Dari Dapur ke Rupiah: Gerakan Pilah Sampah Kelurahan Palam Ubah Limbah Jadi Bernilai
waktu baca 3 menit
Sabtu, 25 Apr 2026 02:58 121 Banjarbaru Emas 2
Foto : Camat Cempaka Hendrawan Maulana didampingi Lurah Palam Zulhulaifah bersama Malik Iberahim dari Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Banjarbaru menyerahkan secara simbolis tong biru (drop point) kepada warga sebagai sarana pemilahan sampah organik di Komplek Lambung Mangkurat Regency, Jumat (25/4/2026).(BE)
BANJARBARUEMAS.COM — Komitmen membangun sistem pengelolaan sampah berbasis masyarakat terus diperkuat di Kelurahan Palam, Kecamatan Cempaka. Pada Jumat (25/4/2026), sosialisasi dan edukasi pemilahan sampah rumah tangga kembali digelar secara berkelanjutan di Komplek Lambung Mangkurat Regency, dengan fokus utama pada pengelolaan sampah organik sejak dari sumbernya, yakni rumah tangga.
Kegiatan ini dihadiri Camat Cempaka Hendrawan Maulana, Lurah Palam Zulhulaifah, perwakilan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Banjarbaru, serta unsur masyarakat mulai dari RT, RW, hingga tokoh lingkungan setempat. Hadir sebagai pemateri, Malik Iberahim, Kasi Penanganan dan Pengurangan Sampah DLH, yang memberikan penguatan teknis sekaligus perspektif kebijakan pengelolaan sampah.
Dalam kesempatan tersebut, pemerintah juga menyerahkan bantuan sarana pendukung berupa tong drop point dan ember tumpuk untuk sampah organik kepada wilayah percontohan di RT 13 dan RT 14 RW 01. Tong drop point yang diserahkan memiliki spesifikasi diameter 40 sentimeter dan tinggi 60 sentimeter, dirancang untuk menampung sampah organik rumah tangga sebelum diolah lebih lanjut.
Ketua RT 13 Tris Iman Sayoga dan Ketua RT 14 Febrian Novi Novandi bersama Ketua RW 01 Eko Budi Setiawan dipercaya menjadi motor penggerak program ini. Kedua RT tersebut dipilih karena memiliki jumlah kepala keluarga terbanyak di Kelurahan Palam sekaligus menghasilkan volume sampah rumah tangga terbesar.
Di awal pemaparannya, Malik Iberahim menegaskan bahwa persoalan sampah harus diselesaikan dari hulunya, yakni rumah tangga.
“Sebagian besar sampah rumah tangga adalah organik. Jika tidak dipilah, maka akan langsung menjadi beban di TPS. Padahal, jika dipisahkan, sampah ini bisa diolah menjadi kompos atau dimanfaatkan untuk kebutuhan lain,” jelasnya.
Ia menambahkan, pemilahan dari sumber juga berdampak langsung terhadap efisiensi sistem pengelolaan sampah kota.
“Langkah sederhana ini jika dilakukan serentak akan memberi dampak besar bagi kota,” katanya.
Camat Cempaka Hendrawan Maulana menegaskan bahwa pendekatan berbasis sumber menjadi strategi paling efektif dalam mengatasi persoalan sampah.
“Pengelolaan sampah tidak bisa lagi hanya mengandalkan sistem angkut dan buang. Kunci utamanya ada di rumah tangga. Jika masyarakat mulai memilah sampah sejak dari dapur masing-masing, maka beban lingkungan akan berkurang secara signifikan,” ujarnya.
Ia juga menekankan pentingnya kolaborasi lintas elemen masyarakat.
“Kita tidak bisa berjalan sendiri. Perlu keterlibatan semua pihak, mulai dari RT, RW, tokoh masyarakat, hingga organisasi kemasyarakatan. Ini adalah gerakan bersama, bukan program sesaat,” katanya.
Yang menarik, Kelurahan Palam tidak hanya berhenti pada aspek edukasi. Pemerintah kecamatan dan kelurahan juga telah membangun kemitraan dengan peternak bebek lokal. Melalui skema ini, sampah organik berupa sisa makanan rumah tangga dibeli dengan harga Rp1.250 per kilogram untuk diolah menjadi pakan ternak.
Inovasi ini menciptakan siklus ekonomi baru di tengah masyarakat. Sampah yang sebelumnya tidak bernilai kini berubah menjadi sumber penghasilan tambahan bagi warga.
“Ini bukan hanya soal lingkungan, tetapi juga ekonomi. Ketika masyarakat merasakan manfaat langsung, maka kesadaran akan tumbuh dengan sendirinya,” ujar Hendrawan.
Pemerintah Kecamatan Cempaka memastikan gerakan ini akan terus diperluas dan diperkuat secara sistematis melalui berbagai forum resmi, mulai dari rapat RT, RW, hingga pertemuan lembaga kemasyarakatan seperti LPM, PKK, karang taruna, dan posyandu. Pendekatan ini dilakukan agar pesan yang dibangun tidak terputus, sekaligus memastikan keterlibatan aktif seluruh elemen masyarakat.
Di akhir kegiatan, seluruh peserta menyatakan komitmen bersama untuk menjadikan pemilahan sampah organik sebagai kebiasaan hidup sehari-hari.
Sebagai penutup, Lurah Palam Zulhulaifah menegaskan bahwa gerakan ini harus menjadi budaya bersama, bukan sekadar kegiatan sesaat.
“Dengan memisahkan sampah organik dari rumah, kita sebenarnya sudah melakukan langkah besar untuk Banjarbaru. Kalau ini kita jadikan kebiasaan sehari-hari, maka lingkungan bersih dan sehat akan terwujud, dan Palam bisa menjadi contoh bagi wilayah lain,” tegasnya.(be)
Tidak ada komentar