Camat dan Lurah di Garda Depan: Jalan Baru Banjarbaru Kelola Sampah dari Hulu

waktu baca 3 menit
Selasa, 14 Apr 2026 13:48 302 Banjarbaru Emas 2

BANJARBARUEMAS.COM – Di Aula Kantor Kecamatan Banjarbaru Selatan, Senin (30/03/2026), arah itu ditegaskan. Di hadapan para camat dan lurah, Wali Kota Hj. Erna Lisa Halaby membagi tanggung jawab pengelolaan sampah di Banjarbaru.

Bagi Pemerintah Kota Banjarbaru, persoalan sampah tak lagi ditempatkan sebagai urusan hilir, mengangkut, menimbun, dan menyelesaikan di tempat pembuangan akhir. Ia harus dimulai dari hulu: dari dapur rumah tangga, dari kebiasaan memilah, dari perubahan perilaku.

Rapat koordinasi saat itu membahas agenda strategis, salah satunya persiapan studi tiru pengelolaan sampah ke Kecamatan Cilincing, Jakarta Utara. Agenda tersebut merupakan tindak lanjut dari arahan Menteri Lingkungan Hidup RI usai meninjau kondisi lingkungan di Kalimantan Selatan beberapa waktu lalu.

Di forum tersebut, Wali Kota Lisa menegaskan bahwa kolaborasi bersama kementerian diarahkan untuk menjadikan Banjarbaru sebagai barometer pengelolaan sampah tingkat rumah tangga. Model yang akan dipelajari di Cilincing dirancang untuk diadaptasi dan diterapkan di Banjarbaru, dengan fokus pada kemandirian pengelolaan sampah sejak dari lingkungan rumah tangga.

Pernyataan itu menandai pergeseran pendekatan. Kepemimpinan didorong bergerak pada desain sistem. Camat diminta menjadi koordinator wilayah, lurah menjadi penggerak sosial, dan warga menjadi aktor utama.

Wali Kota Lisa menegaskan bahwa pengelolaan sampah bukanlah pekerjaan satu dinas semata, melainkan gerakan bersama yang menuntut peran aktif camat dan lurah untuk hadir, menggerakkan, serta memastikan warga memahami bahwa pengelolaan sampah harus dimulai dari rumah.

Perjalanan itu kemudian benar-benar dimulai pada 3–5 April 2026. Rombongan Pemkot Banjarbaru melakukan studi tiru ke Kelurahan Rorotan, Jakarta Utara wilayah yang dikenal memiliki sistem pengelolaan sampah terintegrasi dari sumber.

Hari pertama, rombongan bertemu Menteri Lingkungan Hidup RI, Hanif Faisol Nurofiq. Penekanannya jelas: penguatan kinerja daerah harus dibarengi perubahan paradigma. Sampah bukan semata residu, melainkan sumber daya yang kehilangan nilai karena tak dipilah.

Hari kedua, pembelajaran teknis dilakukan di Suku Dinas Lingkungan Hidup Jakarta Utara. Konsep “roadmap pengelolaan sampah dari sumber hingga bernilai ekonomis” dipaparkan secara sistematis: mulai dari pemilahan rumah tangga, pengumpulan terpilah, pengolahan organik, daur ulang anorganik, hingga pengolahan residu menjadi bahan bakar alternatif.

Rangkaian kunjungan berlanjut ke Pusat Edukasi KIE RBU (Recycle Business Unit), Proklim RW 01 Tugu Utara dengan inovasi mesin pelet SOD, budidaya maggot BSF, serta drop point bambu fermentasi. Rombongan juga melihat langsung operasional RDF Plant Rorotan berkapasitas 2.500 ton per hari yang mengolah sampah menjadi Refuse Derived Fuel (RDF).

Di RPTRA Rorotan Indah I, konsep “rumah pilah” memperlihatkan bagaimana edukasi, kompos, dan pemilahan plastik, kaca, serta kaleng berjalan dalam ekosistem partisipatif.
Sementara di TPS 3R Rorotan, prinsip reduce, reuse, recycle diterapkan sebagai gerakan komunal.

Pendekatan berbasis sumber (source-based waste management) terbukti lebih efektif dalam menekan volume residu yang berakhir di TPA. Pemilahan di tingkat rumah tangga dapat mengurangi 30–50 persen beban sampah yang harus diangkut, sekaligus meningkatkan nilai ekonomi material daur ulang.

Di titik ini, kepemimpinan menjadi faktor kunci. Tanpa orkestrasi dari kepala daerah, perubahan perilaku sulit bergerak serentak.
Wali Kota Lisa memilih memulai dari struktur pemerintahan paling dekat dengan warga: camat dan lurah.

Model ini menempatkan kelurahan sebagai unit eksperimental sosial, ruang uji inovasi seperti bank sampah, rumah kompos, budidaya maggot, hingga sistem insentif ekonomi berbasis hasil pilah. Kecamatan menjadi simpul koordinasi, memastikan integrasi data, pengangkutan, dan pengawasan berjalan konsisten.

Pendekatan tersebut menunjukkan satu hal: transformasi lingkungan bukan hanya soal teknologi, melainkan tata kelola.

Perjalanan ke Rorotan menjadi simbol dimulainya fase baru. Banjarbaru tidak lagi menunggu masalah menumpuk di hilir, melainkan membenahinya sejak dari sumber.

Di tengah tantangan peningkatan timbulan sampah, langkah itu dapat dibaca sebagai strategi preventif. Kota yang ingin tumbuh berkelanjutan tak punya pilihan selain membangun kesadaran kolektif.

langkah itu kini benar-benar dimulai. Banjarbaru membuka babak baru pengelolaan sampah berawal dari hulu.

Dan seperti setiap perubahan besar, ia selalu berawal dari keputusan yang tepat: memulai.(be)

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

LAINNYA