Belajar dari Hulu hingga Hilir, Yoni Setiawan Siap Menggerakkan Warganya Kelola Sampah dari Sumber

waktu baca 4 menit
Senin, 6 Apr 2026 03:52 210 Banjarbaru Emas 2

BANJARBARUEMAS.COM – Persoalan sampah yang kian kompleks menuntut pendekatan yang tidak lagi parsial, melainkan terpadu dengan menempatkan masyarakat sebagai aktor utama. Gambaran itu mengemuka dalam kegiatan studi tiru yang difasilitasi Kementerian Lingkungan Hidup dan Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH) dan diikuti Pemerintah Kota Banjarbaru.

Rangkaian kegiatan diawali di Kantor Suku Dinas Lingkungan Hidup Jakarta Utara. Dalam sesi sosialisasi, peserta memperoleh gambaran menyeluruh mengenai kebijakan dan implementasi pengelolaan sampah sesuai peta jalan nasional sejak 2025. Pendekatan yang sebelumnya bertumpu pada pola “kumpul-angkut-buang” kini ditransformasikan menjadi “kurangi-pilah-olah”.

Staf Ahli Menteri Bidang Kelestarian Sumber Daya Keanekaragaman Hayati dan Sosial Budaya KLH/BPLH, Noer Adi Wardojo, menegaskan bahwa perubahan mendasar dalam pengelolaan sampah sesungguhnya terletak pada perilaku masyarakat.

“Pengelolaan sampah tidak bisa lagi hanya mengandalkan teknologi. Kunci utamanya adalah bagaimana kita membangun kebiasaan masyarakat untuk memilah sampah dari sumbernya,” ujarnya.

Setelah paparan kebijakan, rombongan bergerak ke lapangan. Di Rumah Belajar Ulang (RBU), peserta menyaksikan secara langsung proses pemilahan dan pengolahan sampah menjadi produk bernilai guna. Aktivitas yang tampak sederhana itu menunjukkan bahwa pengelolaan sampah dapat dimulai dari langkah paling dasar, memisahkan organik dan non-organic dengan dampak yang nyata bagi lingkungan maupun ekonomi warga.

Perjalanan berlanjut ke Pasar Koja Baru, Kelurahan Tugu Utara. Di tengah aktivitas perdagangan yang padat, praktik pemilahan sampah tetap berjalan. Pedagang dan pengelola pasar disiplin memisahkan sampah sejak dari lapak. Pemandangan ini memperlihatkan bahwa pengelolaan sampah tidak harus menunggu ruang ideal; bahkan di ruang publik dengan dinamika tinggi pun kebiasaan itu bisa tumbuh.

Kontras terlihat saat rombongan mengunjungi fasilitas Refuse Derived Fuel (RDF) di Rorotan, Jakarta Utara. Di fasilitas ini, sampah diolah menjadi bahan bakar alternatif melalui pendekatan teknologi, sekaligus mengurangi beban tempat pemrosesan akhir (TPA).
Kepala Unit Pengelola Sampah Terpadu (UPST) RDF Rorotan, Agung Pujo Winarto, mengingatkan bahwa teknologi bukanlah jawaban tunggal.

“Kunci utama pengelolaan sampah adalah di sumber. Kalau sampah masih tercampur, maka beban di hilir akan selalu berat dan tanpa intervensi seperti RDF, kita hanya menunggu bom waktu di TPA,” ujarnya.

Rangkaian studi tiru ditutup di Kelurahan Rorotan, wilayah yang dinilai berhasil menerapkan pengelolaan sampah berbasis masyarakat. Di kawasan ini, pemilahan dilakukan sejak tingkat rumah tangga melalui program “rumah memilah” dan diperkuat dengan fasilitas drop point sampah organik di tingkat RT. Sosialisasi dilakukan secara konsisten, bahkan disertai mekanisme sanksi untuk menjaga kedisiplinan.

Di antara peserta, Yoni Setiawan tampak serius mencatat setiap tahapan proses. Ketua RT 33 RW 07 Kelurahan Syamsudin Noor Banjarbaru itu dikenal melalui gerakan Markisa (Mari Kita Sedekah Sampah) dan inovasi Sumur Komposter Sanitasi (Suster Santi). Bagi Yoni, studi tiru ini penguat atas langkah yang telah ia rintis dari lingkup terkecil.

“Di Rorotan ini kita lihat pengolahan sampah hasil akhir TPA. Tapi tadi juga ditegaskan, ini bukan solusi akhir. Kalau mesin rusak, sampah bisa kembali menumpuk. Artinya, kuncinya tetap di sumbernya, di rumah warga,” ujarnya.

Menurut dia, keberhasilan Rorotan justru terletak pada keberanian membudayakan pemilahan sampah melalui sosialisasi berkelanjutan dan penerapan aturan yang tegas.

“Mereka bisa membudayakan warga untuk memilah sampah. Kenapa kita tidak bisa? Kita harus bisa juga. Rumah pilah dan Suster Santi yang sudah kita jalankan saya kira sudah tepat, tinggal kita kuatkan dan diperluas ke semua RT,” katanya.

Bagi Yoni dan warganya, pengelolaan sampah bukan hal baru. Selama sekitar delapan bulan terakhir, warga RT 33 konsisten menjalankan program Markisa (Mari Kita Sedekah Sampah) untuk sampah non-organik. Kegiatan dilakukan rutin setiap Minggu pagi. Sampah yang masih bernilai dikumpulkan dan dipilah, lalu dikelola melalui mekanisme bank sampah setiap Sabtu sore.

Dalam setahun terakhir, Bank Sampah Sumber Rezeki di wilayah tersebut telah dilengkapi peralatan pengolahan yang relatif memadai. Namun, tantangan berikutnya bukan lagi pada ketersediaan sarana, melainkan peningkatan kapasitas sumber daya manusia, pengembangan desain produk daur ulang yang lebih inovatif, serta strategi promosi dan pemasaran agar memberi nilai tambah ekonomi.

“Dimulai dari keikhlasan dan modal sendiri di lingkungan RT, ternyata sampah itu yang membawa saya sampai bisa belajar ke sini. Saya yakin, kalau kita mulai dari rumah sendiri dengan konsisten, sampah bukan lagi masalah. Insya Allah, ini bisa jadi budaya warga Banjarbaru untuk menjadikan kota kita benar-benar elok,” pungkas Yoni.(be)

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

LAINNYA