit baru membuat total Suster Santi kini mencapai 15 titik. Jumlah ini dinilai cukup signifikan untuk menekan volume sampah organik di lingkungan setempat.

Camat Landasan Ulin, Dinny Wahyuni, memberikan apresiasi tinggi atas inisiatif warga tersebut. Menurutnya, Suster Santi adalah gerakan sosial yang menyentuh perubahan perilaku masyarakat.

“Saya sangat mengapresiasi lahirnya inovasi Suster Santi sebagai langkah nyata dalam mendorong kesadaran masyarakat terhadap pentingnya pengelolaan sampah sejak dari sumbernya. Ini adalah gerakan bersama yang menyentuh langsung kebiasaan sehari-hari warga,” ujarnya.

Ia menilai, kesadaran warga dalam memilah dan mengelola sampah dari rumah merupakan fondasi penting dalam membangun lingkungan yang bersih dan berkelanjutan.

“Upaya warga ini adalah bentuk kepedulian yang patut kita banggakan. Ini menunjukkan bahwa kesadaran lingkungan semakin tumbuh. Jika konsisten dilakukan, dampaknya akan sangat besar terhadap pengurangan volume sampah kota,” kata Dinny.

Pihak kecamatan, lanjutnya, akan terus memberikan dukungan melalui pembinaan, sosialisasi, hingga kolaborasi lintas sektor.

“Kami akan terus mendorong keberlanjutan inovasi ini. Harapannya, Suster Santi bisa menjadi contoh praktik baik yang dapat direplikasi di wilayah lain,” pungkasnya.(be)

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

LAINNYA