Kadis LH Shanty Tinjau SUSTER SANTI, Gerakan Warga Syamsudin Noor Kurangi Sampah dari Hulu

waktu baca 3 menit
Jumat, 17 Apr 2026 05:42 125 Banjarbaru Emas 2

BANJARBARUEMAS.COM — Upaya pengurangan sampah dari sumbernya terus menemukan bentuk nyata di tingkat warga. Jumat (17/4/2026), Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Banjarbaru, Shanty Eka Septiani, meninjau langsung inovasi SUSTER SANTI (Sumur Komposter Sanitasi) di RT 33 RW 07, Kelurahan Syamsudin Noor, Kecamatan Landasan Ulin, Kota Banjarbaru.

Kunjungan itu tak terjadwal. Shanty kebetulan memiliki agenda lain di sekitar lokasi. Namun, mendengar adanya progres pengembangan sumur komposter di lingkungan tersebut, ia menyempatkan diri melihat langsung implementasinya di lapangan.

“Saya memang tidak menjadwalkan khusus, tetapi ketika mengetahui ada inovasi warga yang berkembang baik, tentu harus kita lihat langsung. Ini contoh nyata penyelesaian sampah dari hulu,” ujar Shanty.

Ia menegaskan, langkah warga RT 33 sejalan dengan arahan Wali Kota Banjarbaru, Erna Lisa Halaby, yang menekankan agar persoalan sampah diselesaikan mulai dari sumbernya.

“Ibu Wali Kota selalu menyampaikan kepada kami di DLH, pengelolaan sampah harus dimulai dari rumah tangga. Apa yang dilakukan warga di sini adalah jawaban atas amanat tersebut,” katanya.

Shanty menilai gerakan di RT 33 sebagai model pengelolaan sampah berbasis warga yang patut dikembangkan di wilayah lain.

“Kalau model seperti ini diterapkan secara luas, beban pengangkutan sampah kota akan berkurang besar. Ini bukan sekadar inovasi, tetapi gerakan kolektif,” ujarnya.

Inovasi SUSTER SANTI digagas Ketua RT 33, Yoni Setiawan. Di sela kesibukannya sebagai Supervisor Pengolahan Air Minum di PTAM Bandarmasih, Yoni mendorong perubahan pola pikir warganya agar tidak lagi sepenuhnya bergantung pada pengangkutan sampah ke TPS maupun TPA.

“Kalau hanya mengandalkan pengangkutan, sampah tidak akan pernah selesai. Harus dimulai dari rumah,” ujar Yoni saat dihubungi terpisah.

Meski tidak berada di lokasi saat kunjungan Kadis LH, Yoni mengaku antusias mendapat kabar bahwa inovasi warganya diperhatikan pemerintah kota.

“SUSTER SANTI ini upaya kami mengurangi volume sampah ke TPA. Harapan kami, ke depan sampah organik di wilayah ini bisa selesai di lingkungan sendiri, tidak ada lagi yang dibuang ke TPS,” katanya.

Secara teknis, satu sumur komposter mampu menampung sekitar satu ton sampah organik. Hasil penguraian dapat dipanen dalam waktu tiga hingga empat bulan dan dimanfaatkan sebagai pupuk alami.

Saat ini, di RT 33 telah terpasang 15 unit sumur komposter. Lima unit dibangun secara swadaya warga, sedangkan 10 unit merupakan bantuan dari DLH Kota Banjarbaru.

“Artinya pemerintah peduli dengan warga yang aktif. Ini bentuk sinergi antara pemerintah dan masyarakat,” ujar Yoni.

SUSTER SANTI dirancang sederhana dan mudah direplikasi. Menggunakan gorong-gorong berdiameter sekitar setengah meter dengan tinggi sekitar satu meter, sumur ditanam menyesuaikan kondisi tanah, termasuk pada lahan yang relatif berair.

Sampah yang dimasukkan berupa sampah organik seperti daun kering, sisa makanan, kulit buah, dan sisa sayuran. Warga dapat memasukkan sampah kapan saja. Setiap pekan, pengurus RT bersama warga melakukan kontrol dan evaluasi untuk memastikan proses penguraian berjalan baik sekaligus menjadi ruang edukasi.

“Ini bukan hanya soal komposter, tetapi perubahan perilaku. Warga belajar memilah dan memahami bahwa sampah organik bisa kembali menjadi manfaat,” kata Yoni.

Sejumlah warga mengakui keberadaan sumur komposter membantu menekan volume sampah rumah tangga secara signifikan. Bau berkurang, lingkungan lebih bersih, dan hasil kompos dimanfaatkan untuk tanaman di pekarangan.(be)

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

LAINNYA