BANJARBARUEMAS.COM – Di Kampung Mbaroh, semua dimulai dari duduk bersama. Dari rembug warga, dari kenduri sebagai ungkapan syukur, dan dari doa yang dipanjatkan bersama. Di kampung yang berada di Kelurahan Landasan Ulin Utara, Kecamatan Liang Anggang, Kota Banjarbaru ini, warga menapaki sebuah jalan panjang bernama Peta Jalan Mbaroh Aero Kalcer 2026—sebuah ikhtiar kolektif menuju Banjarbaru sebagai kota kreatif.
Bagi warga Mbaroh, kebudayaan bukan sekadar warisan masa lalu, melainkan modal sosial untuk membangun masa depan. Itulah sebabnya, kickoff peta jalan yang akan digelar pada Sabtu, 3 Januari 2026, dimaknai sebagai titik awal kesadaran kolektif.
Kickoff ini menjadi langkah awal memperkenalkan Kampung Mbaroh sebagai kampung budaya yang berorientasi pada pengembangan ekonomi kreatif sekaligus kawasan penunjang aerocity. Peluncuran peta jalan tersebut menandai komitmen warga untuk membangun identitas budaya secara terencana, berkelanjutan, dan terhubung dengan agenda pembangunan kota.
Dari Rembug Warga Menuju Peta Jalan
Perjalanan Mbaroh Aero Kalcer bermula dari rembug warga yang digelar sebagai ruang menyatukan ingatan dan harapan. Di ruang itu, warga berbagi cerita tentang kampung, tentang tradisi yang nyaris tergerus, serta tentang keinginan agar Mbaroh tidak sekadar menjadi wilayah penyangga bandara, tetapi juga ruang hidup yang bermakna.
“Kickoff ini adalah titik awal gerakan kolektif warga dalam memposisikan Kampung Mbaroh sebagai bagian penting dari ekosistem kreatif Kota Banjarbaru,” kata Joko Admadi, Ketua Pelaksana kegiatan.
Menurut Joko, keberadaan Kampung Mbaroh di kawasan strategis memberi peluang besar untuk mengembangkan konsep kampung budaya yang terbuka dan inklusif. Melalui peta jalan ini, berbagai program disusun secara bertahap—mulai dari penguatan komunitas seni, pengembangan produk kreatif warga, hingga penataan kawasan berbasis budaya.
Residensial Pemuda: Merawat Budaya, Menyiapkan Regenerasi
Tahap berikutnya berlangsung pada Maret 2026 melalui Residensial Mbahroh Crew Camp. Program ini menjadi ruang belajar bagi pemuda kampung untuk mengelola kegiatan, membangun narasi tentang kampungnya sendiri, sekaligus menerima estafet pengetahuan budaya.
Di sinilah seni reog tidak hanya dipentaskan, tetapi diwariskan sebagai praktik hidup. Pemuda belajar bahwa budaya bukan sekadar pertunjukan, melainkan cara membangun identitas dan kebanggaan kolektif. Proses residensial ini sekaligus memperkuat kapasitas warga dalam pengelolaan event, komunikasi publik, dan ekonomi kreatif skala kampung.
Grebeg Suro: Menjaga Keseimbangan Kerja, Doa, dan Warisan
Memasuki Juni 2026, Kampung Mbaroh menggelar Grebeg Suro: Spirit of Mbahro. Ritual ini menjadi penanda kuat jati diri kampung. Pusaka dan alat-alat tani dikirab, dirawat, dan disyukuri—sebuah simbol bahwa kehidupan kampung bertumpu pada keseimbangan antara kerja, doa, dan penghormatan terhadap leluhur.
Membuka Kampung, Membuka Pengalaman
Pada Agustus 2026, Mbaroh membuka dirinya melalui Tour d’Keboen: Mbahro Aero Farm Experience. Kegiatan ini menggabungkan olahraga, edukasi, dan kuliner dalam satu pengalaman utuh. Warga dan pengunjung berlari bersama dari kawasan bandara menuju kebun, belajar tentang pertanian kampung, lalu makan bersama di alam terbuka.
Hasil tani dan kuliner khas lokal diperkenalkan bukan sebagai komoditas semata, melainkan sebagai cerita hidup kampung. Di sinilah konsep ekonomi kreatif berbasis pengalaman (experience-based economy) menemukan bentuk paling sederhananya—lahir dari kehidupan sehari-hari warga.
Puncak Festival: Gotong Royong sebagai Energi Kreatif
Seluruh rangkaian itu akan bermuara pada Festival Mbaroh Aero Kalcer 2026 pada November 2026. Reog kolosal digelar sebagai simbol kekuatan kolektif. Karya dan usaha warga dipamerkan. Mereka yang bekerja untuk kampung diberi penghargaan.
Festival ini menjadi penanda bahwa gotong royong adalah energi penggerak ekonomi dan budaya. Kampung yang kreatif akan melahirkan kota yang kreatif—sebuah gagasan yang sejalan dengan visi Banjarbaru Emas.
Koordinator Bidang Penyelenggaraan Program dan Kegiatan Ekonomi Kreatif KEK Banjarbaru Emas, Isuur Loeweng Suroto, menegaskan bahwa pendekatan riset dan edukasi menjadi bagian penting dari Mbaroh Aero Kalcer 2026.“Pengembangan kampung budaya harus dirancang agar memberi dampak jangka panjang bagi penguatan ekosistem ekonomi kreatif dan kemandirian masyarakat,” ujarnya.
Dari Kampung Mbahro Menuju Banjarbaru Kota Kreatif
Kickoff peta jalan Mbaroh Aero Kalcer 2026 akan berlangsung mulai pukul 14.30 Wita di Jalan Sumber Murni, Kelurahan Landasan Ulin Utara, dan terbuka bagi masyarakat umum. Prosesi pemotongan tumpeng akan menjadi simbol dimulainya perjalanan panjang ini.
Mbaroh Aero Kalcer adalah laboratorium sosial—tempat warga belajar mengelola tradisi, ekonomi, dan masa depan secara bersama-sama. Dari kampung inilah Banjarbaru belajar bahwa kota kreatif dibangun dari ketekunan merawat yang kecil.
Pelan, namun pasti. Dari niat baik, doa bersama, dan kerja bareng seluruh warga, Kampung Mbaroh menapaki jalannya sebagai laboratorium sosial pembangunan berbasis budaya. Inisiatif ini tidak berhenti sebagai praktik lokal, tetapi diharapkan menjadi model yang dapat direplikasi dan menyebar ke kampung-kampung lain di Banjarbaru.
Dari jejaring kampung kreatif yang tumbuh dari bawah inilah, Banjarbaru sebagai kota kreatif menemukan fondasinya: bertumpu pada partisipasi warga, berakar pada kearifan lokal, dan bergerak maju secara berkelanjutan tanpa melepaskan identitas sosial-budaya yang membentuknya.(be)
560
Tidak ada komentar