Creative Talk #7, Ekraf Banjarbaru Dorong Keramik Inklusif Berbasis Potensi Lokal

waktu baca 3 menit
Minggu, 1 Mar 2026 10:50 221 Banjarbaru Emas 2

BANJARBARUEMAS.COM — Tanah liat berwarna pucat itu berputar stabil di atas roda. Perlahan, gumpalan tanpa bentuk menjelma menjadi cangkir presisi di tangan terampil. Tepuk tangan pengunjung pecah di Stand Komite Ekonomi Kreatif (Ekraf) Banjarbaru, Lapangan Murdjani, Minggu (1/3/2026) sore.

Di ruang terbuka itu, seni yang selama ini terasa eksklusif dihadirkan secara inklusif, prosesnya diperlihatkan, nilainya dijelaskan, peluangnya dibuka.

Melalui Creative Talk #7 & Demo Show bertema “Seni Keramik: Dari Exclusive ke Inclusive”, Komite Ekraf menghadirkan Om Bob, Owner Kraamix Studio. Ia memperagakan langsung teknik membentuk tanah liat (wheel throwing), penghalusan, hingga detail finishing, sembari menjelaskan filosofi di balik setiap karya.

Kegiatan yang dimulai pukul 16.00 WITA itu menjadi jawaban atas dua pertanyaan mendasar: bagaimana tanah liat sederhana dapat berubah menjadi karya bernilai tinggi, dan bagaimana seni bisa menjadi ruang belajar terbuka bagi siapa saja. Pengunjung tidak hanya menyimak diskusi, tetapi menyaksikan proses kreatif terjadi di depan mata.

Namun, diskusi tidak berhenti pada teknik dan estetika. Komite Ekraf memperluas pembahasan ke potensi bahan baku lokal di kawasan Cempaka. Lahan bekas galian tambang di wilayah tersebut diketahui memiliki kandungan kaolin, material penting dalam industri keramik karena teksturnya halus, warnanya cerah, dan tahan terhadap suhu pembakaran tinggi.

Ketua Umum Komite Ekraf Banjarbaru, H. Riandy Hidayat, menegaskan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari strategi besar membangun ekonomi kreatif berbasis potensi daerah.

“Kami ingin seni tidak berhenti sebagai tontonan, tetapi menjadi gerakan ekonomi. Banjarbaru memiliki potensi kaolin di Cempaka. Jika ini diteliti, dipetakan, dan dikelola serius, kita bisa membangun industri keramik yang kuat dari hulu ke hilir,” ujar Riandy.

Menurutnya, konsep exclusive to inclusive bukan sekadar tema, melainkan arah kebijakan. Keramik yang dahulu identik dengan studio tertutup dan pasar terbatas kini harus dibuka aksesnya. Masyarakat perlu melihat prosesnya, memahami nilainya, dan menyadari peluang ekonominya.

Komite Ekraf Banjarbaru, lanjut Riandy, mengambil posisi sebagai penghubung antara potensi alam, pelaku usaha, komunitas kreatif, dan pasar. Pendekatan yang dibangun mencakup edukasi publik melalui demo terbuka, dorongan riset kandungan tanah kaolin Cempaka, pelatihan teknis produksi, hingga pendampingan usaha.

Antusiasme pengunjung terlihat dari banyaknya pertanyaan seputar teknik dasar, modal awal, hingga strategi pemasaran produk kriya. Anak-anak dan remaja duduk di barisan depan, menyaksikan langsung bagaimana tanah dipusatkan, ditarik, dan dibentuk menjadi karya siap pakai.

Bagi Komite Ekraf, momentum ini penting untuk menumbuhkan generasi kreatif baru sekaligus mengubah cara pandang terhadap lahan bekas tambang. Dari ruang pasca-eksploitasi menjadi sumber potensi ekonomi baru.

“Potensi lokal tidak akan bernilai jika tidak diolah. Tugas kami adalah memastikan ada ekosistem yang mendukung, dari bahan baku hingga pasar,” pungkas Riandy.

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

LAINNYA