BANJARBARUEMAS.COM — Semangat peringatan Hari Kartini pada 2026 menemukan gaungnya di Kecamatan Banjarbaru Utara. Ia diterjemahkan menjadi gerak nyata: di posyandu, di ruang-ruang edukasi keluarga, hingga di meja-meja kecil tempat produk UMKM rumahan ditata dengan bangga.
Di balik gerak itu, ada sosok Melba Riska Utami Hutabarat Taufik, Ketua TP PKK Kecamatan Banjarbaru Utara, yang juga seorang tenaga kesehatan, bidan di salah satu puskesmas di Banjarbaru. Posisi ini terasa relevan dengan jejak akademiknya. Skripsinya berjudul “Analisis Faktor Penyebab Stunting pada Balita Usia 24–59 Bulan di Puskesmas Cempaka Kota Banjarbaru Tahun 2019” menjadi fondasi cara pandangnya: bahwa pemberdayaan perempuan tak bisa dilepaskan dari isu kesehatan keluarga.
“Semangat Kartini kami maknai sebagai dorongan untuk terus berkembang. Perempuan bisa berkontribusi di masyarakat lewat posyandu, pendidikan anak, atau usaha kecil. Itu semua bagian dari perjuangan hari ini,” ujar Melba.
Menurut dia, Kartini bukan sekadar simbol emansipasi, melainkan inspirasi kerja kolektif. Di Banjarbaru Utara, Hari Kartini menjadi momentum memperkuat kebersamaan ibu-ibu PKK sekaligus menegaskan makna pemberdayaan ekonomi. Produk kerajinan tangan dan makanan rumahan ditampilkan sebagai bukti bahwa perempuan memiliki daya cipta dan daya saing.
“Banyak ibu-ibu memanfaatkan momen ini untuk menampilkan produk UMKM mereka. Ini sejalan dengan semangat Kartini yang ingin perempuan mandiri dan berdaya secara ekonomi,” katanya.
Sebagai bidan, Melba melihat langsung bagaimana ketahanan keluarga bertumpu pada peran ibu dari pemenuhan gizi hingga pola asuh. Karena itu, kegiatan PKK di Banjarbaru Utara tak lepas dari edukasi kesehatan, penguatan posyandu, serta kampanye pencegahan stunting. Baginya, pemberdayaan ekonomi dan kesehatan berjalan beriringan.
Dalam konteks kepemimpinan di Banjarbaru, Melba menilai peringatan Kartini 2026 terasa semakin bermakna di bawah kepemimpinan wali kota perempuan pertama Banjarbaru, Hj. Erna Lisa Halaby.
“Sebagai Ketua PKK Kecamatan Banjarbaru Utara, saya memandang kepemimpinan wali kota perempuan sebagai sebuah kemajuan yang sangat positif bagi daerah kita. Ini menunjukkan bahwa perempuan memiliki kemampuan, kapasitas, dan ketegasan yang sama dalam memimpin serta mengambil keputusan strategis untuk pembangunan,” ujarnya tegas.
Ia merasakan pendekatan kepemimpinan yang lebih inklusif dan responsif terhadap kebutuhan masyarakat, terutama dalam hal pemberdayaan keluarga, kesehatan, pendidikan, dan kesejahteraan sosial.
“Kami di PKK merasakan bahwa kebijakan yang dihadirkan lebih menyentuh langsung kehidupan masyarakat, khususnya kaum ibu dan anak. Ada perhatian yang kuat pada isu-isu keluarga dan lingkungan,” tuturnya.
Lebih jauh, kehadiran wali kota perempuan menjadi inspirasi psikologis bagi ibu-ibu PKK dan generasi muda perempuan di Banjarbaru Utara. Kepercayaan diri untuk tampil, bersuara, dan mengambil peran publik semakin tumbuh.
“Kehadiran beliau memberi teladan bahwa perempuan bisa memimpin dengan empati sekaligus ketegasan. Ini memotivasi kami untuk lebih aktif dan berani berkontribusi,” katanya.
Melba berharap, semangat Kartini 2026 diwujudkan melalui nilai-nilai keberanian, kemandirian, dan kepedulian sosial terus hidup dalam program-program konkret.
“Kami berharap kepemimpinan ini terus memperkuat sinergi antara pemerintah daerah dan PKK dalam mewujudkan keluarga yang sejahtera, mandiri, dan berdaya,” ujarnya.
Di Banjarbaru Utara, Kartini hidup dalam kerja para ibu di posyandu yang rutin, di edukasi gizi yang konsisten, di dapur-dapur UMKM yang produktif. Dari riset stunting hingga etalase kerajinan, perempuan-perempuan itu sedang menggerakkan perubahan untuk kotanya, pelan namun pasti.(be)
161
Tidak ada komentar