Di Rumah Dinas Wali Kota, Luka Abizar Diseka

waktu baca 4 menit
Minggu, 25 Jan 2026 07:10 414 Banjarbaru Emas 2

BANJARBARUEMAS.COM – Abizar (12) menunduk lebih sering dari anak-anak seusianya. Tatapannya kerap jatuh ke lantai sebelum sempat bertemu mata orang lain. Ia bukan anak yang sulit diatur, bukan pula pembuat onar. Abizar hanya berbeda, dan perbedaan itu, di ruang kelasnya, sempat menjadi alasan untuk melukai.

Abizar adalah siswa kelas VI Sekolah Dasar di Kota Banjarbaru. Ia anak yatim piatu, sekaligus anak berkebutuhan khusus. Tubuh dan pikirannya tumbuh dengan ritme yang tak selalu sama dengan anak-anak lain. Dalam keseharian, ia membutuhkan lebih banyak pengertian, lebih banyak kesabaran, dan lingkungan yang aman.

Namun lingkungan itu sempat runtuh ketika seragam sekolahnya dicoret-coret oleh teman sekelas. Coretan tinta yang bagi sebagian orang mungkin dianggap candaan, berubah menjadi beban psikologis bagi Abizar. Ia malu. Ia kehilangan kepercayaan diri. Ia enggan berangkat ke sekolah.

Kondisi Abizar semakin memprihatinkan karena latar belakang keluarganya. Ia anak terakhir dari lima bersaudara. Ayah dan ibu telah meninggal dunia. Kakak-kakaknya menjadi penopang hidup satu-satunya. Mereka bekerja serabutan: satu sebagai petugas kebersihan, satu lagi menjaga stan kebab milik orang lain. Dengan penghasilan terbatas, keluarga ini kerap berpindah-pindah rumah sewaan. Saat ini mereka tinggal di kawasan Jalan Golf, Banjarbaru.

Kesulitan ekonomi membuat pemenuhan kebutuhan sekolah Abizar menjadi tantangan tersendiri. Seragam sekolah yang pernah diberikan Dinas Pendidikan Kota Banjarbaru sebenarnya sudah ada. Namun tubuh Abizar yang terus bertumbuh membuat seragam itu tak lagi cukup di badannya, sebuah detail kecil yang sering luput dari sistem, tetapi sangat terasa bagi seorang anak.

Malam itu, dalam kelelahan menjaga stan kebab, salah satu kakak Abizar menulis pesan panjang melalui pesan langsung (DM) Instagram. Pesan itu ditujukan kepada Wali Kota Banjarbaru, Hj. Erna Lisa Halaby. Isinya  curahan hati seorang kakak yang bingung, cemas, dan takut kehilangan semangat adik bungsunya untuk bersekolah. Bahkan untuk jenjang SMP nanti, keluarga ini masih diliputi kebingungan: apakah Abizar harus masuk Sekolah Luar Biasa (SLB) atau sekolah umum, dengan segala keterbatasan yang mereka miliki.

Pesan itu dibaca langsung oleh Lisa Halaby. Ia merespons cepat.

Abizar dan keluarganya diundang datang ke Rumah Dinas Wali Kota. Kehadiran mereka bertepatan dengan peringatan Isra Mi’raj Nabi Muhammad SAW, yang digelar dalam suasana khidmat dan penuh kepedulian sosial. Di rumah dinas itu, berkumpul anak-anak yatim piatu dan masyarakat. Namun di antara keramaian, Lisa menyempatkan diri berinteraksi langsung dengan Abizar.

Lisa mendekat,  mendengarkan cerita Abizar dengan saksama. Gesturnya sederhana, tetapi sarat makna. Bagi Abizar, perhatian itu menghadirkan rasa aman yang lama hilang.

Dalam kesempatan tersebut, Lisa Halaby memberikan dukungan moril dan santunan kepada anak-anak yatim piatu yang hadir. Secara khusus, ia juga memberikan bantuan dana untuk membeli seragam baru dan perlengkapan sekolah Abizar, agar ia dapat kembali bersekolah dengan layak dan nyaman.
Sebagai Wali Kota, Lisa menyayangkan terjadinya peristiwa perundungan tersebut, terlebih karena menimpa anak yang berada dalam kondisi rentan. Ia menegaskan bahwa sekolah seharusnya menjadi ruang aman bagi setiap anak.

“Anak-anak kita harus mendapatkan perlindungan dan rasa aman di sekolah. Tidak boleh ada perundungan, apalagi terhadap anak yatim piatu yang membutuhkan perhatian lebih,” ujar Lisa Halaby.

Ia juga mengimbau pihak sekolah, para guru, dan orang tua siswa untuk meningkatkan pengawasan serta menanamkan nilai empati, kepedulian, dan saling menghargai sejak dini. Menurutnya, pendidikan bukan hanya soal capaian akademik, tetapi juga pembentukan karakter dan kepekaan sosial.

Risma, kakak Abizar yang bekerja sebagai petugas kebersihan dan turut menemani adiknya ke rumah dinas, tak kuasa menahan haru. Ia baru mengetahui bahwa adiknya telah lebih dulu mencurahkan isi hatinya kepada Wali Kota. Bagi keluarga ini, perhatian yang diberikan bukan sekadar bantuan materi, tetapi pengakuan bahwa Abizar tidak sendirian.

Hari itu, Abizar pulang dengan beban yang lebih ringan. Masalah hidup belum selesai. Keterbatasan ekonomi masih membayangi. Namun ada satu hal yang kembali tumbuh dalam dirinya: keberanian untuk melangkah dan harapan untuk terus bersekolah.

Di Banjarbaru, kisah ini menjadi pengingat bahwa kehadiran pemimpin sering kali dimulai dari hal paling sederhana, mendengar. Dan bagi Abizar, satu pesan yang dibalas, satu undangan yang tulus, telah mengubah seragam yang dicoret menjadi pintu harapan.(be)

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

LAINNYA