Nilai Adipura Perlu Ditingkatkan, Banjarbaru Bukan Kota Kotor
waktu baca 3 menit
Minggu, 12 Apr 2026 05:29 218 Banjarbaru Emas 2
Foto : Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kota Banjarbaru, Shanty Eka, menimbang hasil korvei gotong royong bersih sampah pada rangkaian Hari Jadi ke-27 Banjarbaru di Pasar Galuh Cempaka, Minggu (12/4/2026).(BE)
BANJARBARUEMAS.COM – Ratusan peserta apel memadati kawasan Pasar Galuh Cempaka, Minggu (12/4/2026) pagi itu dalam kegiatan Apel dan Korvei Gotong Royong Bersih Sampah yang menjadi bagian rangkaian Hari Jadi ke-27 Kota Banjarbaru. .
Kegiatan tersebut tidak hanya berlangsung di Cempaka. Pada waktu yang sama, apel dan korvei dilaksanakan serentak di seluruh kecamatan se-Kota Banjarbaru. Pemerintah kota ingin memastikan peringatan hari jadi momentum edukasi dan penguatan kesadaran publik.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Banjarbaru, Shanty Eka, ditemui di sela kegiatan, menegaskan bahwa aksi bersih ini merupakan tindak lanjut surat edaran terkait Gerakan Indonesia Bersih sekaligus bagian dari rangkaian Hari Jadi ke-27.
“Kami ingin hadir langsung di tengah masyarakat untuk mengedukasi dan mengajak warga peduli terhadap kebersihan lingkungan, terutama di lingkungan masing-masing. Kebersihan kota dimulai dari rumah,” ujarnya.
Shanty menambahkan, arahan Wali Kota Banjarbaru, Hj. Erna Lisa Halaby, menekankan bahwa persoalan sampah bukan semata tanggung jawab DLH. Camat dan lurah diminta aktif menggerakkan pengelolaan sampah dari sumbernya.
“Pesan Ibu Wali Kota jelas, pengelolaan sampah harus dimulai dari hulu. Peran camat dan lurah sangat penting untuk memastikan pemilahan dan pengurangan sampah berjalan di tingkat rumah tangga,” kata Shanty.
Sepulang dari studi tiru pengelolaan sampah di Rorotan, Jakarta, DLH menetapkan lima kelurahan sebagai percontohan pengelolaan sampah berbasis sumber. Kelurahan tersebut adalah Palam, Syamsudin Noor, Mentaos, Landasan Tengah, dan Landasan Ulin Timur. Skema awal dimulai dari skala rukun warga (RW), sebelum diperluas ke seluruh wilayah kelurahan. . “Kami sudah melakukan identifikasi kebutuhan sarana dan bentuk pengolahan yang sesuai. Targetnya, dalam enam bulan sudah terlihat hasilnya. Harapan kami, dari lima kelurahan percontohan ini, pemilahan sampah bisa mencapai 100 persen. Sampah organik diharapkan dapat dikelola seluruhnya dan tidak lagi dibuang ke TPA,” ujarnya.
Target enam bulan tersebut, lanjut Shanty, merupakan mandat langsung dari wali kota agar pembenahan pengelolaan sampah berbasis sumber tidak sekadar menjadi wacana.
Di sisi lain, nilai Adipura Banjarbaru tahun 2025 memang belum memuaskan. Namun, Shanty menegaskan, hal itu bukan berarti Banjarbaru kota yang kotor. Penilaian Adipura kini lebih komprehensif dan menitikberatkan pada sistem pengelolaan sampah dari hulu ke hilir.
“Penilaian Adipura 2025 fokus pada sistem pengelolaan sampah dan kebersihan sebesar 50 persen, kebijakan dan anggaran 20 persen, serta SDM dan sarana prasarana 30 persen. Jadi bukan sekadar estetika kota, tetapi bagaimana sistemnya berjalan dan partisipasi masyarakatnya kuat,” jelasnya.
Menurut dia, hasil evaluasi menunjukkan aspek yang perlu ditingkatkan adalah pengelolaan sampah di hulu yakni di tingkat rumah tangga. Karena itu, pemerintah kota mendorong partisipasi warga agar pemilahan dan pengurangan sampah benar-benar dilakukan dari sumbernya.
“Kalau masyarakat sudah terbiasa memilah dan mengelola sampah di rumah masing-masing, bahkan tidak membuang lagi ke TPS atau TPA, bukan tidak mungkin ke depan Banjarbaru tidak lagi bergantung pada TPA. Tugas kami tidak lagi sekadar mengangkut sampah, tetapi memastikan sistem pengelolaan berjalan di lingkungan warga,” kata Shanty.
Momentum kegiatan kali ini, menurut Shanty, menjadi titik tolak pembenahan yang lebih sistematis.
“Kami ingin nilai Adipura 2026 lebih baik. Tetapi yang lebih penting, budaya bersih itu tumbuh dan menjadi kebiasaan warga. Karena kota yang bersih bukan hanya soal penghargaan, melainkan soal kesadaran bersama,” ujarnya.(be)
Tidak ada komentar