RT 05 dan RT 15 Landasan Ulin Tengah Pelopori ECO Qurban, Daun Pisang dan Wadah Warga Gantikan Plastik Saat Iduladha
waktu baca 5 menit
Rabu, 27 Mei 2026 06:32 208 Banjarbaru Emas 2
BANJARBARUEMAS.COM – Takbir Iduladha menggema sejak pagi di lingkungan RT 05 RW 02 dan RT 15 RW 03 Kelurahan Landasan Ulin Tengah, Rabu (27/5/2026). Warga dari berbagai usia tampak memadati lokasi pemotongan hewan kurban. Sebagian membantu panitia memotong dan menimbang daging, sebagian lainnya sibuk menyiapkan tempat pembagian untuk masyarakat.
Namun suasana Iduladha tahun ini menghadirkan pemandangan yang berbeda. Tidak terlihat lagi tumpukan kantong kresek hitam atau plastik sekali pakai yang selama ini identik dengan pembagian daging kurban. Di tengah aktivitas warga yang padat, semangat menjaga lingkungan justru menjadi perhatian utama.
Di RT 15 RW 03, panitia membagikan daging kurban menggunakan wadah yang dilapisi daun pisang. Puluhan lembar daun pisang disiapkan sejak pagi untuk membungkus daging sebelum dibagikan kepada warga. Cara tradisional itu menghadirkan suasana khas Iduladha tempo dulu, sekaligus menjadi simbol perubahan kebiasaan masyarakat menuju gaya hidup yang lebih ramah lingkungan.
Sementara di RT 05 RW 02 Jalan Akasia, warga penerima kupon datang membawa wadah masing-masing dari rumah. Ada yang membawa baskom, rantang, ember kecil hingga tempat makan berbahan stainless dan plastik pakai ulang. Panitia sengaja tidak menyediakan kantong kresek agar masyarakat terbiasa mengurangi penggunaan plastik sekali pakai.
Langkah dua RT tersebut menjadi bentuk nyata dukungan masyarakat terhadap Surat Edaran Wali Kota Banjarbaru Nomor 600.4/0209/PLH/DLH/2026 tentang Himbauan Pelaksanaan Iduladha Tanpa Kantong Plastik Sekali Pakai di Kota Banjarbaru.
Gerakan ECO Qurban yang digaungkan Pemerintah Kota Banjarbaru mulai terlihat diterapkan hingga tingkat lingkungan warga. Kesadaran masyarakat untuk menjaga lingkungan tumbuh bersamaan dengan pelaksanaan ibadah kurban yang sarat nilai kepedulian dan gotong royong.
Ketua RT 15 RW 03, Desy Sunjaya Adhiarso mengatakan, tahun ini warganya sepakat mulai meninggalkan penggunaan kantong plastik dalam pembagian daging kurban. Menurutnya, penggunaan daun pisang bukan sekadar alternatif pembungkus, tetapi bentuk kepedulian nyata terhadap lingkungan.
“Kami sangat mendukung pembatasan penggunaan plastik dalam pembagian daging kurban pada Iduladha 1447 Hijriah. Di lingkungan kami, penggunaan daun pisang mulai dimaksimalkan untuk membungkus daging kurban yang dibagikan kepada warga,” ujarnya.
Komitmen warga RT 15 dituangkan dalam gerakan bertajuk “Ibadah Berkah, Lingkungan Terjaga”. Melalui gerakan tersebut, warga menyatakan siap melaksanakan ECO Qurban sesuai edaran Wali Kota Banjarbaru dengan mengganti kantong plastik menggunakan wadah ramah lingkungan seperti daun pisang, besek maupun tas purun.
Selain itu, panitia juga memastikan lokasi pemotongan tetap bersih dengan pengelolaan limbah yang baik. Warga diminta tidak membuang sisa pemotongan sembarangan demi menjaga kebersihan lingkungan sekitar.
Menurut Desy, perubahan kebiasaan memang tidak mudah. Namun ia optimistis langkah kecil dari lingkungan RT akan memberi dampak besar terhadap pengurangan sampah plastik di Kota Banjarbaru.
“Insya Allah kami akan 100 persen menggunakan daun pisang untuk bungkus daging kurban. Harapannya, pelaksanaan kurban tahun ini tidak hanya membawa manfaat bagi masyarakat, tetapi juga ikut menjaga lingkungan tetap bersih dan sehat,” jelasnya.
Komitmen serupa dilakukan warga RT 05 RW 02. Ketua RT Supian Noor mengatakan, panitia kurban di lingkungannya sejak awal telah sepakat tidak menggunakan kantong plastik sama sekali saat pembagian daging kurban.
Melalui pengumuman kepada warga, panitia meminta seluruh penerima kupon membawa wadah sendiri dari rumah sebagai bentuk dukungan terhadap kebijakan ECO Qurban Pemerintah Kota Banjarbaru.
“Sesuai arahan Ibu Wali Kota, kami mengimbau warga penerima kupon pengambilan daging agar membawa tempat atau wadah masing-masing dalam bentuk apa pun, asalkan tidak menggunakan kantong kresek sekali pakai. Semoga ini dapat dipahami seluruh warga,” ujar Supian.
Menurutnya, pelaksanaan kurban tanpa plastik bukan hanya menjalankan imbauan pemerintah, tetapi juga menjadi upaya bersama membangun kesadaran masyarakat menjaga kebersihan lingkungan.
Ia menyebut, sampah plastik dari pelaksanaan kurban selama ini sering menumpuk dan berakhir di saluran air maupun tempat pembuangan sementara. Karena itu, ECO Qurban dinilai menjadi langkah penting untuk mengurangi persoalan sampah sejak dari lingkungan warga.
“Pelaksanaan kurban tahun ini kami targetkan 100 persen tanpa plastik. Semoga ECO Qurban menjadi kebiasaan baru masyarakat sehingga Iduladha tidak hanya membawa keberkahan ibadah, tetapi juga menghadirkan lingkungan yang lebih bersih, sehat, dan nyaman untuk generasi mendatang,” katanya.
Gerakan ECO Qurban di Landasan Ulin Tengah juga terus diperkuat langsung oleh Lurah Landasan Ulin Tengah, H. Faisal Rizal. Menjelang Iduladha, Faisal aktif mengirimkan pesan melalui grup WhatsApp warga dan koordinasi dengan para ketua RT, RW serta panitia kurban agar pembagian daging dilakukan tanpa menggunakan kantong plastik sekali pakai.
Dalam pesannya kepada warga, Faisal menegaskan bahwa keberhasilan ECO Qurban bukan hanya soal mengganti plastik, tetapi membangun budaya masyarakat yang lebih peduli terhadap lingkungan.
Ia menyampaikan apresiasi kepada seluruh RT dan RW yang aktif melakukan sosialisasi, panitia kurban yang menggunakan daun pisang maupun wadah ramah lingkungan, serta warga yang bersedia membawa tempat sendiri saat mengambil daging kurban.
“Pelaksanaan ibadah qurban Iduladha 1447 Hijriah di wilayah kita berlangsung khidmat, lancar, dan yang paling membanggakan bersih, tertib, serta minim sampah plastik sekali pakai,” ujar Faisal.
Menurutnya, langkah RT 15 RW 03 yang menggunakan daun pisang dalam pembagian daging menunjukkan bahwa tradisi lokal bisa kembali dihidupkan sebagai solusi menjaga lingkungan. Sementara langkah RT 05 RW 02 yang mengajak warga membawa wadah sendiri dinilai sebagai bentuk perubahan budaya masyarakat menuju kebiasaan yang lebih bertanggung jawab.
Faisal menilai gerakan tersebut menjadi bukti bahwa masyarakat Landasan Ulin Tengah memiliki kesadaran kolektif menjaga kebersihan kota dari persoalan sampah plastik.
“Ini adalah bukti nyata bahwa warga Landasan Ulin Tengah adalah warga yang sadar lingkungan, disiplin, dan peduli terhadap masa depan kota kita. Dengan mengurangi penggunaan plastik sekali pakai, kita turut menjaga kebersihan selokan, mencegah banjir, dan melindungi ekosistem sungai dari pencemaran,” katanya.
Ia juga mengingatkan panitia kurban agar memastikan limbah organik seperti kulit dan jeroan dimusnahkan atau dikubur sesuai prosedur agar tidak menimbulkan pencemaran lingkungan maupun bau tidak sedap pasca-Iduladha.
Menurut Faisal, keberhasilan ECO Qurban tahun ini harus menjadi budaya baru masyarakat, bukan hanya gerakan sesaat saat Iduladha. Ia berharap semangat menjaga lingkungan terus diterapkan dalam kehidupan sehari-hari warga.
“Terima kasih atas kerja sama, kepatuhan, dan semangat gotong royong seluruh warga Landasan Ulin Tengah. Saya berharap ECO Qurban ini tidak berhenti sampai di sini. Mari kita jadikan kepedulian terhadap lingkungan sebagai budaya bersama. Kalau dari tingkat RT saja kita sudah bisa mengurangi sampah plastik, maka dampaknya akan sangat besar bagi masa depan Banjarbaru yang bersih, sehat, dan nyaman untuk anak cucu kita nanti,” tutup Faisal.(be)
Tidak ada komentar