Mengurangi Sampah dari Sumbernya, Kontribusi Warga RT 33 RW 7 Syamsudin Noor bagi Banjarbaru

waktu baca 3 menit
Sabtu, 4 Apr 2026 08:21 329 Banjarbaru Emas 2

BANJARBARUEMAS.COM – Sabtu pagi, 4 April 2026, suasana di RT 33 RW 7 Kelurahan Syamsudin Noor, Kecamatan Landasan Ulin, Kota Banjarbaru tampak berbeda. Langkah-langkah ringan ibu-ibu yang datang membawa ember berisi sampah organik dari rumah masing-masing.

Ibu Afriaty, Neni, Semi Rahayu, Kastin, dan Lia, pagi itu usai mengikuti kegiatan Asuhan Mandiri Tanaman Obat Keluarga (Asman Toga), langsung menuju satu titik di lingkungan mereka: SUSTER SANTI.

Di dalam ember-ember itu, tak ada lagi sampah tercampur. Daun kering sudah dipisahkan. Sisa makanan dikumpulkan. Kulit buah dan sisa sayuran tidak lagi dibuang sembarangan. Semua telah dipilah sejak dari dapur.

Tujuannya satu: dimasukkan ke dalam SUSTER SANTI, singkatan dari Sumur Komposter Sanitasi.

SUSTER SANTI adalah sumur komposter sederhana yang mengolah sampah organik langsung dari sumbernya, yakni rumah tangga. Konsepnya praktis, murah, dan ramah lingkungan. Bisa dibuat di tingkat RT dengan biaya terjangkau.

Cara penggunaannya pun mudah. Setiap kali tersedia sampah organik daun kering, sisa makanan, kulit buah, atau sisa sayuran, warga cukup memasukkannya ke dalam sumur komposter. Setiap minggu dilakukan kontrol dan evaluasi, sekaligus sosialisasi kepada warga sekitar.

Langkah kecil ini sesungguhnya menjawab persoalan besar. Sampah organik diketahui menyumbang sekitar 50 persen dari total sampah rumah tangga. Artinya, jika pemilahan dan pengolahan seperti ini dilakukan secara konsisten, pengurangan volume sampah harian kota bisa terjadi secara signifikan.

Di RT 33, saat ini sudah tersedia tiga unit SUSTER SANTI yang dimanfaatkan bersama warga.
Jika berjalan beriringan dengan optimalisasi bank sampah, maka dua sisi persoalan sampah tertangani sekaligus. Sampah organik selesai di SUSTER SANTI. Sampah anorganik bernilai ekonomi ditabung.

Pengelolaan sampah tak lagi hanya bertumpu pada pengangkutan ke TPS dan TPA, melainkan dimulai dari hulunya: rumah tangga.
Bayangkan jika setiap RT di Banjarbaru memiliki beberapa SUSTER SANTI. Berapa ton sampah yang tak lagi berakhir di TPA setiap hari?

Kegiatan pagi itu juga terhubung dengan program Asman Toga yang dihadiri Ketua RW 07, para pengurus lingkungan, serta empat petugas dari Puskesmas Guntung Payung.

Asman Toga merupakan upaya pemberdayaan masyarakat untuk memelihara kesehatan dan mengatasi gangguan ringan secara mandiri melalui pemanfaatan tanaman obat keluarga (TOGA) dan keterampilan akupresur.

Kegiatannya meliputi budidaya tanaman obat seperti jahe, kunyit, dan temulawak di pekarangan rumah, pelatihan pengolahan hasil tanam menjadi minuman herbal atau jamu, pembinaan kader, hingga pengembangan apotek hidup di lingkungan warga.

Ke depan, pupuk organik yang dihasilkan dari SUSTER SANTI akan dimanfaatkan untuk menyuburkan tanaman obat di lingkungan RT 33. Siklusnya menjadi utuh: dari dapur, kembali ke tanah, lalu tumbuh menjadi tanaman obat yang bermanfaat bagi kesehatan warga.

Ketua RT 33, Yoni Setiawan, menyebut kegiatan ini merupakan rutinitas yang terus berkembang.

“Ini memang kegiatan rutin warga. Sekarang aktivitas ibu-ibu bertambah. Mereka sudah terbiasa memilah sampah di dapur, lalu sampah organik itu langsung dimasukkan ke SUSTER SANTI. Saat ini sudah ada tiga sumur di lingkungan kami, dan kami ingin gerakan ini terus meluas,” ujar Yoni.(be)

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

LAINNYA