Ketua Umum KEK Banjarbaru H. Riandy Hidayat Dorong Pelestarian Mamanda lewat Pertunjukan Budaya di Taman Van Derl Pijl

waktu baca 2 menit
Sabtu, 7 Feb 2026 06:55 356 Banjarbaru Emas 2

BANJARBARUEMAS.COM — Upaya menjaga denyut seni tradisional Kalimantan Selatan terus digalakkan Komite Ekonomi Kreatif (KEK) Kota Banjarbaru Emas. Melalui pertunjukan seni teater rakyat Mamanda, KEK Banjarbaru mempertemukan paguyuban, komunitas, dan pelaku seni dalam sebuah ajang silaturahmi budaya yang digelar di Panggung Taman Van Derl Pijl, Sabtu malam (7/2/2026), mulai pukul 20.00 WITA.

Pertunjukan ini tidak sekadar menjadi hiburan akhir pekan bagi masyarakat, tetapi juga dimaknai sebagai ruang bersama untuk merawat identitas budaya Banua di tengah derasnya arus hiburan modern. Mamanda, sebagai seni teater rakyat khas Kalimantan Selatan, dihadirkan kembali ke ruang publik agar tetap hidup, relevan, dan dikenali generasi muda.

Ketua Umum KEK Kota Banjarbaru, H. Riandy Hidayat, mengatakan bahwa kegiatan tersebut merupakan bagian dari komitmen KEK dalam melestarikan budaya lokal sekaligus memperkuat ekosistem ekonomi kreatif berbasis seni dan budaya.

“Pertunjukan Mamanda ini kami jadikan wadah silaturahmi para pelaku seni dan komunitas, sekaligus bentuk komitmen untuk menjaga serta mengembangkan seni budaya Banjar sebagai identitas daerah,” ujar Riandy.

Menurut dia, keberlanjutan seni tradisional tidak bisa dilepaskan dari dukungan masyarakat. Dengan menghadirkan Mamanda secara terbuka dan gratis, KEK Banjarbaru berharap masyarakat dapat kembali merasakan kedekatan emosional dengan seni tradisi yang sarat nilai moral, sosial, dan kearifan lokal.

Mamanda sendiri merupakan seni teater rakyat yang berkembang sejak akhir abad ke-19, berakar dari kesenian Badamuluk. Pertunjukannya memadukan dialog jenaka, musik tradisional seperti biola, kendang, dan gong, serta tarian pembuka yang dikenal dengan sebutan Ladon. Cerita yang diangkat umumnya bertema kerajaan, sejarah, maupun kehidupan sehari-hari, dengan sindiran sosial yang disampaikan secara ringan dan menghibur.

Keunikan Mamanda juga terletak pada tokoh-tokoh khasnya, seperti Sultan atau Raja, Perdana Menteri (Wazir), Mangkubumi, Panglima, hingga tokoh lawak yang kerap berinteraksi langsung dengan penonton. Pola interaksi ini menciptakan suasana cair dan akrab, menjadikan Mamanda dekat dengan masyarakat lintas usia.

Di tengah kenyataan bahwa seni tradisional mulai terpinggirkan oleh hiburan modern, KEK Banjarbaru menilai kehadiran publik menjadi kunci utama pelestarian. Karena itu, Riandy mengajak seluruh warga Banjarbaru dan sekitarnya untuk hadir dan menyaksikan langsung pertunjukan Mamanda tersebut.

“Kami mengundang masyarakat untuk datang, menonton, dan menikmati Mamanda bersama. Kehadiran warga adalah bentuk dukungan nyata agar seni budaya Banjar tetap hidup dan diwariskan,” kata dia.

Melalui pertunjukan ini, KEK Banjarbaru Emas berharap Mamanda tidak hanya bertahan sebagai warisan masa lalu, tetapi juga tumbuh sebagai bagian dari kehidupan budaya kota, sekaligus menjadi fondasi penguatan ekonomi kreatif berbasis kearifan lokal di Banjarbaru.(be)

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

LAINNYA