Abdul Karim, Ketua RT Mentaos Banjarbaru, Hadiri GIHES 2026, Pelajari Pendidikan Pesantren dan AI

waktu baca 4 menit
Sabtu, 12 Sep 2026 01:41 109 Banjarbaru Emas 2

BANJARBARUEMAS.COM — Abdul Karim, Ketua RT 02/RW 04 Kelurahan Mentaos, Kota Banjarbaru, Kalimantan Selatan, menghadiri Global Islamic Holistic Education Summit (GIHES) 2026 di Ballroom Hotel Borobudur, Jakarta, Sabtu (5/9/2026).

Forum bertajuk “Exploring and Revealing the Pesantren Education System” itu mempertemukan ratusan tokoh pendidikan Islam dari dalam dan luar negeri untuk membahas perkembangan pendidikan pesantren, mulai dari kurikulum, kepemimpinan, pengelolaan kelembagaan hingga tantangan pendidikan di tengah perkembangan teknologi.

Bagi Karim, forum tersebut menjadi kesempatan untuk memperluas wawasan mengenai bagaimana pesantren modern dikelola dan dikembangkan.

“Acara ini sangat baik bagi saya membuka wawasan bagaimana sebuah pesantren modern dikelola secara holistik. Setelah mendengar berbagai metode pendidikan Islam di berbagai belahan bumi, saya merasa sistem Gontor layak menjadi standar pendidikan agama di dunia,” ujar Abdul Karim.

Keterlibatan Karim dalam GIHES 2026 sejalan dengan kiprahnya di bidang pendidikan. Selain menjadi Ketua RT 02/RW 04 Kelurahan Mentaos, ia tercatat sebagai Ketua Yayasan Pendidikan Pondok Darul Hijrah Putri Martapura.

Di lingkungan masyarakat, Karim juga dikenal aktif menggerakkan warga. RT 02/RW 04 Kelurahan Mentaos yang dipimpinnya berhasil meraih Juara I Lomba Kebersihan Lingkungan Kota Banjarbaru 2026.

Keberhasilan tersebut menunjukkan keterlibatan warga dalam menjaga lingkungan sekaligus membangun kebiasaan bersama.
Bagi Karim, pengalaman menggerakkan masyarakat itu menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari perannya sebagai ketua RT.

Dari lingkungan masyarakat itulah Karim kemudian mengikuti forum pendidikan yang membahas bagaimana nilai, kedisiplinan, tanggung jawab dan kemandirian dibangun melalui kehidupan pesantren.

Pembukaan GIHES 2026 diawali sambutan Pimpinan Pondok Modern Darussalam Gontor (PMDG), Drs. KH. M. Akrim Mariyat, Dipl.A.Ed.

Dalam sambutannya, Akrim menegaskan bahwa melalui GIHES, Gontor ingin menunjukkan kepada dunia bahwa sistem pendidikan pesantren dapat menjadi rujukan model pendidikan masa depan tanpa meninggalkan akar nilai-nilai keislaman.

Akrim menjelaskan filosofi pendidikan Gontor melalui ungkapan yang menjadi pengingat bagi para santri.

“Di Gontor ada ungkapan, ‘Ke Gontor, apa yang kau cari?’ yang merupakan pengingat bagi para santri untuk selalu menyadari apa yang ia cari di Gontor: pendidikan lahir, batin, mental, dan seluruh nilai kehidupan yang ada,” ujar Akrim.

“Oleh karenanya, seluruh kehidupan yang ada di pesantren adalah pendidikan, dan itulah yang menjadikan kurikulum Gontor sebagai kurikulum kehidupan yang holistik,” katanya.

Dalam forum tersebut, sistem pesantren modern dibahas melalui keterpaduan pendidikan formal, kokurikuler dan ekstrakurikuler. Sekolah, keluarga dan masyarakat juga ditempatkan sebagai bagian dari lingkungan pendidikan.

Pendidikan tidak hanya diarahkan pada penguasaan ilmu agama. Pembelajaran sains juga mendapat tempat sehingga tidak terjadi pemisahan antara ilmu agama dan ilmu pengetahuan.

GIHES 2026 juga mengangkat sejumlah isu yang berkaitan dengan tantangan pendidikan saat ini. Di antaranya kesehatan mental di lingkungan pesantren, penguatan kurikulum, tata kelola kepemimpinan, pengembangan kelembagaan, serta pemanfaatan teknologi dan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI).

Perkembangan AI menjadi salah satu tantangan baru bagi dunia pendidikan. Teknologi membuka peluang untuk mendukung proses pembelajaran, tetapi pada saat yang sama menuntut kesiapan lembaga pendidikan dalam mengarahkan penggunaannya.

Pembahasan tersebut menempatkan teknologi sebagai bagian dari perubahan yang perlu direspons dunia pendidikan, tanpa mengesampingkan pembentukan karakter dan nilai-nilai yang menjadi dasar pendidikan.

GIHES 2026 diikuti 283 peserta dari 209 lembaga, terdiri atas 160 pesantren, 15 perguruan tinggi, 22 sekolah dan tujuh organisasi.

Peserta datang dari berbagai daerah di Indonesia, antara lain Jawa Tengah, Jawa Barat, Jawa Timur, Kalimantan Selatan, Sumatera Utara, Sulawesi Selatan, Aceh hingga Papua.

Peserta dari luar negeri juga hadir, seperti Malaysia, Brunei Darussalam, Tiongkok, Turki, Mesir hingga Amerika Serikat.

Pembukaan forum turut dihadiri Pimpinan PMDG lainnya, KH Hasan Abdullah Sahal, beserta jajaran Anggota Badan Wakaf selaku lembaga tertinggi di PMDG.

Ketua MPR RI, H. Ahmad Muzani, hadir sebagai tamu kehormatan. Ia diketahui telah memberikan dukungan terhadap GIHES sejak forum tersebut pertama kali dicanangkan.

Bagi Karim, pertemuan dengan peserta dari berbagai latar belakang memberikan perspektif lebih luas tentang perkembangan pendidikan Islam. Pengalaman tersebut juga memiliki relevansi dengan keterlibatannya sebagai pengelola yayasan pendidikan dan penggerak masyarakat di Banjarbaru.

Di Kelurahan Mentaos, ia berhadapan langsung dengan berbagai kebutuhan warga. Sementara melalui yayasan pendidikan, ia bersentuhan dengan pengelolaan lembaga dan proses pendidikan.

Karena itu, pembahasan di GIHES tidak berhenti sebagai pengetahuan baru. Forum tersebut menjadi ruang untuk melihat bagaimana pendidikan, kepemimpinan dan pembentukan karakter dapat diterapkan dalam lingkungan yang lebih luas.

Pengalaman mengikuti GIHES 2026 sekaligus memperkaya perspektif Karim mengenai tantangan pendidikan ke depan. Perubahan teknologi, termasuk AI, menuntut lembaga pendidikan untuk terus beradaptasi, sementara nilai, karakter dan tanggung jawab tetap menjadi bagian penting dalam menyiapkan generasi.

Dari Banjarbaru, Karim membawa pengalaman menggerakkan warga di tingkat RT. Dari Jakarta, ia mendapatkan wawasan tentang perkembangan pendidikan pesantren yang dibahas bersama peserta dari berbagai daerah dan negara.

Pertemuan dua pengalaman tersebut menjadi bekal bagi Karim untuk melihat bahwa pendidikan tidak hanya berlangsung di ruang kelas. Lingkungan masyarakat juga memiliki peran dalam membentuk kebiasaan, kedisiplinan, kepedulian dan tanggung jawab.

Kehadiran Abdul Karim di GIHES 2026 pun menjadi bagian dari perjalanan seorang Ketua RT Banjarbaru yang tidak hanya aktif mengurus lingkungan, tetapi juga terus memperluas wawasan melalui dunia pendidikan dan forum yang mempertemukan pemikiran Islam dari berbagai wilayah.(be)

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

LAINNYA