Foto MC BJB : Wali Kota Banjarbaru, Hj. Erna Lisa Halaby, menundukkan kepala dan berdoa bersama para lansia dalam suasana haru di halaman Kantor Kelurahan Landasan Ulin Barat, Kecamatan Liang Anggang, Jumat (20/2/2026). Momen kebersamaan itu menjadi simbol kedekatan dan empati antara pemimpin dan warganya.(BE)
BANJARBARUEMAS.COM – Suasana halaman Kantor Kelurahan Landasan Ulin Barat, Kecamatan Liang Anggang, Jumat (20/2/2026), tampak berbeda dari biasanya. Sejak pagi, warga dari kalangan kaum dhuafa, janda, dan lansia telah berdatangan. Mereka duduk berderet rapi, sebagian berbincang pelan, sebagian lainnya menunggu dengan wajah penuh harap.
Kedatangan Wali Kota Banjarbaru, Hj. Erna Lisa Halaby, pagi itu tidak sekadar menunaikan jadwal pemerintahan yang tertera di agenda resmi. Ia melangkah di antara warga, menyalami satu per satu, menundukkan badan saat berbicara dengan para lansia, dan menyimak setiap cerita tanpa tergesa. Ia hadir untuk menyapa dan mendengar, sekaligus menyerahkan santunan berupa paket sembako kepada warga yang membutuhkan. Namun makna pertemuan itu jauh melampaui simbol bantuan. Di halaman kelurahan yang sederhana itu, tercipta ruang perjumpaan yang hangat, tempat seorang pemimpin tidak berdiri di atas jarak kekuasaan, melainkan duduk sejajar, berbagi empati, dan menguatkan harapan masyarakatnya
Warga yang hadir berasal dari sejumlah kelurahan di wilayah Kecamatan Liang Anggang, yakni Landasan Ulin Utara, Landasan Ulin Selatan, dan Landasan Ulin Tengah. Kesempatan bertatap muka langsung dengan wali kota disambut dengan antusias. Beberapa lansia tampak menggenggam undangan dengan hati-hati, seolah tak ingin melewatkan momen berharga itu.
Momen paling menggetarkan terjadi saat dialog berlangsung. Wali Kota Lisa duduk berhadapan dengan beberapa warga, mendengarkan kisah hidup yang disampaikan dengan suara bergetar. Ada cerita tentang perjuangan membesarkan anak seorang diri, tentang keterbatasan ekonomi, hingga tentang harapan sederhana agar tetap sehat dan diperhatikan.
Di tengah kisah yang mengalir itu, mata Wali Kota Lisa tampak berkaca-kaca. Saat seorang lansia menuturkan perjalanan hidupnya dalam keterbatasan, air mata sang wali kota jatuh perlahan. Suasana seketika hening. Beberapa warga yang menyaksikan ikut menyeka air mata, larut dalam keharuan yang sama.
Dalam kesempatan itu, Wali Kota Lisa menegaskan komitmennya untuk hadir bagi seluruh masyarakat Banjarbaru, khususnya di wilayah Liang Anggang.
“Ulun berharap para lurah se-Kecamatan Liang Anggang apa yang menjadi keluhan, kendala, dan kebutuhan warganya harus cepat bergerak dan melayani dengan penuh tanggung jawab,” ujarnya.
Ia juga mengingatkan agar tidak ada warga yang terabaikan. Pelayanan publik, katanya, harus mempermudah dan meringankan urusan masyarakat, terlebih bagi kaum dhuafa, janda, lansia, dan para pengurus masjid.
Silaturahmi itu bukan sekadar agenda pembagian bantuan sosial. Ia menjelma menjadi ruang dialog tanpa sekat, tempat keluhan disampaikan secara langsung, ditanggapi dengan kesungguhan, dan dijawab dengan empati. Percakapan berlangsung hangat dan setara. Tidak ada jarak birokrasi yang kaku. Yang tampak justru kedekatan, ketika pemimpin memilih duduk sejajar dan memberi waktu untuk mendengar.
Bagi Pemerintah Kota Banjarbaru, pertemuan ini menjadi penegas bahwa pembangunan juga berarti memastikan sentuhan kemanusiaan tetap hidup, memberi perhatian kepada mereka yang sering kali luput dari sorotan, namun justru paling membutuhkan kehadiran pemimpinnya.
Di tengah senyum para lansia, doa yang terucap lirih, serta air mata yang jatuh dalam keharuan, silaturahmi di Liang Anggang menjadi simbol kepemimpinan yang berpihak. Bukan berhenti pada janji, melainkan hadir dalam tindakan nyata yang dirasakan langsung oleh warga.(be)
Tidak ada komentar