Senior Junior

waktu baca 5 menit
Rabu, 22 Apr 2026 06:35 176 Banjarbaru Emas 2

BANJARBARUEMAS.COM – Pagi tadi, setiba di tempat kerja, saya mendapat kiriman sebuah foto.

Sederhana. Tidak istimewa, sekilas.
Padahal hari ini saya sedang tidak ingin menulis. Tidak tentang apa pun.

Tapi foto itu terlalu sayang untuk dilewatkan.

Saya berhenti. Memandang lebih lama dari biasanya.

Foto itu seperti diambil tidak sengaja.

Hanya satu meja, dua sosok, dan percakapan yang berjalan pelan, tetapi terasa dalam.

Di satu sisi, Ruzaidin, Wali Kota Banjarbaru periode 2010–2015. Wajahnya tenang, seperti seseorang yang sudah terlalu sering melihat perubahan datang dan pergi.

Di sisi lain, Erna Lisa Halaby, Wali Kota Banjarbaru yang dilantik pada 21 Juni 2025. Belum genap setahun memimpin Banjarbaru, tetapi sorot matanya menyimpan sesuatu: rasa ingin tahu yang besar dan mungkin kesadaran akan tanggung jawab yang sedang ia pikul.

Saya lama memandangi foto itu.

Ada satu detail kecil yang justru terasa paling kuat: Lisa lebih banyak bertanya. Ruzaidin lebih banyak menjawab, perlahan dan tenang, seperti orang yang tidak sekadar berbicara, tetapi sedang mengingat.

Dari situ, percakapan itu terasa hidup.

Bukan percakapan mantan wali kota dan wali kota.
Tapi percakapan senior dan junior.

“Menghadapi tekanan itu bagaimana, Pak?” Mungkin itu salah satu pertanyaan Lisa.

Ruzaidin tidak langsung menjawab. Ia tersenyum kecil.
“Tekanan itu pasti ada. Yang penting bukan menghindari, tapi tahu mana yang perlu didengar, mana yang cukup lewat.”

Lisa mengangguk. Tidak memotong. Ia mendengar sampai selesai.

“Kalau keputusan tidak populer?” Ia bertanya lagi.

Ruzaidin sedikit menggeser duduknya.
“Kalau semua ingin populer, tidak ada yang berani mengambil keputusan. Pemimpin itu kadang harus siap tidak disukai sementara.”

Kata sementara itu seperti ditaruh hati-hati. Lisa menangkapnya.

Percakapan seperti itu terjadi di meja kecil di antara dua orang yang sama-sama pernah, dan sedang, memikul beban yang tidak ringan.

Dua orang ini dipertemukan oleh waktu, tetapi dibentuk oleh perjalanan yang sangat berbeda.

Ruzaidin memulai jauh lebih awal. Tahun 1978, ia sudah menjadi PNS, ketika Banjarbaru bahkan belum sepenuhnya menjadi kota seperti hari ini. Ia melewati masa transisi, masa bingung, masa mencari bentuk.

Tahun 1999, ia menjadi Sekretaris Daerah. Itu masa krusial. Reformasi baru saja membuka pintu. Sistem berubah. Kewenangan berpindah. Banyak daerah gagap. Banjarbaru juga.

Di titik itu, Ruzaidin ada di tengahnya.

Ia tidak banyak muncul di permukaan. Tapi ia ada di hampir semua simpul penting. Ia bahkan berpeluang menjadi wali kota pertama. Namun ia memilih tetap di dalam sistem, menjadi Sekda (1999–2005), Wakil Wali Kota (2005–2010), lalu Wali Kota (2010–2015).

Jika Banjarbaru itu manusia, Ruzaidin menemaninya dari bayi sampai remaja. Ia hafal nadinya.

Lisa datang dari arah yang berbeda. Ia tidak masuk dari pintu kekuasaan. Ia masuk dari pintu paling bawah, honorer, tahun 2000.

Tujuh tahun ia berada di sana. Di ruang yang sering tidak terlihat, tetapi paling dekat dengan warga. Ia berhadapan dengan hal-hal kecil, administrasi, keluhan, pelayanan yang justru paling dirasakan masyarakat.

Di situlah ia belajar satu hal: mendengar.

Saat Ruzaidin menjadi Sekda, Lisa masih honorer.
Saat Ruzaidin menjadi Wakil Wali Kota, Lisa baru diangkat PNS pada 2007.
Dan ketika Ruzaidin mengakhiri masa jabatannya pada 2015, Lisa baru memulai langkah awalnya sebagai pejabat eselon IV.

Dua garis waktu yang berjalan sendiri-sendiri.

Sampai akhirnya, bertemu di meja itu.

Yang satu penuh pengalaman. Yang satu penuh pertanyaan.

“Capeknya politik itu di mana, Pak?” Lisa mungkin bertanya lebih pelan.

Ruzaidin tertawa kecil. “Bukan di kampanye. Tapi setelah dilantik.”

Jawaban singkat. Tapi dalam.

Keduanya tahu maksudnya. Keduanya pernah melewati jalan yang sama—meski di waktu berbeda.

Ruzaidin, pada Pilkada 2010, harus melalui dua putaran. Tidak langsung menang. Harus kembali ke rakyat. Mengulang pertarungan.

Lisa juga begitu.

Dua kali pemilihan. Pemungutan suara ulang. Energi terkuras. Emosi diuji.

Kemenangan mereka bukan kemenangan cepat.

Kemenangan mereka adalah hasil bertahan.

Foto kiriman itu diambil 20 April 2026.

Saat Banjarbaru berusia 27 tahun.

Usia yang menarik. Bukan lagi remaja, tapi belum sepenuhnya mapan. Fase transisi menuju dewasa.

Dan di titik ini, Lisa memegang arah.

“Mengatur kota yang sudah besar beda ya, Pak?”
Mungkin ia kembali bertanya.

Ruzaidin mengangguk pelan.
“Dulu kita mencari bentuk. Sekarang, menjaga arah.”

Kalimat itu seperti merangkum dua zaman.

Ruzaidin pernah menjaga Banjarbaru saat ia masih mencari jati diri.
Lisa kini memimpin Banjarbaru ketika kota ini mulai menentukan langkah besarnya.

Di meja itu, tidak ada yang menggurui.

Ruzaidin tidak terlihat seperti mantan wali kota. Ia lebih seperti seseorang yang sedang menitipkan pengalaman.

Lisa tidak terlihat seperti pejabat baru. Ia seperti murid yang tahu ia sedang belajar sesuatu yang penting.

Dan menariknya, semua itu terjadi sehari sebelum Hari Kartini.

Lisa adalah perempuan pertama yang menjadi Wali Kota Banjarbaru.

“Perempuan memimpin itu berbeda tidak, Pak?”
Mungkin ia sempat bertanya.

Ruzaidin menjawab singkat,
“Yang penting bukan laki-laki atau perempuan. Tapi hati yang dipakai memimpin.”

Lisa mengangguk. Jawaban itu tidak panjang. Tapi cukup.

Saya kembali melihat foto itu. Tidak ada yang dramatis. Tapi justru di situlah kekuatannya.

Yang satu pernah menjaga Banjarbaru sampai ia “remaja”.
Yang satu sedang memimpin Banjarbaru menuju “dewasa”.

Dan di antara keduanya, ada satu hal yang sama: tenang.

Tenang yang tidak datang dari kekuasaan.
Tapi dari pengalaman. Dari proses panjang. Dari rasa memiliki.

Mungkin, masa depan Banjarbaru tidak hanya ditentukan oleh keputusan besar.

Tapi juga oleh percakapan-percakapan kecil seperti itu.

Yang sunyi. Yang jujur. Dan yang mengalir, dari senior ke junior, dari masa lalu ke masa depan.(be)

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

LAINNYA