BANJARBARUEMAS.COM— Jumat (24/4/2026), suasana di RT 32 RW 07 Kelurahan Syamsudin Noor terasa berbeda. Ada harapan yang diam-diam tumbuh dari sesuatu yang selama ini kerap dianggap tak bernilai: sampah.
Gerakan itu mereka namai MARKISA (Mari Kita Sedekah Sampah). Sebuah inisiatif sederhana yang digagas Bank Sampah Sumber Rezeki, namun menyimpan makna yang dalam. Dari tangan ke tangan, dari rumah ke rumah, sampah-sampah yang terkumpul tidak lagi berakhir di Tempat Pembuangan Sementara (TPS), melainkan menjelma menjadi sumber kebaikan bagi sesama.
Program ini menemukan momentumnya setiap Jumat Berkah. Hari ketika sedekah terasa lebih dekat, dan kepedulian seakan memiliki ruang lebih luas untuk tumbuh.
Salah satu penerima manfaatnya adalah Ainun, warga RT 32 RW 07. Dalam kondisi sakit dan tak lagi mampu bekerja, ia menggantungkan hidup pada adik laki-lakinya yang bekerja serabutan. Di tengah keterbatasan itu, MARKISA hadir bukan sekadar membawa bantuan, tetapi juga harapan.
Didampingi Ibu Ketua RT 32, Darmi, serta Ibu Ketua RT 33, Istikomawati yang juga menjadi pengelola program, bantuan kembali disalurkan. Bagi Ainun, ini bukan kali pertama. Tercatat, ia telah tiga kali menerima manfaat dari gerakan ini.
“Alhamdulillah, ini sangat membantu. Kami merasa tidak sendiri,” ucap Ainun lirih, menahan haru.
Di balik gerakan ini, ada kerja kolektif yang terjalin rapi. Warga menyisihkan sampah rumah tangga, botol plastik, gelas plastik, kardus, hingga kaleng untuk kemudian dijemput setiap pekan. Sampah itu dikumpulkan, dibersihkan, dan dipilah berdasarkan jenisnya agar memiliki nilai jual lebih tinggi.
Ketua RT 33 RW 07, Yoni Setiawan inisiator MARKISSA menyebut bahwa gerakan ini bukan sekadar soal pengelolaan sampah, melainkan tentang membangun kesadaran bersama.
“Nilai utama yang kami tanamkan adalah peduli lingkungan dan peduli sesama. Dari sampah, kita belajar berbagi. Dari sesuatu yang dianggap tidak berguna, justru lahir keberkahan,” ujarnya.
Ia menambahkan, antusiasme warga terus meningkat. Semakin banyak yang ingin terlibat, bukan hanya sebagai penyumbang sampah, tetapi juga sebagai bagian dari proses pengelolaan.
“Cara kerjanya sederhana. Kami jemput sedekah sampah setiap minggu pagi. Setelah itu dipilah dan dibersihkan. Nilainya jadi lebih tinggi. Dari situ, selain untuk sedekah, juga membuka peluang kerja bagi warga yang membantu memilah sampah,” kata Yoni.
Yang menarik, seluruh hasil dari pengelolaan sampah itu sepenuhnya disalurkan untuk kepentingan sosial. Para pengelola, termasuk pihak RT, tidak mengambil keuntungan sepeser pun. Biaya operasional pun ditopang secara swadaya.
“Kami tidak mengambil satu rupiah pun. Semua untuk warga. Kami percaya, kalau membantu dengan ikhlas, rezeki akan datang dari jalan lain yang lebih besar,” tuturnya.
Lebih dari sekadar program lingkungan, MARKISA menjelma menjadi gerakan sosial yang menyatukan dua kepedulian sekaligus: bumi dan manusia. Di tengah persoalan sampah yang kian kompleks, gerakan ini menawarkan pendekatan yang membumi, dimulai dari rumah, dari kebiasaan kecil, dan dari niat untuk berbagi.
Harapannya, langkah kecil ini tidak berhenti di satu lingkungan. Yoni dan warga lainnya ingin MARKISA tumbuh lebih luas, menjangkau Kelurahan Syamsudin Noor hingga seluruh Banjarbaru.
Yoni menegaskan harapan sederhana yang terus ia jaga bersama warga.
“Kami tidak muluk-muluk. Cukup dari lingkungan kecil ini, kami ingin terus menebar manfaat. Kalau hari ini sampah bisa jadi berkah untuk satu orang, kami yakin ke depan bisa menjangkau lebih banyak lagi yang membutuhkan,” harap Yoni.(be)
148
Tidak ada komentar