Edy Saifuddin Terpilih Aklamasi sebagai Calon Ketua Umum DKKB 2026–2031, Bawa Tiga Karsa Budaya

waktu baca 5 menit
Rabu, 30 Sep 2026 11:00 237 Banjarbaru Emas 2

BANJARBARUEMAS.COM — Edy Saifuddin terpilih secara aklamasi sebagai calon Ketua Umum Dewan Kesenian Kota Banjarbaru (DKKB) periode 2026–2031 dalam Musyawarah Seniman (Musen) Kota Banjarbaru, Rabu (30/9/2026). Kesepakatan bulat seluruh peserta forum berlangsung dalam suasana mufakat dan kekeluargaan, sekaligus membuka jalan bagi upaya memperkuat kembali kolaborasi antarkomunitas seni di Kota Banjarbaru.

Musen berlangsung di Aula Dinas Arsip dan Perpustakaan Daerah Kota Banjarbaru. Aklamasi tersebut menjadi bagian penting dari proses musyawarah yang tidak hanya membahas pergantian kepengurusan, tetapi juga arah perkembangan seni dan budaya Banjarbaru untuk periode mendatang.

Terpilihnya Edy sebagai calon Ketua Umum menjadi titik awal untuk membawa gagasan baru dalam pengelolaan ekosistem kesenian di Kota Idaman. Ia menawarkan tiga gagasan yang disebut Tiga Karsa Budaya Banjarbaru, yakni Karsa Pemersatu, Karsa Pewaris, dan Karsa Pencipta.

Ketiga karsa tersebut berangkat dari kebutuhan untuk memperkuat hubungan antarseniman, memastikan keberlanjutan budaya melalui regenerasi, serta mendorong karya seni agar berkembang menjadi kekuatan kreatif dan memiliki nilai ekonomi.

DKKB Ingin Menjadi Jembatan Antarseniman

Gagasan pertama Edy adalah Karsa Pemersatu.

Ia ingin DKKB menjadi ruang bersama bagi seluruh pelaku seni, tanpa sekat antara seni tradisi dan seni modern maupun antara seniman senior dan generasi muda.

Saat dihubungi, Edy Saifuddin menyampaikan bahwa perbedaan dalam dunia seni seharusnya tidak menjadi pembatas. Sebaliknya, perbedaan tersebut dapat menjadi ruang untuk melahirkan kolaborasi baru.

“Saya tidak ingin ada lagi sekat antara seni tradisi dan seni modern, antara seniman senior dan seniman milenial. Madihin dan Rap bisa satu panggung. Sasirangan dan Street Art bisa satu cerita. Dewan ke depan akan menjadi jembatan.”

Untuk memperkuat ruang bersama tersebut, Edy mengatakan DKKB akan aktif mendata dan merangkul sanggar serta komunitas seni yang ada di Kota Banjarbaru.

Pendataan itu diharapkan menjadi dasar untuk membangun jejaring yang lebih kuat sekaligus membuka peluang kolaborasi yang lebih luas.

“Kita akan aktif mendata dan merangkul seluruh sanggar yang ada di Kota Banjarbaru, sehingga tidak ada seniman yang tertinggal.”

Menurut Edy, DKKB tidak boleh hanya menjadi ruang bagi kelompok tertentu. Seluruh pelaku seni harus memiliki kesempatan untuk terlibat dan berkembang.

Regenerasi Seni dan Budaya Jadi Perhatian

Dari upaya membangun ruang bersama, Edy kemudian menempatkan persoalan regenerasi sebagai agenda berikutnya melalui Karsa Pewaris.

Ia melihat regenerasi sebagai tantangan penting bagi keberlangsungan seni dan budaya Banjar di tengah perubahan zaman.

Generasi muda saat ini tumbuh dalam lingkungan budaya yang semakin terbuka. Karena itu, kesenian daerah perlu dikemas dengan pendekatan yang lebih dekat dengan kehidupan mereka tanpa kehilangan akar budayanya.

“Kita menghadapi tantangan serius: regenerasi. Banyak anak muda Banjarbaru lebih hafal budaya luar daripada Mamanda dan Bakisah. Tugas kita adalah membuat budaya Banjar itu keren kembali.”

Karena itu, Edy ingin memperkuat pengenalan seni budaya melalui lingkungan pendidikan.

Program “Seni Masuk Sekolah” dan “Guru Seni Menyapa” menjadi bagian dari gagasannya. Ia juga mendorong workshop pelestarian bahasa Banjar melalui sastra dan teater.

Menurut Edy, generasi muda tidak cukup hanya diminta mengenal budaya. Mereka juga perlu diberikan ruang untuk berinteraksi, berkreasi, dan menemukan cara mereka sendiri dalam mengembangkan kesenian daerah.

“Kita jaga akar agar pohonnya tidak tumbang.”

Gagasan tersebut kemudian berlanjut pada bagaimana budaya yang diwariskan kepada generasi baru dapat terus berkembang dan memberikan manfaat yang lebih luas.

Dari Warisan Budaya Menjadi Kekuatan Kreatif

Jawabannya dituangkan Edy melalui Karsa Pencipta.

Ia ingin DKKB tidak berhenti pada fungsi pelestarian. Seni dan budaya harus terus melahirkan karya baru dan dapat berkembang menjadi bagian dari industri kreatif.

“Kita tidak hanya akan menjadi penjaga museum. Kita akan menjadi pencipta industri.”

Edy membayangkan Banjarbaru memiliki kalender budaya yang jelas sehingga kegiatan seni dapat berlangsung secara terencana dan berkelanjutan.

Ruang publik juga perlu diberi kehidupan melalui kegiatan seni secara rutin. Ia menyebut Lapangan Murjani dan Taman Pintar sebagai ruang yang dapat menjadi panggung ekspresi para seniman.

“Banjarbaru harus punya kalender budaya yang jelas, punya panggung ekspresi rutin di Lapangan Murjani dan Taman Pintar, dan punya produk budaya yang bisa bernilai ekonomi.”

Ia juga memiliki target agar karya budaya Banjarbaru mampu dikenal lebih luas, tidak hanya di tingkat daerah.

Sasirangan Banjarbaru, musik Panting, hingga film karya anak Banjarbaru menurut Edy memiliki peluang untuk dikembangkan menjadi produk budaya yang dapat menembus ruang nasional bahkan internasional.

“Saya bermimpi Sasirangan Banjarbaru, musik Panting, dan film-film karya anak Banjarbaru bisa mendunia. Kita akan bersinergi dengan pemerintah, dengan dunia usaha, dan dengan kampus-kampus.”

Kolaborasi lintas sektor menjadi bagian penting dari gagasan tersebut. Edy ingin seniman tidak berjalan sendiri, tetapi memiliki jejaring dengan pemerintah, dunia usaha, dan perguruan tinggi.

Pemkot Dorong DKKB Jadi Rumah Bersama

Sementara itu, Pemerintah Kota Banjarbaru berharap Musen tidak berhenti pada proses pergantian kepengurusan.

Wali Kota Banjarbaru Hj. Erna Lisa Halaby yang diwakili Staf Ahli Bidang Pemerintahan, Pembangunan, dan Kemasyarakatan, Abdussamad, saat membuka Musen menyampaikan harapan agar forum tersebut menjadi momentum evaluasi sekaligus lompatan kemajuan seni budaya di Kota Idaman.

Menurut Pemkot Banjarbaru, seni telah menjadi bagian dari identitas kota, ruang untuk menyampaikan gagasan, sekaligus sarana mempersatukan masyarakat dari berbagai latar belakang.

Keberadaan seniman dan komunitas seni dinilai memiliki posisi penting dalam membangun kehidupan kota yang kreatif, terbuka, dan berkarakter.

Karena itu, DKKB didorong menjadi “rumah bersama” yang inklusif, tempat para seniman dan komunitas bertemu, berkolaborasi, melahirkan gagasan kreatif, serta mengangkat karya lokal agar semakin dikenal luas.

Pemkot juga berharap Musen menjadi ruang untuk melihat kembali capaian yang telah diraih, mengidentifikasi hal-hal yang masih perlu diperbaiki, sekaligus merumuskan arah perkembangan kesenian Banjarbaru pada masa mendatang.

Dengan terpilihnya Edy Saifuddin secara aklamasi sebagai calon Ketua Umum DKKB periode 2026–2031, proses berikutnya adalah memastikan gagasan yang ditawarkan dapat diterjemahkan menjadi program nyata.

Semangat mufakat yang mewarnai Musen menjadi modal awal untuk membangun kembali kolaborasi antarkomunitas seni.

Sementara Karsa Pemersatu, Karsa Pewaris, dan Karsa Pencipta menjadi tiga gagasan yang ditawarkan Edy untuk membawa kesenian Banjarbaru tidak hanya bertahan sebagai warisan, tetapi terus tumbuh, melahirkan karya, dan memiliki ruang yang semakin luas di tengah masyarakat.(be)

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

LAINNYA