Camat Cempaka Gerakkan Warga Palam, Ubah Sampah Jadi Bernilai dari Hulu
waktu baca 3 menit
Selasa, 14 Apr 2026 01:43 165 Banjarbaru Emas 2
Foto : Camat Cempaka Hendrawan bersama Lurah Palam Zulhulaifah turun langsung ke tengah warga saat sosialisasi pemilahan sampah di RT 13 RW 01 Kelurahan Palam, Senin (14/4/2026), sebagai tindak lanjut instruksi Wali Kota Banjarbaru dalam mendorong pengelolaan sampah dari sumbernya.(BE)
BANJARBARUEMAS.COM — Langkah perubahan itu kini bergerak lebih konkret. Studi tiru yang dilakukan Pemerintah Kota Banjarbaru ke Kelurahan Rorotan, Kecamatan Cilincing, Jakarta Utara, tidak berhenti sebagai kunjungan pembelajaran semata. Ia menjelma menjadi arah kebijakan yang segera diturunkan hingga ke tingkat paling bawah: rumah tangga.
Wali Kota Banjarbaru, Hj. Erna Lisa Halaby, secara tegas menginstruksikan seluruh camat dan lurah agar tidak hanya melihat, tetapi benar-benar mengadaptasi sistem pengelolaan sampah modern dan terintegrasi yang berbasis masyarakat.
Arahan tersebut menekankan pentingnya perubahan paradigma dari sekadar membuang sampah menjadi mengelola sampah sebagai sumber daya. “Kita harus bergerak bersama. Camat dan lurah adalah ujung tombak di wilayah. Pastikan pengelolaan sampah dimulai dari sumbernya, dari rumah tangga,” tegasnya.
Instruksi tersebut segera diterjemahkan secara cepat. Kecamatan Cempaka menjadi salah satu yang bergerak progresif. Camat Cempaka, Hendrawan, bersama Lurah Palam, Zulhulaifah, turun langsung ke lapangan membangun kesadaran warga melalui pendekatan partisipatif.
Keduanya mendatangi warga RT 13 RW 01 di Komplek Lambung Mangkurat, Kelurahan Palam, Banjarbaru, pada Senin (13/4/2026). Di lokasi ini, digelar sosialisasi sekaligus diskusi pemilahan sampah yang melibatkan masyarakat secara aktif.
Kegiatan tersebut menjadi ruang dialog antara pemerintah dan warga. Masyarakat diajak memahami perbedaan sampah organik dan anorganik, teknik pemilahan yang tepat, hingga potensi manfaat ekonomi yang dapat diperoleh dari pengelolaan sampah sejak dari sumbernya.
Antusiasme warga terlihat dari keterlibatan aktif dalam diskusi. Mereka mulai memahami bahwa pengelolaan sampah yang baik harus dimulai dari dapur masing-masing, sebelum sampah itu menjadi beban lingkungan.
Upaya ini semakin kuat dengan hadirnya kolaborasi nyata bersama sektor swasta. Di kawasan RT 13 dan RT 14 Kelurahan Palam, lahan milik dr. Rudy, pemilik Hijrah Farm dimanfaatkan sebagai titik pengolahan sampah organik.
Melalui skema kemitraan sederhana namun efektif, sampah organik berupa sisa makanan dari rumah tangga dibeli dengan harga Rp1.250 per kilogram. Sampah tersebut kemudian diolah menjadi pakan ternak bebek, menciptakan siklus ekonomi baru di tengah masyarakat.
Model ini tidak hanya mengurangi timbunan sampah, tetapi juga memberikan insentif langsung kepada warga. Dari sesuatu yang sebelumnya dianggap tidak bernilai, kini berubah menjadi sumber penghasilan tambahan.
Pemerintah kecamatan dan kelurahan di wilayah Cempaka memastikan gerakan ini tidak berhenti sebagai kegiatan sesaat. Di bawah koordinasi Kecamatan Cempaka, edukasi terus diperluas dan diperkuat melalui berbagai forum resmi, mulai dari rapat RT, RW, hingga pertemuan lembaga kemasyarakatan kelurahan (LKK). Pendekatan ini dilakukan secara sistematis dan berkelanjutan, agar pesan yang dibangun tidak terputus di tengah jalan.
“Sebagai penggerak di tingkat wilayah, kami memastikan seluruh jajaran hingga RT aktif mengawal perubahan perilaku masyarakat. Memilah sampah bukan lagi pilihan, tetapi tanggung jawab bersama yang harus ditanamkan sejak dini di setiap keluarga sebagai fondasi menuju lingkungan yang bersih dan berkelanjutan,” tegas Hendrawan.
Sinergi antara pemerintah, masyarakat, dan sektor swasta di Cempaka menunjukkan bahwa instruksi wali kota hidup dalam tindakan nyata di lapangan.
Gerakan ini mungkin dimulai dari satu RT, satu kelurahan. Namun, dengan konsistensi dan kolaborasi, ia berpotensi menjadi model yang direplikasi di seluruh wilayah Banjarbaru.
Di tengah upaya tersebut, Camat Cempaka menegaskan komitmennya untuk terus mengawal gerakan ini agar berjalan berkelanjutan dan memberikan dampak luas bagi masyarakat.
“Ini adalah gerakan perubahan. Kami ingin memastikan masyarakat benar-benar terbiasa memilah sampah dari rumah. Dengan kolaborasi antara pemerintah, warga, dan pelaku usaha, kami optimistis tujuan besar itu bisa tercapai, sebagaimana instruksi Ibu Wali Kota, Banjarbaru bebas sampah dimulai dari sumbernya,” pungkasnya.(be)
Tidak ada komentar