Nasi Kabuli

waktu baca 4 menit
Kamis, 15 Jan 2026 03:00 265 Banjarbaru Emas 2

BANJARBARUEMAS.COM – Aula Pertemuan Kelurahan Sungai Tiung siang itu tidak hanya menampung orang, tetapi juga suasana. Di bangunan yang berdiri di atas bukit kecil itu, kursi-kursi plastik tersusun rapi menghadap meja Panjang. Focus Group Discussion (FGD) antara Komite Ekonomi Kreatif (KEK) Kota Banjarbaru dengan camat, lurah, tokoh masyarakat, serta kelompok sadar wisata (Pokdarwis) se-Kecamatan Cempaka berlangsung serius, namun jauh dari kesan kaku. Diskusi mengalir santai. Dari sisi kiri aula, aroma gorengan hangat sesekali menyela pembicaraan—diangkat langsung dari wajan warung kecil yang berdempetan dengan gedung pertemuan.

Topiknya berat: penguatan pembangunan berbasis budaya dan ekonomi kreatif melalui konsep Cempaka Living Museum. Sebuah gagasan yang ingin menjadikan wilayah ini sebagai ruang hidup, sejarah, budaya, dan aktivitas masyarakat Banjarbaru.

Namun, di tengah diskusi tentang peta potensi, zonasi kawasan, dan skema kolaborasi, satu hal justru menghangatkan ruangan: nasi kabuli.

Tidak banyak daerah yang menjadikan makanan sebagai bagian dari kebijakan resmi. Banjarbaru pernah melakukannya. Pada 31 Agustus 2016, Wali Kota Banjarbaru saat itu, Nadjmi Adhani, menandatangani Surat Edaran Nomor 065/215/EKONOMI/2016 tentang Penetapan Makanan Khas Tradisional Kota Banjarbaru. Dalam surat itu, nasi kabuli ditetapkan sebagai kuliner khas Banjarbaru.

Lebih dari sekadar pengakuan, surat edaran tersebut memuat imbauan konkret. Pada poin ketiga, disebutkan agar setiap pertemuan atau rapat di lingkungan Pemerintah Kota Banjarbaru sebaiknya menyuguhkan nasi kabuli sebagai menu utama, terlebih saat menerima kunjungan studi banding dari daerah lain.

Pesannya jelas: Banjarbaru ingin dikenang lewat rasa.

Kala itu, pemerintah kota secara konsisten memperkenalkan nasi kabuli dalam berbagai agenda resmi dan festival kuliner. Nasi berbungkus daun pisang ini bukan hanya disajikan, tetapi diceritakan—tentang asal-usulnya, tentang kedekatannya dengan masyarakat, dan tentang maknanya sebagai identitas lokal.

Upaya itu mencapai puncaknya pada Banjarbaru Food and Culinary Festival 2017. Di acara tersebut, nasi kabuli dibuat memanjang hingga 150 meter. Sebanyak 1.400 porsi dihasilkan dan dibagikan kepada masyarakat. Warga berbondong-bondong mendekat, bukan sekadar untuk mencicipi, tetapi juga untuk menjadi bagian dari peristiwa.

Setahun kemudian, pada 2018, Banjarbaru kembali mencatatkan sejarah. Sebanyak 7.019 bungkus nasi kabuli dibagikan, memecahkan Rekor MURI untuk kategori nasi kabuli terbanyak. Bungkus-bungkus daun pisang itu tersusun rapi di atas meja panjang, lalu habis dalam hitungan waktu singkat.

Kecamatan Cempaka kerap disebut sebagai rumah rasa nasi kabuli. Berjarak sekitar 15 kilometer dari pusat kota Banjarbaru, kawasan ini dikenal memiliki sejumlah pembuat nasi kabuli yang mempertahankan cara memasak tradisional. Bagi sebagian warga, nasi kabuli Cempaka memiliki cita rasa yang berbeda—lebih hangat, lebih dalam.

Namun, seperti banyak ikon budaya lainnya, nasi kabuli tak luput dari perubahan zaman. Perlahan, ia menghilang dari meja rapat. Menu-menu praktis menggantikannya. Generasi baru lebih akrab dengan makanan cepat saji ketimbang nasi kabuli berbungkus daun pisang.

Kuliner yang dulu menjadi wajah kota itu kini nyaris tak terdengar. Ia masih ada, tetapi tak lagi dipanggil.

Kesadaran akan situasi ini kembali mengemuka dalam FGD di Cempaka. Di hadapan para pemangku kepentingan lokal, Komite Ekonomi Kreatif Banjarbaru menyampaikan harapan Wali Kota Banjarbaru saat ini, Hj. Erna Lisa Halaby, agar nasi kabuli kembali diangkat sebagai prioritas kuliner khas daerah.

Dorongan ini sejalan dengan upaya membangun Living Museum. Museum hidup tentang keseharian masyarakat—termasuk apa yang mereka masak dan makan.

Ketua Harian KEK Banjarbaru, Narwanto, memiliki pengalaman personal dengan nasi kabuli. Ia mengisahkan hari ketika ia menyantap tiga bungkus nasi kabuli dalam satu kesempatan. Hari itu, katanya, terasa ringan. Aktivitas berjalan lancar. Rapat demi rapat menemukan titik temu.

“Kabuli itu dari kata kabul,” ujarnya. “Doa yang terwujud. Mungkin karena dimasak dengan ketulusan.”

Narasi semacam ini mungkin terdengar sederhana. Namun di situlah kekuatan kuliner tradisional. Ia membawa nilai, keyakinan, dan harapan.

Bagi Banjarbaru, menghidupkan kembali nasi kabuli bukan semata soal nostalgia. Di tengah arus modernisasi yang kerap mengikis penanda lokal, langkah ini menjadi upaya merawat ingatan kolektif sekaligus memperkuat identitas kota. Wali Kota Lisa ingin mengembalikan ingatan bersama tentang nasi kabuli, bahwa karakter sebuah kota juga dibentuk oleh hal-hal kecil yang akrab dengan warganya. Nasi kabuli, dalam konteks ini, bukan sekadar makanan, melainkan pengingat tentang siapa Banjarbaru dan bagaimana ia ingin dikenang.

Di Cempaka, nasi kabuli kembali dibicarakan.(be)

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

LAINNYA