Banjarbaru Tegaskan Arah Baru: Mengelola dan Menyelesaikan Sampah dari Rumah

waktu baca 5 menit
Senin, 30 Mar 2026 09:07 597 Banjarbaru Emas 2

BANJARBARUEMAS.COM — Kamis, 26 Maret 2026, suasana di Mushola Guntung Paikat, Jalan Pandawa RT 03 RW 05, Kelurahan Guntung Paikat, tampak berbeda dari biasanya. Di ruang yang lazim digunakan untuk ibadah dan pertemuan warga itu, Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Banjarbaru, Shanty Eka Septiani, memimpin langsung Sosialisasi Pengelolaan Sampah Rumah Tangga.

Kegiatan tersebut menjadi langkah awal membangun gerakan penyelesaian sampah dari Bawah dari lingkungan terkecil bernama rumah. Pemerintah Kota Banjarbaru mendorong agar persoalan sampah tidak selalu berakhir di hilir, melainkan dituntaskan sejak dari dapur rumah tangga.

Sosialisasi ini merupakan bagian dari upaya sistematis membangun kesadaran kolektif bahwa persoalan sampah tidak bisa semata diserahkan kepada petugas pengangkut dan Tempat Pemrosesan Akhir (TPA). Kuncinya ada pada pemilahan dari sumber.

Hadir dalam kegiatan itu Camat Banjarbaru Selatan, Lurah Guntung Paikat, serta puluhan warga sekitar. Dalam pemaparannya, Shanty menegaskan bahwa pengurangan timbulan sampah kota sangat bergantung pada kedisiplinan warga memilah sampah sejak dari rumah.

“Pemilahan sampah harus dimulai dari rumah tangga. Pisahkan sampah organik dan anorganik sebagai langkah dasar, karena dari situlah rantai pengelolaan berikutnya ditentukan,” ujar Shanty.

Ia menjelaskan, sampah organik seperti sisa makanan dan daun kering dapat diolah melalui metode biopori maupun teba menjadi pupuk kompos yang bermanfaat. Sementara sampah anorganik seperti botol plastik, kardus, dan logam dapat dipilah dan disetorkan ke bank sampah agar memiliki nilai ekonomi.

“Kalau pemilahan berjalan baik, sampah organik tidak lagi menumpuk di TPS dan sampah anorganik bisa bernilai guna. Inilah yang ingin kita bangun bersama: pengelolaan dari sumber,” katanya.

Pemilihan mushola sebagai lokasi kegiatan bukan tanpa makna. Gerakan ini tidak hanya menyasar aspek teknis, tetapi juga menyentuh kesadaran moral dan spiritual warga bahwa merawat bumi dan menjaga lingkungan adalah bagian dari nilai kebaikan yang juga diajarkan di ruang ibadah.

Berlanjut ke Mentaos: Dari Edukasi ke Praktik Nyata

Tiga hari berselang, Minggu, 29 Maret 2026, semangat serupa berlanjut di Kelurahan Mentaos. Shanty kembali turun langsung menemui warga.

Sebagai kepala dinas yang baru dilantik, pola kerja Shanty menarik perhatian. Ia menegaskan tidak ingin persoalan sampah hanya dibebankan pada satu bidang teknis di DLH. Menurutnya, seluruh bidang harus bergerak bersama.

“Persoalan sampah tidak bisa sektoral. Semua bidang harus bergerak bersama. Dari perencanaan, pengawasan, hingga edukasi, kita satu gerak,” ujarnya.

Dalam kesempatan itu, Shanty juga menyampaikan pesan dan dukungan Wali Kota Banjarbaru, Hj. Erna Lisa Halaby, kepada jajaran Dinas Lingkungan Hidup. Ia menegaskan bahwa wali kota meminta DLH terus bergerak dan bekerja hadir di tengah masyarakat tidak hanya mengedukasi warga tentang pengelolaan sampah dari sumber, tetapi juga memastikan layanan pengangkutan sampah ke TPA berjalan optimal.

“Pesan Ibu Wali Kota jelas, kerja kita harus dari hulu hingga hilir. Edukasi jalan, pendampingan jalan, pengangkutan juga harus maksimal. Termasuk berkoordinasi dengan SKPD yang mengelola kawasan seperti pasar dan ruang publik agar penanganan sampah lebih tertib,” ujar Shanty.

Ia menambahkan, wali kota secara tegas meminta dirinya dan seluruh jajaran DLH serius serta konsisten menangani persoalan sampah di Banjarbaru, menjadikannya sebagai prioritas bersama demi mewujudkan kota yang bersih, sehat, dan tertata.

Di Mentaos, sosialisasi tidak berhenti pada teori. Lurah Mentaos, Ciptadi Sunaryo, mengajak warga menuju Bank Sampah KAMI Mentaos. Di sana, para peserta yang didominasi ibu-ibu, menyaksikan langsung mekanisme menjadi nasabah bank sampah, proses penimbangan, hingga daftar harga sampah anorganik yang diperbarui secara berkala.

Tak jauh dari lokasi bank sampah, warga diperlihatkan hasil pengolahan sampah organik menjadi pupuk cair. Pupuk tersebut diaplikasikan pada kebun sayuran di sekitar lokasi. Sebuah siklus sederhana namun konkret: dari dapur rumah, diolah bersama, kembali menyuburkan tanah.

Dari Mentaos, satu pesan menguat: perubahan dimulai dari rumah. Ketika warga bergerak dan pemerintah hadir mendampingi, persoalan yang tampak besar dapat diurai bersama.

Dukungan Wali Kota: Gerakan Indonesia Asri

Gerakan ini mendapat dukungan penuh dari Wali Kota Banjarbaru, Hj. Erna Lisa Halaby. Pada Sabtu, 28 Maret 2026, wali kota menyampaikan apresiasi melalui sambungan video kepada warga RT 33 RW 07, Kelurahan Syamsudin Noor, yang mengembangkan program pengelolaan sampah berbasis komunitas.

Di wilayah tersebut, warga menggagas program Markisa (Mari Kita Sedekah Sampah) sejak Juli 2025. Selama delapan bulan, hampir satu ton sampah nonorganik berhasil dikumpulkan dan dijual. Hasilnya dimanfaatkan untuk kegiatan sosial, termasuk pembagian beras kepada sekitar 30 keluarga yang membutuhkan.

Wali Kota Lisa menyebut inisiatif itu sebagai contoh konkret pengurangan sampah dari sumber.

“Alhamdulillah, kami atas nama pemerintah mendukung penuh inovasi pengelolaan sampah di kawasan RT 33 yang sudah sangat baik. Semoga ke depan bisa diaplikasikan di semua wilayah di Kota Banjarbaru agar pengelolaan sampah semakin maksimal dan mampu mengurangi pembuangan ke TPS,” ujarnya.

Ia juga mengungkapkan bahwa Pemerintah Kota Banjarbaru menerima atensi dari Menteri Lingkungan Hidup untuk melaksanakan gerakan “Indonesia Asri” (Aman, Sehat, Resik, dan Indah). Sebagai tindak lanjut, wali kota meminta lurah, camat, dan DLH bergerak bersama dari hulu hingga hilir, termasuk memastikan kawasan pasar dan ruang publik dikelola lebih tertib.

“Saya minta lurah, camat, dan DLH bergerak bersama melakukan giat beberesih dan memastikan pengelolaan sampah berjalan baik. Ini harus menjadi gerakan bersama, bukan hanya satu dua kawasan,” kata Lisa.

Menurutnya, kerja DLH tidak berhenti pada pengangkutan ke TPA, tetapi mencakup edukasi, pendampingan warga, hingga koordinasi dengan perangkat daerah yang mengelola kawasan public agar Banjarbaru benar-benar tumbuh sebagai kota yang elok, maju, adil dan sejahtera dimulai dari rumah warganya sendiri.(be)

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

LAINNYA