BANJARBARUEMAS.COM – Kabut asap yang disebabkan oleh kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) yang senakin meluas di beberapa wiayah kini mulai mengepung sejumlah wilayah di Kota Banjarbaru dan sangat dikeluhkan masyarakat,
Dari pantauan banjarbaruemas.com kawasan Kecamatan Liang Anggang selam dua hari terakhir hingga pukul 07.30 Wita kabut asap masih sangat pekat hingga mengganggu aktivitas masyarakat.
“Sangat mengganggu sekali, kasihan anak-anak yang harus berangkat pagi, mengeluh matanya sakit dan udaranya bau,” terang M Dillah saat ditanya reporter media ini.
Peristiwa maraknya kabut asap membekap sejumlah wilayah ternyata berdampak meningkatkan kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) di Banjarbaru.
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Banjarbaru, dr. Siti Ningsih mengatakan, kenaikan kasus mulai terlihat pada Minggu Epidemiologi ke-29 tahun 2026.
“Ada kenaikan di Minggu ke-29, ada 879 kasus, dan memasuki Minggu ke-30, jumlah kasus kembali meningkat menjadi 1.099 kasus, Sementara secara kumulatif, kasus ISPA di Banjarbaru sejak Januari hingga Juli 2026 mencapai 21.323 kasus,” ucapnya akhir pekan lalu.
Secara epidemiologi, Siti menyampaikan, terdapat hubungan antara paparan asap karhutla dengan peningkatan risiko gangguan saluran pernapasan, termasuk ISPA.
Ia juga menjelaskan, asap kebakaran hutan dan lahan mengandung partikel halus, karbon monoksida, serta zat iritan yang dapat masuk ke saluran pernapasan.
“Kondisi ini menyebabkan batuk, pilek, nyeri tenggorokan, sesak napas hingga memperberat penyakit asma dan penyakit paru kronis,” jelasnya.
Meski demikian, Dinkes Banjarbaru tidak menyebut seluruh kasus ISPA disebabkan karhutla, karena, ISPA juga dapat dipicu oleh infeksi virus dan bakteri, perubahan cuaca, kualitas udara di dalam rumah, hingga paparan asap rokok.
“Pada situasi kabut asap, semua kelompok umur dapat terdampak, namun kelompok rentan memiliki risiko lebih tinggi mengalami gangguan pernapasan, Kelompok yang paling rentan antara lain balita, anak usia sekolah, lansia, ibu hamil, penderita asma, Penyakit Paru Obstruktif Kronis (PPOK), serta penderita penyakit jantung,” terangnya.
Menghadapi kondisi tersebut, Dinkes Banjarbaru mengimbau masyarakat mengurangi aktivitas di luar ruangan ketika kualitas udara memburuk, jika harus beraktivitas di luar, masyarakat disarankan menggunakan masker KN95 atau N95.
Saat kabut asap semakin pekat, warga juga diminta menutup pintu dan jendela rumah untuk mengurangi masuknya asap.
Masyarakat juga dianjurkan menjaga kondisi tubuh dengan cukup minum dan beristirahat, jika mengalami batuk, sesak napas, demam, atau nyeri dada yang tidak membaik, masyarakat diminta segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan.
Untuk diketahui berdasarkan data BPBD Kalimantan Selatan, sepanjang Januari hingga 8 Agustus 2026 tercatat 223 kejadian karhutla dengan luas lahan terdampak mencapai 568,86 hektare.(be)
197
Tidak ada komentar