BANJARBARUEMAS.COM – Tepat satu tahun kepemimpinan Wali Kota Banjarbaru Hj. Erna Lisa Halaby, Kota Banjarbaru mencatat capaian ekonomi yang menjadi salah satu indikator keberhasilan pembangunan daerah.
Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Banjarbaru merilis bahwa pertumbuhan ekonomi Banjarbaru tahun 2025 mencapai 6,49 persen, menjadikannya daerah dengan pertumbuhan ekonomi tertinggi di Kalimantan Selatan.
Data yang dipublikasikan melalui Berita Resmi Statistik (BRS) Nomor 01/03/6372/Th.I tanggal 10 Maret 2026 menunjukkan bahwa Banjarbaru tidak hanya mampu mempertahankan momentum pemulihan pascapandemi, tetapi juga berhasil memperkuat fondasi ekonomi daerah di tengah perlambatan ekonomi global.
Secara makro, capaian tersebut memperlihatkan bahwa kebijakan pembangunan daerah mulai menghasilkan dampak nyata. Nilai Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Atas Dasar Harga Berlaku/ADHB mencapai Rp15,505 triliun, sementara PDRB per kapita meningkat menjadi Rp55,62 juta.
Kedua indikator tersebut mencerminkan meningkatnya aktivitas ekonomi, produktivitas masyarakat, dan kapasitas produksi daerah.
Pertumbuhan ekonomi Banjarbaru juga menunjukkan konsistensi dalam lima tahun terakhir. Setelah mengalami kontraksi -1,83 persen pada 2020 akibat pandemi, ekonomi Banjarbaru bangkit menjadi 3,33 persen pada 2021, melonjak 7,93 persen pada 2022, kemudian tetap stabil pada 6,81 persen di 2023, 6,71 persen di 2024, dan 6,49 persen pada 2025. Stabilitas tersebut menjadi indikator bahwa struktur ekonomi Banjarbaru semakin tangguh dan adaptif terhadap dinamika ekonomi nasional maupun global.
Dari sisi produksi, pertumbuhan tertinggi terjadi pada lapangan usaha Penyediaan Akomodasi dan Makan Minum sebesar 10,21 persen. Tingginya pertumbuhan sektor ini menunjukkan semakin berkembangnya ekonomi jasa, industri kuliner, sektor perhotelan, dan aktivitas pariwisata perkotaan.
Selain itu, sektor Perdagangan dan Reparasi tumbuh 9,15 persen, Pendidikan 8,13 persen, Konstruksi 7,26 persen, Transportasi 4,76 persen, serta Administrasi Pemerintahan 3,49 persen.
Sementara dari sisi pengeluaran, pertumbuhan ekonomi didorong oleh Konsumsi Lembaga Nonprofit yang Melayani Rumah Tangga (LNPRT) sebesar 6,22 persen, diikuti Konsumsi Rumah Tangga 5,33 persen, Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) atau investasi sebesar 5,08 persen, dan Konsumsi Pemerintah sebesar 2,84 persen. Struktur ini menunjukkan bahwa pertumbuhan ekonomi Banjarbaru tidak hanya bertumpu pada belanja pemerintah, tetapi juga ditopang oleh meningkatnya konsumsi masyarakat dan investasi.
Kontribusi Banjarbaru terhadap perekonomian Provinsi Kalimantan Selatan juga terus meningkat. Pada tahun 2025, Banjarbaru menyumbang 5,09 persen terhadap total PDRB Kalimantan Selatan dengan laju pertumbuhan 6,49 persen, memperkuat perannya sebagai pusat pemerintahan, perdagangan, jasa, pendidikan, dan investasi di provinsi ini.
Capaian pertumbuhan ekonomi Banjarbaru 2025 sebesar 6,49 persen merupakan akumulasi dari meningkatnya investasi, terjaganya daya beli masyarakat, berkembangnya sektor jasa, serta semakin efektifnya tata kelola pemerintahan. Kombinasi antara stabilitas fiskal, birokrasi yang akuntabel, dan iklim usaha yang kondusif menjadi faktor utama yang menjaga momentum pertumbuhan ekonomi.
Satu tahun pertama kepemimpinan Wali Kota Lisa memang belum cukup untuk mengukur seluruh keberhasilan pembangunan lima tahun ke depan. Namun, indikator makro yang dirilis BPS Kota Banjarbaru memberikan sinyal kuat bahwa arah pembangunan berada pada jalur yang tepat. Tantangan berikutnya adalah memastikan pertumbuhan ekonomi tersebut semakin berkualitas, inklusif, dan mampu menciptakan lebih banyak lapangan kerja, meningkatkan kesejahteraan masyarakat, serta memperkuat daya saing Banjarbaru sebagai ibu kota Provinsi Kalimantan Selatan menuju Banjarbaru EMAS (Elok, Maju, Adil, dan Sejahtera).(be)
253
Tidak ada komentar